
alazharheritage.com – 7 Alasan Mengapa Banyak Muslim Belum Mempersiapkan Pemakaman. Banyak Muslim belum mempersiapkan pemakaman karena menganggap belum perlu, belum mendesak, atau masih bisa ditunda. Padahal dalam Islam, kematian bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian yang waktunya sepenuhnya rahasia Allah.
Ironisnya, saat kematian benar-benar datang, keluarga sering berada dalam kondisi paling rapuh: sedih, panik, dan tidak siap mengambil keputusan besar. Artikel ini mengulas 7 alasan paling umum mengapa orang beriman menunda mempersiapkan makam, lalu meluruskannya dengan dalil syar’i, realitas lapangan, dan perspektif pemakaman syariah yang berorientasi pada ketenangan keluarga dan keberlanjutan doa.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Namun mengapa persiapan justru sering diabaikan?
1. “Kematian Itu Nanti Juga Ada yang Mengurus”
Alasan umum:
Banyak orang merasa tidak perlu repot menyiapkan makam karena yakin keluarga, anak, atau kerabat pasti akan mengurus ketika wafat.
Mengapa ini keliru:
Justru di saat duka mendalam, keluarga berada pada kondisi emosional, panik, dan lemah. Menyerahkan semuanya pada mereka berarti menambah beban di hari paling berat dalam hidup mereka.
Perspektif Islam:
Rasulullah ﷺ mengajarkan prinsip raf‘ul haraj (menghilangkan kesulitan). Menyiapkan pemakaman sejak hidup adalah bentuk kasih sayang kepada keluarga, bukan egoisme.
2. “Kematian Masih Jauh”
Alasan umum:
Merasa usia masih produktif, sehat, dan aktif, sehingga persiapan makam dianggap terlalu dini.
Fakta lapangan:
Tidak sedikit jenazah yang dimakamkan hari ini berasal dari usia produktif: 30–50 tahun. Kematian tidak menunggu pensiun, tidak menunggu anak mandiri.
Allah berfirman:
“Tiada seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Menunda karena merasa “masih lama” adalah ilusi waktu.
3. “Dana Lebih Baik untuk Kebutuhan yang Lebih Mendesak”
Alasan umum:
Pendidikan anak, rumah, usaha, atau investasi dinilai lebih prioritas daripada makam.
Pelurusan:
Pemakaman bukan lawan dari kebutuhan hidup, tetapi bagian dari perencanaan hidup Muslim yang utuh. Seperti asuransi syariah, tabungan haji, dan wakaf, makam adalah kebutuhan pasti, bukan spekulatif.
Ironisnya, banyak keluarga akhirnya mengeluarkan biaya lebih besar secara mendadak saat kematian datang tanpa persiapan.
4. “Menyiapkan Makam Itu Seperti Mengundang Kematian”
Alasan emosional:
Ada ketakutan batin: seolah menyiapkan makam berarti mempercepat ajal.
Jawaban yang menenangkan:
Ajal tidak pernah dipercepat atau diperlambat oleh perencanaan manusia. Allah telah menetapkannya sejak ruh ditiupkan.
Menyiapkan makam justru seperti:
- Menyiapkan kain kafan (sunnah)
- Menulis wasiat
- Melunasi hutang
Semua ini tidak mengundang kematian, tapi menunjukkan kesadaran iman.
5. “Yang Penting Amal, Makam Tidak Penting”
Alasan idealis:
Sebagian orang menganggap makam hanyalah tanah, yang penting adalah amal.
Pelurusan yang proporsional:
Benar, amal adalah yang utama. Namun Islam mengajarkan kesempurnaan adab, termasuk adab setelah wafat:
- Pemakaman yang jelas dan tertata
- Mudah diziarahi
- Tidak hilang atau rusak
Ziarah kubur dianjurkan Rasulullah ﷺ karena menghidupkan doa dan ingatan. Makam yang terurus memudahkan keluarga terus mendoakan, bukan melupakan.
6. “Nanti Juga Dapat Tempat”
Realita pahit:
Di kota besar seperti Jakarta, Depok, Bekasi dan sekitarnya lahan pemakaman Muslim semakin terbatas. Banyak kasus:
- Makam tumpang tindih
- Pemindahan jenazah
- Area ziarah sempit dan tidak layak
Menyiapkan makam sejak hidup adalah bentuk ikhtiar agar dikuburkan secara terhormat, sesuai syariah, tanpa menyusahkan siapa pun.
7. “Belum Ada Contoh di Sekitar Saya yang Menyiapkan Lahan Makam”
Alasan sosial:
Karena lingkungan belum banyak yang menyiapkan makam lebih awal, maka dianggap tidak lazim.
Faktanya:
Kesadaran ini justru mulai tumbuh di kalangan Muslim terdidik dan visioner. Mereka ingin:
- Pemakaman syariah yang tertata
- Lingkungan hijau dan tenang
- Fasilitas ziarah yang memuliakan keluarga
Itulah 7 Alasan Mengapa Banyak Muslim Belum Mempersiapkan Pemakaman.
Mengapa Persiapan Pemakaman Perlu Dipikirkan Lebih Jauh?
Setelah meluruskan tujuh alasan di atas, muncul satu kesadaran penting:
jika pemakaman memang pasti, maka yang perlu dipilih adalah “bagaimana” dan “di mana” kita dimakamkan.
Dalam Islam, bukan hanya proses fardu kifayah yang penting, tetapi juga:
- kemudahan keluarga berziarah,
- keterjagaan adab dan kehormatan jenazah,
- serta keberlanjutan doa dari anak dan keturunan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika anak Adam meninggal, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Pertanyaannya: bagaimana agar doa anak dan keluarga itu benar-benar terus mengalir?
Pemakaman yang Tertata, Tenang, dan Layak Diziarahi: Faktor yang Sering Dilupakan
Banyak keluarga ingin rutin berziarah, namun terhalang oleh kondisi makam:
- lingkungan sempit dan panas,
- makam sulit ditemukan,
- area becek, tidak terawat,
- tidak ramah bagi orang tua dan lansia.
Akibatnya, ziarah perlahan berkurang. Bukan karena lupa, tetapi karena tidak nyaman dan melelahkan.
Di sinilah konsep pemakaman syariah modern menjadi penting:
bukan untuk kemewahan, melainkan untuk memuliakan jenazah dan memudahkan keluarga beribadah.
Al-Azhar Memorial Garden: Ikhtiar Tenang untuk Akhir yang Terhormat

Salah satu ikhtiar yang dipilih banyak keluarga Muslim hari ini adalah Al Azhar Memorial Garden — sebuah kawasan pemakaman syariah yang dirancang bukan hanya sebagai tempat peristirahatan, tetapi ruang doa lintas generasi.
Beberapa keunggulan yang sering menjadi alasan ketenangan keluarga:
- ✅ Syariah sejak niat hingga praktik, tanpa ritual menyimpang
- ✅ Lingkungan bersih, hijau, rapi, dan tertata
- ✅ Bebas biaya perawatan selamanya, tidak membebani ahli waris
- ✅ Akses ziarah nyaman, termasuk bagi orang tua dan pengguna kursi roda
- ✅ Suasana tenang dan indah, mendukung kekhusyukan doa
- ✅ Makam mudah dikenali, sehingga tidak hilang dan tidak terlupakan
Banyak keluarga bersaksi, ketenangan mereka bukan hanya saat pemakaman, tetapi bertahun-tahun setelahnya, ketika ziarah menjadi momen rindu yang damai, bukan beban.
Penutup: Menyiapkan dengan Iman, Menenangkan yang Ditinggalkan
Menyiapkan pemakaman bukan tanda menyerah pada kematian, tetapi bukti bahwa kita hidup dengan kesadaran iman. Kita tidak sedang menyiapkan kematian, melainkan menyiapkan ketenangan — bagi diri kita dan orang-orang yang kita cintai.
Jika kelak kita wafat, semoga:
- makam kita mudah didatangi,
- doa keluarga tidak terhalang,
- dan tempat peristirahatan kita menjadi pengingat, bukan kesulitan.
Karena pada akhirnya, rumah terakhir yang baik adalah yang membuat keluarga tenang untuk terus mendoakan.
Baca Artikel Lainnya :
Rumah Terakhir yang Layak Kita Persiapkan: Makna Makam, Doa, dan Warisan untuk Keluarga Muslim
Ketika Air Menggenang di Liang Lahat, dan Allah Menunjukkan Tempat Kembali yang Lebih Tenang
Manfaat Ziarah Kubur bagi Mayit dan Peziarah Menurut Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Apakah Menyiapkan Makam Lebih Awal Mengundang Kematian Lebih Cepat? Ini Penjelasan Lengkapnya

