photo_2025-11-03_15-00-12

Fardhu Kifayah Yang Disalah Artikan: Mengandalkan Orang Lain Saat Wafat

Fardhu Kifayah Yang Disalah Artikan
Prosesi Pemakaman

Pernyataan yang Terlihat Benar, Tapi Bisa Menjerumuskan

Sebagian orang berkata dengan ringan:

“Nanti juga kalau saya mati, orang akan urus. Itu fardhu kifayah.”

Benar, pemakaman adalah fardhu kifayah.
Tapi apakah kita berhak menyerahkan semua urusan kemuliaan jenazah kita kepada orang yang masih hidup…
tanpa sedikit pun ikhtiar selagi kita sehat?

Itu bukan tawakal.
Itu menunda tanggung jawab yang sudah Allah ingatkan berkali-kali:

“Dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
QS. Al-Hasyr: 18

Setiap kita bertanggung jawab atas kehormatan diri bahkan setelah wafat.


🕌 1. Kewajiban Orang Hidup Bukan Alasan Kita Melepas Tanggung Jawab

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya memuliakan jenazah seorang muslim adalah haknya atas muslim lainnya.”
(HR. Muslim)

Justru karena itu:

  • jangan persulit keluarga saat mereka sedang menangis,
  • jangan biarkan mereka mencari-cari lahan di tengah duka,
  • jangan jadikan cinta mereka bercampur kepanikan.

Fardhu kifayah bukan lisensi untuk lepas tangan.
Tapi peringatan agar kita tidak membebani orang lain.


🌿 2. Realita: Jakarta Bukan Lagi Seperti Zaman Dulu

Sebagian masih berpikir:

“Tenang saja, masih banyak tanah kosong.”

Itu anggapan kuno.

Faktanya hari ini:

  • Jakarta kehabisan lahan pemakaman
  • Banyak TPU hanya mampu bertahan 2–3 tahun lagi
  • Sistem tumpang semakin meluas
  • Makam bisa hilang dan diganti jika tidak ada yang mengurus

Dan jika kubur kita nanti:

❌ letaknya di sudut sempit
❌ dekat pembuangan sampah
❌ nisan tertutup tanah dan ilalang
❌ nama hilang sebelum cucu tahu membacanya

Maka siapa yang akan mendoakan kita?

Bukan hanya hilang kehormatan…
tapi hilang jalan doa untuk kita.


🕌 3. Iman Menuntun Kita Untuk Memuliakan Perjalanan Akhir

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kubur adalah awal dari tempat-tempat akhirat.”
(HR. Tirmidzi)

Jika awalnya saja sudah semrawut dan tidak terjaga adabnya,
bagaimana kita berharap akhir perjalanan itu penuh kemuliaan?

Allah memberi akal, rezeki, dan kesempatan
agar kita mempersiapkan akhir dengan baik.

Bukan menunggu orang lain melakukannya untuk kita.


🌿 4. Jangan Egois: Kita Tidak Hidup Sendirian

Kita sering lupa…

Saat kita meninggal,
yang pusing adalah anak-anak kita.

  • izin harus diurus cepat,
  • tanah harus ditemukan segera,
  • biaya tidak kecil,
  • keputusan harus diambil di tengah air mata.

Jika semuanya sudah kita persiapkan:

✅ duka tetap ada
✅ tapi kepanikan hilang
✅ keluarga merasa sangat ditolong

Itu cara kita mencintai mereka bahkan ketika kita sudah tak mampu memeluk mereka lagi.


💔 5. Jika Kita Dimakamkan di Tempat Tak Layak, Siapa yang Salah?

Bayangkan…

Anda orang yang taat,
kaya,
dimuliakan banyak orang selama hidup…

Lalu harus dikuburkan:

  • di pojok dekat tong sampah,
  • nisan dilangkahi peziarah lain,
  • rumput liar menutupi nama,
  • tidak ada yang tahu lagi Anda pernah ada.

Bukan karena keluarga tidak cinta.
Tetap karena Anda tidak mempersiapkan cinta terakhir untuk diri sendiri.


🌿 6. Solusi Mulia: Menyelamatkan Kehormatan Sebelum Terlambat

Allah memberi kita pilihan untuk:

✅ memastikan syariat terjaga
✅ memastikan kehormatan kubur
✅ memastikan doa mudah dihantarkan
✅ memastikan keluarga tidak dipusingkan

Melalui pemakaman muslim yang terawat seperti
Al Azhar Memorial Garden:

  • tidak ditumpang
  • lingkungan muslim
  • arah kiblat seragam
  • perawatan selamanya
  • akses nyaman untuk ziarah

Karena kehormatan jenazah bukan permainan.
Itu hak setiap muslim yang harus dipenuhi.


🌸 Penutup: Persiapan Makam Adalah Kecerdasan Iman

Jangan sampai:

  • kita hanya menjadi beban terakhir bagi keluarga,
  • padahal ketika hidup, kita mampu memudahkan mereka,
  • dan kelak kita berharap mereka mengingat kita dalam doa.

“Yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya.”
(HR. Tirmidzi)

Persiapan makam bukan tentang takut mati,
tapi cinta yang mengalahkan ego.

Baca Artikel Lainnya

Mengapa Kita Harus Memilih Tetangga Akhirat dengan Hati-hati?

Persiapan Makam: Antara Prioritas, Kesiapan Dana, dan Jalan Kebaikan untuk Semua

Mengapa Kita Harus Memilih Tetangga Akhirat dengan Hati-hati?

Ketika Waktu Terus Berjalan: Antara Kavling Makam Keluarga, TPU, dan Al Azhar Memorial Garden

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *