
alazharheritage.com – “Wafat di Tanah Suci…”. Sebuah Cita-Cita Mulia, Namun Perencanaan Tetap Harus Disiapkan.
“Saya berharap nya mau meninggal di tanah suci… di Madinah atau di Mekkah. Aamiin ya Rabb.”
Ucapan sederhana ini menyentuh hati banyak orang.
Karena siapa di antara kita yang tidak menginginkan akhir yang indah?
Wafat di Tanah Haram, di bumi para Nabi,
di tempat kebaikan mengalir dan rahmat turun—
adalah harapan yang tak salah, bahkan dianjurkan untuk diimpikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang mampu mati di Madinah, hendaklah ia mati di sana.
Karena aku akan memberikan syafaat bagi orang yang mati di sana.”
(HR. Ahmad)
Maka wajar jika banyak muslim memendam doa:
“Ya Allah, jadikan akhirku indah.”
Tetapi ada satu hal yang sering terlupa…
Harapan itu indah,
namun hidup menuntut perencanaan, bukan sekadar keinginan.
🕌 Rahasia Kematian: Tak Ada yang Bisa Memilih Tempat Wafat
Kita boleh berharap,
kita boleh berdoa,
kita boleh merindukan Tanah Haram…
Tetapi ajal tidak tunduk pada rencana kita.
Tidak ada jaminan kita wafat di Mekah.
Tidak ada kepastian kita dipanggil di Madinah.
Tidak ada seorang pun tahu di tanah mana ia akan menghembuskan nafas terakhir.
Allah sudah berfirman tegas:
“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.”
— QS. Luqman: 34
Artinya:
harapan boleh… tetapi persiapan tetap harus ada.
Ini bukan tentang pesimis,
tetapi tentang kedewasaan iman.
🌿 Jika Takdir Tidak Mengizinkan Kita Wafat di Tanah Suci…
Bagaimana bila Allah memanggil kita:
- di rumah,
- di perjalanan,
- di kota tempat kita tinggal sekarang,
- jauh dari Tanah Haram?
Apakah keluarga sudah siap?
Apakah tempat pemakaman sudah jelas?
Atau mereka harus mencari tergesa-gesa sambil menangis?
Apakah makam kita nanti:
- ditumpang?
- berdesakan?
- dilangkahi peziarah?
- berada dekat TPS?
- hilang dalam 5–10 tahun karena tidak dirawat?
Harapan wafat di Tanah Haram adalah doa.
Tapi mempersiapkan rumah terakhir adalah ikhtiar.
Doa tanpa ikhtiar adalah harapan kosong.
Ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan.
Keduanya harus berjalan bersama.
🕌 Perencanaan Bukan Tanda Tidak Percaya Rezeki Takdir
Sebagian orang berkata:
“Saya tidak perlu menyiapkan makam.
Kalau Allah kehendaki, saya meninggal di Madinah.”
Betul.
Allah Maha Kuasa memindahkan kita ke Tanah Haram jika Dia menghendaki.
Tetapi Rasulullah ﷺ mengajarkan:
“Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.”
(HR. Tirmidzi)
Artinya:
buatlah perencanaan, lalu pasrahkan hasilnya kepada Allah.
Menyiapkan makam bukan berarti menolak takdir indah.
Justru menjadi tanda bahwa kita:
✅ menghormati diri sendiri
✅ menghormati keluarga
✅ memuliakan perjalanan akhir
✅ menjaga adab syariat
✅ tidak merepotkan anak cucu
Kita tetap berharap wafat di Mekah…
namun jika Allah menakdirkan wafat di Jakarta,
kita sudah siap dengan cara yang paling terhormat.
🌿 Mengapa Al Azhar Memorial Garden Menjadi Jalan Tengah yang Paling Tenang

Jika kita tidak wafat di Tanah Suci…
setidaknya kita dimakamkan di tempat yang:
✅ seluruhnya muslim
✅ adab ziarah terjaga
✅ suasananya seperti taman surga
✅ tidak ditumpang selamanya
✅ dirawat seumur hidup
✅ mudah diziarahi hingga generasi cucu-cicit
Inilah bentuk cinta yang paling jujur kepada diri sendiri dan keluarga:
Dimuliakan saat lahir, dimuliakan saat hidup, dan dimuliakan saat wafat.
Ziarah di Al Azhar bukan sekadar kunjungan,
tapi pertemuan yang menenangkan jiwa.
Dan siapa tahu…
dengan memuliakan rumah terakhir di dunia,
Allah memuliakan rumah terakhir kita di akhirat.
🌸 Penutup: Harapan Itu Langit, Perencanaan Itu Bumi
Boleh berharap wafat di Mekah.
Boleh merindukan Madinah.
Itu doa yang indah.
Namun bumi tempat kita hidup
harus tetap kita persiapkan.
Harapan tanpa ikhtiar adalah keinginan.
Ikhtiar tanpa harapan adalah kekeringan.
Keduanya harus berjalan seimbang.
Semoga Allah memuliakan akhir hidup kita.
Dan bila tidak di Tanah Haram,
semoga kita dimakamkan di tempat yang terjaga, bersih,
dan penuh doa…
🌿 Al Azhar Memorial Garden
Karena kita tidak tahu di mana akan dipanggil,
tapi kita bisa memilih bagaimana kita dimuliakan ketika dipanggil.
Baca Artikel Lainnya :
Mahal Banget Makam Al Azhar… ”Benarkah? Atau Kita Sedang Membandingkan Dua Hal yang Berbeda?”
Sendirian di Apartemen: Ketakutan Sunyi Tentang Pemulasaran Jenazah yang Jarang Diucapkan
Ketika Makam Orang Tua Ada di Kampung, Namun Kita Tak Mampu Merawatnya
Keuntungan Spiritual dari Mensyiarkan Al Azhar Memorial Garden
