photo_2025-11-09_16-27-13

Adab dan Hukum Menyiapkan Lahan Makam dalam Islam

Adab dan Hukum Menyiapkan Lahan Makam dalam Islam

alazharheritage.comAdab dan Hukum Menyiapkan Lahan Makam dalam Islam

Setiap Muslim meyakini firman Allah, “Kullu nafsin dzaa’iqatul maut”Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. (QS. Ali ‘Imran: 185).

Kematian adalah hal yang pasti, namun anehnya, tidak semua orang memikirkan dimana ia akan beristirahat terakhir. Padahal, tempat peristirahatan itu adalah bab terakhir dari perjalanan hidup yang kita bangun sepanjang puluhan tahun.

Dalam Islam, memuliakan jenazah bukan sekadar menguburkan. Ia adalah rangkaian adab yang dijaga Rasulullah ﷺ agar seorang Muslim dimuliakan saat menutup hidup di dunia. Di sinilah pentingnya memahami apa yang menjadi tuntunan syariah, apa yang menjadi tanggung jawab keluarga, dan apa yang menjadi ikhtiar pribadi untuk menutup bab kehidupan dengan penuh hormat.


Adab dan Hukum Pemakaman yang Jarang Bisa Kita Jalankan di Kota Besar

Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk menyegerakan pemakaman (HR. Bukhari dan Muslim). Semakin cepat pemakaman dilakukan, semakin baik bagi jenazah dan keluarga. Namun faktanya, di kota-kota besar seperti Jakarta, proses pemakaman sering tertunda hanya karena satu hal: mencari lahan. Antrian panjang, administrasi ruwet, dan lokasi yang terbatas membuat adab ini sering terabaikan.

Adab lainnya adalah menguburkan jenazah menghadap kiblat, memisahkan Muslim dan non-Muslim, serta tidak melangkahi kuburan saat ziarah. Semua ini adalah bagian dari kehormatan jenazah. Namun, padatnya TPU, petak tak beraturan, hingga area campuran membuat adab-adab tersebut sulit dilakukan. Kehormatan sering kalah oleh keterbatasan ruang.

Bukan masyarakat yang tidak ingin menjalankan adab syar’i. Tetapi kondisi lahannya memang tidak memungkinkan.


Meluruskan Salah Kaprah Tentang Fardhu Kifayah

Selama ini banyak orang mengira bahwa urusan pemakaman, termasuk mencari lahan, adalah bagian dari fardhu kifayah. Padahal, para ulama sepakat bahwa fardhu kifayah dalam urusan jenazah hanya empat:

  1. memandikan,
  2. mengkafani,
  3. menshalatkan, dan
  4. menguburkan.

Menyiapkan lahan makam bukan fardhu kifayah, sehingga tidak otomatis ditanggung masyarakat atau pemerintah.
Itu adalah ikhtiar pribadi dan tanggung jawab keluarga agar empat kewajiban fardhu kifayah itu bisa dilakukan dengan sempurna — segera, rapi, menghadap kiblat, dan penuh adab.

Karena itu, menyiapkan lahan makam bukan tindakan berlebihan, apalagi pamer. Ia justru bagian dari amanah kita sebagai kepala keluarga, orang tua, atau pribadi yang ingin menjaga kehormatan di akhir hidup.


Realita Sosial: Jakarta Semakin Sempit dan Tidak Ramah untuk Pemakaman

Data pemerintah dan fakta lapangan menunjukkan bahwa lahan pemakaman di Jakarta semakin sempit. Banyak makam berdekatan dengan TPS, selokan, atau area yang kurang terjaga. Tidak jarang makam-makam lama beresiko dipindahkan karena keterbatasan ruang.

Siapa pun tentu ingin tempat istirahat terakhir yang layak, tenang, dan terhormat. Namun, tanpa persiapan, yang sering terjadi adalah keluarga harus menerima tempat apa adanya—yang penting dapat—walaupun tidak ideal untuk kehormatan jenazah maupun kenyamanan ziarah keluarga.


Dampak Finansial: Lebih Mahal Menunda Daripada Menyiapkan

Tidak banyak orang sadar bahwa pemakaman adalah salah satu momen termahal dalam hidup. Ketika tidak menyiapkan dari awal, keluarga terpaksa melakukan panic buying. Harga lebih tinggi, pilihan terbatas, dan biaya tambahan bermunculan tanpa terduga. Bahkan sering terjadi perselisihan antar saudara tentang biaya pemakaman atau lokasi yang dipilih.

Sebaliknya, menyiapkan dari sekarang membuat semuanya terukur: harga terkunci, bisa dicicil, lokasi dipilih dengan tenang, dan keluarga tidak terbebani saat hari duka datang.

Islam mengajarkan agar kita mencegah mudarat sebelum terjadi.
Dalam kaidah fikih: “Menolak kerusakan didahulukan daripada mengejar manfaat.”


Dampak Sosial dan Psikologis Bagi Keluarga

Kematian seharusnya menjadi momen khusyuk dan penuh doa. Namun kenyataannya, tanpa persiapan, keluarga menjadi panik, bingung, dan bahkan saling menyalahkan. Hubungan keluarga bisa retak hanya karena masalah lokasi atau biaya pemakaman.

Sebaliknya, ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan, keluarga dapat melewati hari duka dengan lebih tenang. Mereka dapat fokus pada doa dan mengantarkan kepergian dengan penuh penghormatan.


Solusi Bagi Siapa Saja — Termasuk yang Sibuk atau Hidup Sendiri

Banyak orang merasa tidak perlu menyiapkan makam karena merasa masih sehat, masih muda, atau karena hidup sendiri. Padahal, orang yang paling perlu persiapan justru:

  • yang tinggal di apartemen atau hidup sendiri,
  • yang memiliki anak bekerja di luar kota/luar negeri,
  • yang jarang berinteraksi dengan tetangga,
  • atau keluarga yang sangat sibuk.

Menyiapkan lahan makam berarti memastikan diri tetap dimuliakan meski kondisi sosial tidak ideal.


Menutup Bab Kehidupan dengan Kemuliaan

Perencanaan ini bukan sekadar membeli lahan. Ini adalah keputusan untuk menutup perjalanan hidup dengan adab syar’i, memuliakan jenazah, dan meringankan beban keluarga.
Dengan menyiapkan dari sekarang, kita memberikan yang terbaik untuk diri kita dan orang-orang yang mencintai kita.

Karena pada akhirnya, kematian bukan akhir segalanya—ia adalah pintu menuju kehidupan abadi. Dan pintu itu seharusnya dilewati dengan penuh kehormatan.

Adab dan Hukum
Makam Al Azhar Memorial Garden

Banyak Keluarga Muslim memilih Al Azhar Memorial Garden karena:

✔ 100% Syariah

✔ Tidak bertingkat, tidak tumpang tindih
✔ Menghadap kiblat, tidak bercampur dengan non muslim
✔ Rumput hijau terawat rapi, ada walkway di setiap makam
✔ Ziarah sangat nyaman, ada tenda kursi gratis
✔ Tidak perlu iuran kebersihan dan perawatan, bebas biaya selamanya
✔ Legalitas jelas dan aman jangka panjang

Mereka ingin tempat yang menenangkan, sesuai adab Islam, dan tidak membuat anak cucu kesulitan.

Karena mereka tahu:
cara kita pergi meninggalkan dunia adalah hadiah terakhir untuk keluarga.

Baca Artikel Lainnya :

Keputusan Penuh Cinta: Bersama di Dunia, Berdampingan di Alam Barzakh, dan Berkumpul Kembali di Surga

Sebanyak Apa pun Asetmu, Rumah Terakhirmu Tetap Satu — Siapkanlah yang Layak untuk Cinta Terakhirmu.

“Jalan Menuju Makam yang Jelek” — Sebuah Renungan Tentang Arah Hidup yang Kita Pilih

Ketika Harga Makam Terlihat Mahal… Tapi Nilainya Menyelamatkan Banyak Hal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *