Jika Anda Tinggal di Jabodetabek

Legacy Seorang Muslim: Tetap Memimpin Saat Tiada

Financial Syariah yang Jarang Dibahas dalam Seminar Keuangan & Bisnis Syariah

Legacy Seorang Muslim
Makam Al Azhar dikenal sebagai kompleks pemakaman modern berstandar islami dengan nuansa tenang, fasilitas lengkap, dan layanan profesional

alazharheritage.com – Legacy Seorang Muslim: Tetap Memimpin Saat Tiada

Ketika Hari Itu Datang

Coba bayangkan…
suatu pagi yang tenang berubah menjadi hari paling berat bagi keluarga Anda.
Telepon berdering. Tangis pecah.
Anak-anak bingung, istri gemetar, keluarga saling menatap tanpa arah.

Di tengah air mata dan doa yang terbata, mereka harus segera memutuskan banyak hal besar:
dimana jasad akan dimakamkan,
siapa yang mengurus,
berapa biayanya,
dan ke mana mereka harus pergi.

Semuanya harus diputuskan dalam waktu hitungan jam,
sementara hati sedang hancur.

Keluarga Anda ingin berduka,
tapi mereka tidak punya waktu untuk berduka
karena harus sibuk mengurus hal yang seharusnya sudah Anda siapkan.

Dan di sanalah seorang ayah, seorang suami, seorang pemimpin sejati akan diuji:
Apakah ia hanya memimpin ketika hidup,
atau ia tetap memimpin dalam sunyi, bahkan setelah tiada.


Kepemimpinan Sejati: Qowwam Dalam Sunyi

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat dan hadits ini bukan sekadar perintah,
tetapi peringatan penuh cinta dari Allah dan Rasul-Nya,
bahwa tanggung jawab seorang pemimpin keluarga tidak berhenti ketika napas berhenti.

Menjadi “qowwam” dalam Islam berarti menjadi penjaga, pelindung, dan pengatur arah hidup keluarga.
Dan puncak tertinggi dari kepemimpinan itu bukan saat kita bisa memberi rumah,
tetapi ketika kita mampu memastikan keluarga tidak bingung, tidak berdosa, dan tetap dalam syariat saat kita sudah tiada.

“Kepemimpinan tertinggi bukan saat kita memimpin keluarga ketika hidup,
tapi ketika keluarga tetap tenang saat kita tiada.”


Dalil dan Keteladanan: Sa‘d bin Abi Waqqash رضي الله عنه

Suatu ketika, sahabat mulia Sa‘d bin Abi Waqqash رضي الله عنه jatuh sakit keras di Makkah. Ia merasa ajalnya sudah dekat, lalu berkata kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia ingin bersedekah besar-besaran dari hartanya. Namun Nabi ﷺ mengajarinya keseimbangan: jangan sampai niat baik justru menyulitkan keluarga setelahnya.

عَن سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ جَاءَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بِي، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَلَغَ بِي مِنَ الْوَجَعِ مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ لَا. قُلْتُ: بِالنِّصْفِ؟ قَالَ لَا. قُلْتُ: بِالثُّلُثِ؟ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ…

“Dari Sa‘d bin Abi Waqqash, ia berkata: Rasulullah ﷺ menjengukku ketika aku sakit keras pada tahun Haji Wada’. Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku sakit parah, aku memiliki banyak harta, dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuan. Bolehkah aku bersedekah dua pertiga hartaku? Beliau menjawab: Jangan. Aku berkata: Setengahnya? Beliau menjawab: Jangan. Aku berkata: Sepertiganya? Beliau bersabda: Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Makna hadits ini bukan sekadar soal harta,
tapi tentang tanggung jawab spiritual seorang kepala keluarga.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa sebaik-baik amal akhir hayat adalah yang tidak menelantarkan keluarga — baik secara nafkah, maupun secara syariah.


Menjaga Keluarga dari Dosa di Hari Duka

Bapak-bapak sekalian, tanggung jawab kita tidak berhenti di rumah dan nafkah.
Kita juga wajib menjaga keluarga agar tidak jatuh dalam dosa ketika hari kematian tiba.

Betapa banyak keluarga yang—karena tidak siap—
akhirnya menunda pemakaman,
memakamkan di tempat campur antara Muslim dan non-Muslim,
atau menziarahi dengan melangkahi makam orang lain.

Semua itu bisa berujung dosa,
padahal bukan salah mereka
itu karena kita tidak menyiapkan tempat yang benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
“Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian shalat menghadap kepadanya.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa tinggi kehormatan kubur dalam Islam.
Maka menyiapkan makam dengan benar adalah bagian dari hifzhud-diin — menjaga agama —
dan bentuk cinta terdalam dari seorang suami kepada keluarganya.


Kondisi Makam di Jakarta: Fakta yang Perlu Kita Hadapi

Jakarta dan sekitarnya kini menghadapi krisis lahan pemakaman:
banyak TPU penuh, sebagian bercampur antara Muslim dan non-Muslim,
dan ada yang harus diperpanjang atau dipindahkan setelah beberapa tahun.

Keluarga yang tengah berduka sering kali harus menunggu izin, mencari lahan,
bahkan menunda pemakaman —
padahal sunnah Nabi ﷺ adalah “segerakan penguburan jenazah.”

أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ
“Segerakanlah pemakaman jenazah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menunda pemakaman bukan hanya membuat keluarga gelisah,
tetapi bisa menjadi kelalaian terhadap sunnah.


Solusi: Al Azhar Memorial Garden, Makam Muslim yang Tenang dan Terhormat

Legacy Seorang Muslim

Sebagai ikhtiar syariah, Al Azhar Memorial Garden hadir untuk menjawab semua keresahan ini.
Bukan sekadar taman pemakaman, tapi tempat kembali yang dirancang sesuai nilai Islam dan kehormatan jenazah.

Keunggulannya:
✅ Area khusus Muslim, bebas campur baur.
✅ Arah kiblat presisi dan sesuai fiqih.
✅ Tidak bertumpuk dan dirawat selamanya.
✅ Suasana hijau, damai, penuh ketenangan untuk ziarah.
✅ Dikelola oleh Yayasan Al Azhar yang amanah dan istiqamah.
✅ Doa yang mengalir sepanjang masa.

Di sinilah seorang ayah bisa berkata dengan tenang:

“Aku jaga kalian agar kalian tidak berdosa,
bahkan ketika aku sudah tidak ada.”


Penutup: Warisan Terindah Bukan Harta, Tapi Ketenangan

Setiap ayah ingin meninggalkan warisan terbaik.
Tapi warisan sejati bukan rumah, bukan emas, bukan tabungan.
Warisan sejati adalah ketenangan keluarga di hari mereka kehilangan kita.

“Kita ingin kehidupan kita tertata,
tapi kita biarkan kematian kita tidak terencana.”

Hari ini bukan bicara tentang kematian.
Hari ini bicara tentang iman, tanggung jawab, dan cinta.
Karena pemimpin sejati bukan hanya yang membuat keluarga bangga saat hidup,
tapi juga membuat mereka tenang saat ia wafat.

Baca Artikel Lainnya :

Meneladani Umar dan Aisyah: Menyiapkan Rumah Terakhir dengan Adab dan Ihsan

Lansia di Rumah Besar: Kesunyian yang Tidak Terlihat, dan Pentingnya Memiliki Makam di Al Azhar

“Ketika Tidak Semua Orang Punya Tetangga, Komunitas Masjid, atau Dekat dengan RT/RW — Al Azhar Hadir Sebagai Solusi Terhormat”

Ketika Kematian Bukan Akhir: Menemukan Makna di Balik Istilah Rumah Terakhir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *