
alazharheritage.com – Hidup di Jakarta sulit… mati pun sekarang sulit. Kalimat Jujur yang Mulai Didengar di Mana-Mana
Di warung kopi, di ruang tunggu klinik, di pertemuan keluarga,
kita mendengar kalimat yang semakin sering diucapkan:
“Hidup di Jakarta sulit… mati pun sekarang sulit.”
Kalimat itu terdengar seperti keluhan,
tapi sesungguhnya ia adalah kenyataan pahit
yang dialami banyak keluarga muslim saat menghadapi kematian.
Jakarta bukan hanya sesak oleh gedung dan kendaraan,
tetapi juga sesak oleh makam yang sudah tak lagi tersedia.
Dan yang paling sedih adalah fakta berikut:
Ketika seseorang wafat—di saat keluarga sedang rapuh—
mereka justru harus berkeliling, mencari tempat pemakaman,
dan mendengar jawaban yang sama berulang-ulang:
“Maaf, penuh.”
“Tidak bisa terima baru.”
“Hanya bisa tumpang.”
“Antri dulu.”
“Tempatnya tinggal yang di pojok sana, dekat TPS.”
Inilah realita Jakarta hari ini.
🏞️ 1. Fakta: 90% TPU Besar di Jakarta Sudah Penuh atau Hampir Penuh
Data dari berbagai laporan Pemprov DKI, Kompas, Detik, dan BBC menunjukkan:
✔ TPU besar seperti Karet Bivak, Menteng Pulo, Kalibata, dan Pondok Kelapa hampir penuh total
✔ Sebagian besar hanya menerima tumpang
✔ Banyak yang sudah tidak menerima jenazah baru
✔ Lahan-lahan baru hampir tidak mungkin dibuka
✔ Pertumbuhan penduduk jauh melampaui ketersediaan makam
Bahkan pejabat Pemprov pernah menyatakan:
“Jika tidak ada terobosan, 3–5 tahun lagi Jakarta benar-benar krisis makam.”
Bayangkan…
Hidup penuh sesak.
Mati pun tidak punya ruang.
🕯️ 2. Ketika Seseorang Wafat, Keluarga Harus Berkeliling ke Beberapa TPU
Banyak cerita yang kita dengar:
- sudah mencari ke 3 TPU, semua penuh
- jenazah terpaksa menunggu lama
- keluarga menangis bukan hanya karena duka, tetapi karena bingung
- akhirnya dapat lahan di tempat sempit dan kurang layak
- atau terpaksa tumpang dengan makam lama
Sebagian keluarga bahkan harus memakamkan di:
- gang-gang kecil,
- belakang masjid,
- dekat TPS,
- lereng tanah rawan longsor,
- atau area yang perlu dilangkahi untuk berziarah.
Ini bukan karena mereka tidak mampu.
Ini karena Jakarta tidak punya ruang untuk kematian.
🕌 3. Padahal Syariah Menuntut Kita Memuliakan Jenazah
Islam tidak pernah memerintahkan kubur mewah,
tapi Islam memerintahkan kehormatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Segerakanlah pemakaman jenazah.”
(HR. Bukhari)
Dan beliau juga bersabda:
“Memecahkan tulang mayit sama seperti memecahkan tulang orang hidup.”
(HR. Abu Dawud)
Maknanya:
- tidak boleh menunda pemakaman,
- tidak boleh menumpang tanpa darurat,
- tidak boleh memaksa orang berziarah melangkahi kubur lain,
- tidak boleh memakamkan di tempat yang merendahkan martabat.
Tapi bagaimana semua ini bisa ditegakkan
jika lahan sudah penuh dan TPU tidak lagi ideal?
🌿 4. Kenyataan yang Banyak Tidak Kita Sadari:
Ziarah Jadi Berat Jika Lingkungannya Buruk**
Ketika orang tua wafat,
kita ingin ziarah dengan tenang.
Namun di Jakarta, sering terjadi:
- tidak ada walkway,
- harus menginjak kubur lain,
- rumput tinggi menutupi nisan,
- area sempit,
- suasana tidak nyaman,
- bahkan bau kurang sedap dari TPS atau drainase.
Ziarah yang seharusnya menjadi obat rindu,
malah menjadi sesuatu yang menyesakkan hati.
Bukan salah peziarah.
Tempatnya memang tidak mendukung adab.
🌿 5. Inilah Mengapa Banyak Keluarga Mulai Mencari Alternatif yang Lebih Terhormat

Bukan karena ingin mewah.
Bukan karena ingin status.
Tetapi karena mereka ingin:
- tempat yang tidak tumpang,
- tidak bercampur agama,
- tidak dilangkahi,
- tidak becek,
- tidak dekat TPS,
- lingkungan yang tenang,
- ziarah yang khusyuk,
- kepastian untuk generasi berikutnya.
Dan dari sinilah banyak keluarga memilih
Al Azhar Memorial Garden.
Bukan sebagai “properti”,
tapi sebagai pemuliaan terakhir.
🌿 Keunggulan yang membuatnya berbeda:
✔ 100% muslim
✔ tidak tumpang
✔ tidak bercampur
✔ perawatan selamanya
✔ walkway rapi—tidak melangkahi kubur
✔ landscape bersih dan tenteram
✔ syariah dipegang kuat
✔ ziarah menjadi lembut di hati, bukan beban
Bukan mewah.
Bukan eksklusif.
Ini sekadar adab syariah yang ditata dengan baik.
🌸 Penutup – Hidup Memang Sulit… Tapi Kita Bisa Membuat “Pulang” Menjadi Tenang
Jakarta mungkin keras untuk hidup—
macet, padat, mahal, melelahkan.
Namun jangan sampai Jakarta menjadi keras
bahkan untuk tempat kembali setelah kita tidak bernyawa.
Kita tidak bisa memilih kapan kita meninggal,
tapi kita masih bisa memilih bagaimana kita dimuliakan.
Dan keputusan itu akan menentukan:
- ketenangan keluarga,
- adab pemakaman,
- tempat ziarah anak-cucu,
- dan kehormatan kita di hadapan Allah.

🌿
Hidup di Jakarta sulit. Tapi jangan biarkan mati pun ikut sulit.
Setidaknya untuk hal terakhir ini—
kita bisa menyiapkannya dengan cinta.
Baca Artikel Lainnya :
Makam Bukan Properti: Ia Adalah Adab Syariah, Tanggung Jawab, dan Bahasa Cinta Terakhir
Ini Bukan Makam Eksklusif: Ini Tentang Adab, Kehormatan, dan Tanggung Jawab Keluarga
Mengapa Banyak Orang Tidak Percaya Diri Membahas Pemakaman? Penjelasan Syariah, Nalar, dan Nurani

