Mempersiapkan Kematian dengan Mulia

Bagaimana Rasulullah, Sahabat, dan Ulama Mempersiapkan Kematian dengan Mulia? Renungan Awal Tahun 2026

Mempersiapkan Kematian dengan Mulia

Kita memasuki awal tahun 2026 dengan berbagai rencana: target keuangan, resolusi ibadah, peningkatan keluarga, dan perbaikan kehidupan. Namun ada satu hal yang hampir tidak pernah dituliskan dalam resolusi: persiapan menghadapi kematian.

Padahal Allah telah menegaskan:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.”
(QS. Ali Imran: 185)

Kematian bukan “kemungkinan”, ia adalah kepastian. Yang tidak pasti hanyalah kapan, di mana, dan dalam keadaan bagaimana kita menghadapinya. Karena itu, Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan para ulama tidak hanya mengajarkan cara hidup yang baik, tetapi juga cara mempersiapkan kematian secara mulia dan syar’i.


Rasulullah ﷺ: mengingat mati agar hidup lebih benar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan: kematian.”
(HR. Tirmidzi – hasan)

Beliau sering menziarahi pemakaman Baqi’, mendoakan ahli kubur, dan mengingatkan para sahabat bahwa ziarah kubur melembutkan hati dan mengingatkan akhirat.

Mempersiapkan Kematian dengan Mulia

Ini menunjukkan:

  • kematian bukan hal tabu
  • membicarakannya bukan pertanda pesimis
  • mempersiapkannya adalah bagian dari iman

Mengingat mati bukan membuat hidup suram, justru membuat hidup lebih serius, terarah, dan bernilai ibadah.


Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: memikirkan lokasi pemakaman

Ketika Sayyidina Umar ditikam Abu Lu’lu’ah al-Majusi dan merasa ajalnya dekat, ia berkata kepada putranya, Abdullah bin Umar:

“Mintakan izin kepada Aisyah agar aku dimakamkan bersama kedua sahabatku (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar).”

Riwayat ini terdapat dalam:

  • Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jana’iz
  • Shahih Muslim, Kitab Fadhail ash-Shahabah

Perhatikan — seorang khalifah agung:

  • memikirkan di mana ia akan dimakamkan
  • menyiapkan perencanaan pemakaman
  • memastikan izin & adab dipenuhi

Ini bukti bahwa perencanaan setelah mati bukan hal tercela, tetapi praktik para sahabat Nabi.


Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu: menangis di kuburan

Diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi (dihasankan al-Albani):

Utsman bin Affan jika berdiri di dekat kuburan akan menangis hingga janggutnya basah. Ketika ditanya sebabnya, ia menjawab:

“Sesungguhnya kubur adalah tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka setelahnya lebih mudah. Namun jika tidak selamat darinya, maka setelahnya lebih berat.”

Ini adalah persiapan:

  • spiritual
  • kesadaran diri
  • renungan mendalam

Bukan sekadar wacana, melainkan penghayatan yang nyata.


Imam Ahmad bin Hanbal: menyiapkan kain kafan dan wasiat

Dalam Siyar A’lam an-Nubala’ dan Manaqib al-Imam Ahmad, disebutkan bahwa:

  • beliau telah menyiapkan kain kafannya
  • sering memandangnya untuk mengingat kematian
  • memperbanyak doa agar diwafatkan dalam husnul khatimah

Ini bukan cerita motivasi, tetapi riwayat sejarah bersanad dari ulama kredibel.


Lalu bagaimana dengan kita di tahun 2026?

Kita hidup di era modern, fasilitas serba mudah, teknologi cepat, rencana hidup yang detail.

Namun pertanyaan pentingnya:

  • Apakah kita sudah siap mati?
  • Di mana kita ingin dimakamkan?
  • Apakah keluarga akan kebingungan nanti?
  • Apakah makam kita akan terawat atau terlantar?

Banyak keluarga saat duka datang:

  • panik mencari lahan makam
  • terburu-buru mengurus administrasi
  • terbebani biaya mendadak
  • menerima lokasi seadanya, kumuh, atau rawan tergusur

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Segerakanlah pemakaman jenazah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana mungkin pemakaman bisa disegerakan bila lahan saja belum dipersiapkan?


Perencanaan pemakaman adalah bagian dari tanggung jawab syar’i

Mempersiapkan Kematian dengan Mulia

Mempersiapkan kematian berarti:

✔ memperbaiki iman dan amal
✔ menulis wasiat
✔ menata urusan hutang piutang
✔ dan — bagian yang sering dilupakan — merencanakan pemakaman yang layak

Ini bukan pesimis. Ini:

  • tanda kedewasaan
  • bentuk tanggung jawab
  • bukti cinta kepada keluarga
  • memuliakan jenazah sesuai tuntunan syariat

Peran Al Azhar Memorial Garden dalam perencanaan yang mulia

Dalam konteks hari ini, perencanaan itu bisa diwujudkan dengan:

  • pemakaman khusus muslim
  • pengelolaan profesional
  • perawatan jangka panjang
  • lingkungan yang rapi, teduh, dan tidak kumuh
Mempersiapkan Kematian dengan Mulia
Makam Muslim Al Azhar Memorial Garden untuk kenyamanan, kehormatan, dan ketenangan batin keluarga yang akan ditinggalkan kelak.
  • konsep taman muslim yang syar’i
  • area hijau terawat selamanya
  • pemeliharaan berkelanjutan bebas biaya bulanan dan tahunan
  • bebas tumpang tindih dan gusuran
  • memudahkan keluarga saat ziarah

Ini bukan sekadar sebidang tanah, tetapi ketenangan setelah kita tiada.


Penutup: renungan nyata, bukan sekadar wacana

Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan para ulama telah memberi teladan:

  • kematian itu pasti
  • persiapan itu perlu
  • kemuliaan jenazah harus dijaga

Di awal tahun 2026 ini, mari bertanya jujur kepada diri:

Jika ajal datang tahun ini, apakah semuanya sudah siap?

Sebelum wajah kita dimandikan dan tubuh kita dikafani, kita masih diberi kesempatan untuk memilih:

  • cara kita dimakamkan
  • di mana kita beristirahat
  • apakah keluarga kita tenang atau kebingungan

Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khatimah
dan memuliakan kita — bahkan setelah kita tiada.

Baca Artikel Lainnya :

Pemakaman Modern Muslim di Jabodetabek — Akses Mudah dari Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang & Bogor

Kavling Makam Keluarga Muslim — Tetap Bersama dalam Satu Area yang Tenang & Terhormat

Pemakaman Muslim Syar’i di Jabodetabek — Lingkungan Tenang, Terawat & Sesuai Syariat

Harga Makam Al Azhar Memorial Garden Terbaru 2026 — Khusus Muslim, Modern & Bisa Dicicil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *