Saat Kematian Datang

Saat Kematian Datang Tanpa Persiapan: Kisah Sebuah Keluarga yang Terpaksa Belajar dengan Cara yang Pahit

Saat Kematian Datang

Telepon itu berdering pukul 02.17 dini hari.

Suara di seberang bergetar, lalu pecah menjadi tangis.

“Nak… Ayahmu… sudah tidak ada…”

Semua terasa berhenti. Dunia seperti runtuh dalam sekejap. Yang tadinya dibicarakan adalah rencana liburan, pekerjaan, cucu, dan urusan rumah, tiba-tiba berganti satu kalimat yang tidak pernah siap didengar: Ayah meninggal.

Di rumah sakit, tubuh itu terbujur diam. Anak-anak berdiri mengelilinginya. Ada yang menangis keras, ada yang memeluk, ada yang hanya menatap kosong. Tak satu pun yang siap. Tak satu pun yang tahu harus bagaimana.

Mereka saling berpandangan, lalu kalimat pertama yang keluar adalah:

“Sekarang… kita makamkan di mana?”

Dan di situlah kepanikan dimulai.


Mereka sibuk selama ini… tetapi untuk hal yang satu ini, mereka kosong

Selama ini keluarga itu termasuk “mapan”:

  • rumah ada
  • mobil ada
  • asuransi ada
  • dana pendidikan anak ada
  • tabungan ada

Tetapi tidak pernah ada satu pun obrolan tentang:

  • dimakamkan di mana
  • siapa yang harus dihubungi
  • apakah sudah disiapkan makamnya

Mereka merasa tabu membicarakan itu.

Ayah pun dulu selalu berkata:

“Ah, jangan ngomongin kematian. Masih lama.”

Malam itu, kalimat itu berubah menjadi beban. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka tidak siap.


Pagi yang panjang, telepon yang tak henti, dan tubuh yang harus segera dimakamkan

Saat Kematian Datang

Jenazah harus dimakamkan hari itu.

Sementara itu:

  • telepon ke sana-sini
  • bertanya ke teman
  • mencari TPU yang masih ada lahan
  • menanyakan harga
  • menunggu konfirmasi

Di antara tangisan, ada kebingungan administratif. Di antara doa, ada rute Google Maps mencari pemakaman yang masih menerima jenazah.

Satu TPU menjawab:

“Maaf penuh.”

TPU lain:

“Bisa, tapi tumpang.”

Yang lain lagi:

“Masih ada, di area bogor, apakah KTP Jawa Barat?”. Bukan, KTP Ayah Jakarta.

Mohon maaf tidak bisa, harus KTP sesuai kependudukan.

Di mobil ambulans, adzan Dzuhur terdengar.

Anak-anaknya saling memandang, dan seseorang berbisik:

“Ayah maunya dimakamkan di mana, sih? Kita bahkan tidak pernah membicarakannya…”

Dan pertanyaan itu terasa seperti menampar hati satu per satu.


Akhirnya dapat makam — di pojok, dekat pagar, bukan karena tak mampu… tapi terlambat merencanakan

Menjelang Ashar, ada kabar:

“Ada satu petak tersisa. Di pinggir, dekat tembok. Kalau mau, ambil sekarang.”

Mereka tidak lagi punya pilihan.

Bukan karena mereka tidak mampu membeli yang lebih baik.
Bukan karena mereka tidak ingin yang terbaik.

Tetapi karena semuanya terjadi di hari yang sama—saat kepala berat, mata bengkak, dan hati hancur.

Makam itu di dekat pagar, berdekatan dengan makam non muslim, rumput liar di beberapa sisi, area yang kurang terawat.

Seseorang berbisik pelan sambil menangis:

“Ayah… maafkan kami…”

Karena kini mereka sadar:

Ayah bukan tidak mampu punya makam yang layak.
Ayah hanya tidak pernah mau membicarakannya.
Dan anak-anak dipaksa membereskan apa yang dulu dianggap “tidak perlu dibahas.”


Setelah semuanya selesai, barulah penyesalan itu datang

Hari-hari duka berlalu.

Lalu muncul kenyataan berikutnya:

  • makam perlu dirawat
  • rumput cepat tumbuh
  • akses parkir sulit
  • saat ziarah harus berdesakan
  • pungutan “sukarela” yang tidak selalu sukarela

Di situlah kalimat yang sama muncul dari semua anaknya:

“Seandainya dulu kita siapkan lebih awal…”

Bukan soal mahal atau murah.

Ini soal:

  • dimuliakan atau seadanya
  • direncanakan atau diserahkan pada keadaan
  • anak tenang atau anak panik

Mereka akhirnya mengakui dalam hati:

“Kami kira kematian itu milik orang lain.”
“Kami kira waktu kami masih panjang.”
“Kami kira nanti saja dibicarakan.”

Sampai hari itu datang.


Kisah ini nyata — dan bisa terjadi pada siapa saja yang berkata “nanti saja”

Setiap hari, ada keluarga yang mengalami cerita seperti ini:

  • panik
  • bingung
  • terburu-buru
  • menyesal

Bukan karena tidak cinta orang tua.
Justru karena sangat cinta—tetapi kalah oleh rasa sungkan membicarakan kematian.

Padahal membahas kematian bukan mengundang maut.
Ia adalah:

✔ tanda sayang kepada keluarga
✔ bentuk tanggung jawab
✔ bagian dari ikhtiar memuliakan jenazah


Ada cara untuk tidak mengulangi kisah di atas

Bukan besok.
Bukan nanti.
Bukan “kalau sudah tua.”

Di sana orang menemukan:

  • pemakaman khusus muslim
  • suasana taman hijau & tenang
  • akses mudah untuk ziarah
  • perawatan jangka panjang free selamanya
  • bebas tumpang tindih & pungli
Saat Kematian Datang

Dan banyak keluarga pulang dari survei hanya membawa satu kalimat:

“Setidaknya… kami tidak ingin anak-anak kami panik seperti itu.”


Penutup

Kita tidak bisa memilih kapan kita pergi.

Tapi kita bisa memilih:

  • apakah keluarga kita panik atau tenang
  • apakah dimakamkan seadanya atau terhormat
  • apakah semuanya mendadak atau terencana

Semoga kisah di atas tidak terjadi pada kita.
Dan semoga kita menjadi orang tua yang berkata dalam hati:

“Aku mencintai anak-anakku… bahkan setelah aku tiada.”

Baca Artikel Lainnya :

Kavling Makam Keluarga Muslim — Tetap Bersama dalam Satu Area yang Tenang & Terhormat

Pemakaman Muslim Syar’i di Jabodetabek — Lingkungan Tenang, Terawat & Sesuai Syariat

Harga Makam Al Azhar Memorial Garden Terbaru 2026 — Khusus Muslim, Modern & Bisa Dicicil

Alternatif Pemakaman Selain San Diego Hill & Insirah — Pilihan Khusus Muslim yang Lebih Tenang & Sesuai Syariat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *