Di TPU Data Hilang

Di TPU Data Hilang, Makampun Hilang: Saat 3 Tahun Terlewat dan Keluarga Kehilangan Tempat Berziarah

Di TPU Data Hilang

Banyak kejadian, beberapa tahun setelah memakamkan orang tuanya, sebuah keluarga datang ke TPU dengan niat berziarah.

Mereka masih mengingat jalur yang dulu dilewati: dari gerbang, melewati dua pohon besar, lalu belok ke kiri. Namun hari itu, suasananya terasa berbeda. Pohon sudah ditebang, jalan setapak berubah, dan tumpukan makam tampak semakin rapat.

Mereka berhenti sejenak, saling berpandangan.

Nisan yang dulu mereka kenal sudah tidak ada di tempatnya.

Dalam hati muncul tanya: “Apakah makamnya… masih ada?”.

Mereka mencari nisan yang dulu sering didatangi. Satu per satu dibaca, tapi nama itu tidak juga ditemukan.

Akhirnya, Sang anak bertanya kepada petugas.

“Pak, makam Ayah saya di blok ini, baris sekian… tapi kok sudah tidak ada ya?”

Jawaban yang datang terasa menampar:

“Mungkin sudah lewat tiga tahun tidak diperpanjang izinnya, Bu.
Datanya dianggap pasif, bisa saja sudah ditumpang makam baru…”

Sekejap, rasanya seperti kehilangan untuk kedua kalinya.


Aturan 3 Tahun: Kalau Tidak Lapor, Makam Bisa Dianggap Terlantar

Di DKI Jakarta, penggunaan tanah makam diatur dengan Perda Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pemakaman. Izin Pemakaian Tanah Makam (IPTM) harus diperpanjang setiap 3 tahun sekali. Jika tidak diperpanjang, makam bisa dikategorikan sebagai makam terlantar.ANTARA News

Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI menjelaskan, setelah lewat 3 tahun tanpa perpanjangan IPTM, makam bisa ditumpang (digunakan kembali untuk jenazah baru), apalagi di tengah krisis lahan yang kian mendesak.ANTARA News+1

Masalahnya, dalam kehidupan nyata:

  • ada keluarga yang pindah kota
  • ada anak-anak yang tidak tahu soal kewajiban IPTM
  • ada ahli waris yang sudah meninggal semua
  • ada yang sekadar lupa, karena sibuk atau tak ada yang mengingatkan

Maka terjadilah ironi: bukan hanya data yang hilang dari buku, tetapi makam pun hilang dari bumi.


Krisis Lahan: 69 dari 80 TPU Jakarta Sudah Penuh

Di TPU Data Hilang
Makam di salah satu TPU Jakarta yang sudah penuh

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa lahan makam di Jakarta sedang masuk fase krisis.

Data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI menunjukkan:

Dengan tekanan seperti ini, TPU tidak punya banyak pilihan selain:

  • menerapkan makam tumpang (satu lubang dipakai lebih dari satu jenazah)
  • merapikan makam-makam yang dianggap tak lagi diurus
  • melakukan penertiban data untuk menghapus makam fiktif atau tak jelas ahli warisnyaANTARA News+1

Di atas kertas, ini adalah solusi administratif.
Namun di lapangan, ia bisa menjadi mimpi buruk emosional bagi keluarga yang suatu saat datang berziarah dan tidak lagi menemukan makam yang mereka cari.


Pungli, Parkir, dan Biaya Tak Terduga di TPU

Masalah lain yang kerap muncul di TPU adalah biaya yang tidak jelas.

Beberapa warga pernah mengeluhkan pungutan liar:

  • di TPU Pulogadung, warga mengaku diminta biaya pemakaman hingga Rp 5 juta, jauh di atas retribusi resmi yang diatur dalam Perda.https://www.beritajakarta.id/+1
  • di TPU Ciracas, keluarga jenazah mengaku harus mengeluarkan Rp 3 juta untuk gali makam dan administrasi, dan baru sadar setelahnya bahwa mereka sedang panik dan tidak sempat bertanya banyak.https://www.beritajakarta.id/
  • kasus pungli di TPU Tegal Alur membuat seorang petugas PJLP sampai dipecat karena terbukti melakukan pungutan di luar ketentuan.detiknews

Di beberapa daerah lain, bahkan parkir di TPU bisa dikenai tarif yang tidak wajar dan kemudian hari diketahui sebagai praktik liar yang tidak diakui pengelola resmi.Radarbekasi.id

Padahal secara aturan, retribusi resmi makam di DKI berkisar puluhan hingga ratusan ribu rupiah, dan pemerintah berkali-kali menegaskan bahwa pungli di TPU tidak dibenarkan.ANTARA News+1

Namun tetap saja, ketika keluarga sedang berduka dan panik, mereka sering:

  • tidak sempat mengecek tarif resmi
  • tidak tega berdebat di hari kematian
  • akhirnya membayar saja demi jenazah segera dimakamkan

Dampaknya: Ziarah yang Harusnya Menenangkan, Justru Menyakitkan

Semua kondisi di atas melahirkan beberapa realita pahit:

  • keluarga datang, makam tak ketemu
  • data di buku TPU tidak lengkap
  • nisan sudah diganti atau hilang
  • blok berubah, letak makam digeser
  • biaya yang dikeluarkan tidak jelas

Ziarah yang semestinya: melembutkan hati, mengingatkan akhirat, memberi ketenangan, malah berubah menjadi hari penuh: kebingungan, kekecewaan dan rasa bersalah


Syariat Islam: memuliakan jenazah, menjaga kuburnya

Dalam Islam, memuliakan jenazah bukan hanya saat memandikan, menshalatkan, dan menguburkan. Tetapi juga:

  • menjaga kehormatan kuburnya
  • tidak menginjak, merusak, atau menelantarkan
  • memudahkan keluarga untuk ziarah dan mendoakan

Bagaimana mungkin itu terjaga jika:

  • data makam tak diperbarui
  • lahan begitu padat hingga rawan tumpang
  • sistem administrasi tidak kuat

Karena itu, perencanaan makam sejak dini bukan sekadar urusan teknis. Ia bagian dari:

✔ tanggung jawab syar’i
✔ bentuk cinta kepada keluarga
✔ ikhtiar menjaga kehormatan setelah wafat


Solusi: Makam yang Terdata, Terawat, dan Syar’i di Al Azhar Memorial Garden

Di TPU Data Hilang
Harga bukan sekadar angka, tapi nilai dari kenyamanan, kehormatan, dan ketenangan batin.

Di tengah kondisi TPU yang padat dan penuh risiko kehilangan data, banyak keluarga mulai mencari:

  • makam yang lokasinya pasti
  • sistem yang mencatat posisi dengan rapi
  • lingkungan yang syar’i, khusus muslim
  • perawatan jangka panjang yang jelas dan profesional

Itu yang dihadirkan Al Azhar Memorial Garden:

  • pemakaman khusus muslim, menghadap kiblat
  • setiap kavling tercatat jelas dalam sistem dan peta
  • tidak ada makam tumpang di lahan yang sudah dimiliki keluarga
  • lingkungan hijau, bersih, dan terawat
  • perawatan taman berkelanjutan dan pengelolaan profesional

Sehingga anak cucu tidak perlu lagi bertanya:

“Kuburan Ayah di mana ya? Datanya masih ada atau sudah hilang?”

Mereka tahu: posisi makam tercatat, data tersimpan dan lokasi terurus.

Di TPU Data Hilang
ziarah-alazhar

Penutup: Jangan Sampai Kehilangan Dua Kali

Kehilangan orang yang disayang sudah cukup menyakitkan.
Jangan sampai bertahun-tahun kemudian, kita kehilangan makamnya juga — hanya karena dulu kita menganggap:

“Urusan mati nanti saja.”

Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan dengan lembut:

  • bahwa di TPU, data bisa hilang, makampun bisa hilang
  • bahwa krisis lahan makam di Jakarta nyata adanya
  • bahwa pungli dan ketidakjelasan biaya pernah terjadi
  • bahwa kita punya pilihan untuk merencanakan dengan lebih baik

Dan salah satu bentuk ikhtiar itu adalah: Menyegerakan perencanaan makam yang jelas, terdata, dan syar’i, agar kelak, ketika anak-anak datang berziarah, mereka tidak lagi kebingungan… hanya tinggal membawa doa dan rindu.

Baca Artikel Lainnya :

Pemakaman Modern Muslim di Jabodetabek — Akses Mudah dari Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang & Bogor

Kavling Makam Keluarga Muslim — Tetap Bersama dalam Satu Area yang Tenang & Terhormat

Pemakaman Muslim Syar’i di Jabodetabek — Lingkungan Tenang, Terawat & Sesuai Syariat

Alternatif Pemakaman Selain San Diego Hill & Insirah — Pilihan Khusus Muslim yang Lebih Tenang & Sesuai Syariat

Harga Makam Al Azhar Memorial Garden Terbaru 2026 — Khusus Muslim, Modern & Bisa Dicicil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *