
alazharheritage.com – Sampai Kapan Kita Bisa Memilih Tempat Peristirahatan Terakhir? Renungan Untuk yang Masih Sehat
Kesempatan Tidak Selalu Menghampiri Dua Kali
Selagi tubuh masih kuat,
selagi pikiran masih jernih,
selagi suara masih mampu memutuskan…
pernahkah kita bertanya:
“Di manakah tubuhku akan beristirahat ketika dunia tak lagi mengenalku?”
Saat kita tiada, keputusan bukan lagi milik kita.
Anak yang berduka harus tergesa-gesa mencari tempat terbaik —
di tengah air mata yang belum kering.
Hari ini kita yang memikirkan mereka.
Kelak, merekalah yang akan memikul kita.
🕌 Kematian Tidak Menunggu Persiapan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Yang paling cerdas di antara kalian adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya.”
(HR. Tirmidzi)
Bukan sekadar mengingat,
tetapi menyiapkan dengan baik.
Seberapa banyak orang yang ketika sehat mengabaikan persiapan,
namun ketika sakarat datang…
semua sudah terlambat.
Karena rumah terakhir bukan seperti rumah dunia
yang bisa dinegosiasi ulang ketika ada masalah.
🌿 Ketika Keputusan Harus Diambil dalam Tangis
Saat seseorang wafat:
- izin harus diurus,
- tanah harus dicari,
- petugas harus dicari,
- proses harus dimulai cepat.
Dalam waktu yang sangat sempit,
keluarga dituntut untuk kuat dan tegas —
padahal hati mereka sedang hancur.
Kita tentu tidak ingin
menambah beban pada mereka di hari perpisahan.
Sampai Kapan Kita Bisa Memilih Tempat Peristirahatan Terakhir?
Selama kita masih sehat:
- Kita bisa melihat langsung lokasi makam
- Kita bisa memastikan syariatnya terjaga
- Kita bisa memilih tetangga akhirat yang baik
- Kita bisa menentukan tempat doa mengalir
Namun jika sudah terlambat:
- keluarga akan memilih seadanya,
- atas dasar ketersediaan,
- bukan kemuliaan.
Karena saat duka datang,
pilihan makin sempit
dan keputusan menjadi dipaksa keadaan.
🌿 TPU Kini Bukan Lagi Tempat yang Pasti

Di kota besar seperti Jakarta:
- lahan menipis,
- sistem tumpang semakin banyak,
- masa pemakaman ada batas waktu.
Kubur bisa hilang,
nama bisa lenyap,
ziarah menjadi sulit.
Apakah kita ingin tidur di sana…
sambil berharap anak kita terus mengurus izin setiap beberapa tahun?
🕌 Menyiapkan Makam Saat Sehat: Tanda Cinta yang Tinggi Nilainya
Banyak yang berkata:
“Ah, masih lama kematianku…”
Namun Allah tidak pernah berjanji:
- bahwa kita akan sempat tua,
- bahwa kita sempat memilih,
- bahwa keluarga akan sanggup mencari tempat terbaik.
Menyiapkan makam saat sehat
adalah hadiah terakhir yang sangat berharga:
✅ menghilangkan beban keluarga
✅ memastikan prosesi syar’i
✅ menjaga kehormatan jenazah
✅ memudahkan anak cucu untuk ziarah
✅ doa akan terus mengalir
🌿 Al Azhar Memorial Garden: Pilihan yang Dibuat dengan Tenang

Ketika kita masih sehat, kita bisa memilih:
- lingkungan muslim yang baik
- tempat ziarah yang mudah
- perawatan sepanjang masa
- pemakaman yang penuh adab
- arah kiblat yang benar
- suasana yang menenangkan
Itu semua bentuk cinta kita
yang terus menjaga keluarga walau kita tidak lagi hadir.
Karena ketenangan keluarga
adalah warisan terakhir kita yang paling nyata.
🌸 Penutup: Selagi Masih Bisa Memilih, Pilihlah dengan Visi Akhirat
Pada akhirnya,
semua manusia menuju Allah.
Perjalanan itu dimulai dari kubur.
Jangan biarkan keputusan tentang akhir kita
diambil dalam keadaan air mata dan kebingungan.
Selagi tubuh ini masih bisa berjalan,
langkahkan kaki menuju tempat yang menenangkan hati.
Selagi lisan ini masih bisa memilih,
tentukan tempat di mana doa akan terus bersemi.
🌿
Al Azhar Memorial Garden
Karena rumah terakhir harus dijaga dengan adab, dan dipilih dengan iman.
Baca Artikel Lainnya
Kubur yang Ditinggalkan, Doa yang Perlahan Menghilang
Mengapa Kita Harus Memilih Tetangga Akhirat dengan Hati-hati?
Ketika Waktu Terus Berjalan: Antara Kavling Makam Keluarga, TPU, dan Al Azhar Memorial Garden

