Inilah Usia Fase Membangun Karier dan Aset. Namun Ada Satu Hal Yang Sering Terlupakan

Membangun Karier

alazharheritage.com – Inilah Usia Fase Membangun Karier dan Aset. Usia 35 hingga 55 tahun adalah fase paling sibuk—bahkan paling menentukan—dalam hidup seseorang. Di usia inilah seseorang mulai merasakan manisnya pengalaman, kuatnya karier, kokohnya keuangan, dan luasnya jaringan pertemanan.
Tetapi pada saat yang sama, usia ini adalah masa ketika beban dan tanggung jawab juga ikut memuncak:

  • cicilan rumah,
  • biaya sekolah anak,
  • perencanaan kuliah,
  • melunasi utang produktif,
  • mempersiapkan bisnis atau aset jangka panjang,
  • sampai urusan merawat orang tua.

Setiap hari terasa seperti kejar-kejaran antara waktu, target, dan tanggung jawab.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan oleh mereka yang sedang berada di puncak kejayaan ini:
bagaimana akhir perjalanan hidup mereka ingin ditutup?

Orang-orang pada usia ini sangat serius memikirkan “di mana anak-anak sekolah nanti”,
tetapi hampir tidak pernah memikirkan “di mana saya akan dikembalikan ke bumi nanti.”


Kejar Aset, Membangun Karier. Tapi Jangan Lupa Hak Diri Sendiri

Kita sibuk mengumpulkan aset agar keluarga hidup mapan.
Sibuk mengejar karier agar masa depan anak terjamin.
Sibuk menyusun rencana agar hidup makin stabil.

Tidak ada yang salah dari itu.
Itu adalah tanggung jawab seorang ayah, ibu, atau kepala keluarga.

Tetapi ada satu pertanyaan yang sering tidak berani kita jawab:

Jika hari itu tiba—apakah keluarga siap?

Apakah mereka:

  • tahu harus memakamkan di mana?
  • punya dana cukup?
  • harus menunggu antrian lahan?
  • panik di hari duka?
  • atau bahkan berselisih karena tidak pernah dibicarakan?

Betapa banyak keluarga mapan yang tercerai-berai karena sengketa harta, termasuk soal pemakaman.
Betapa banyak anak-anak yang kebingungan karena ayah atau ibunya tidak pernah menyiapkan apa pun tentang bab terakhir kehidupan itu.


Ironi Orang yang Sukses: Semua Disiapkan, Kecuali Satu

Lihatlah betapa seriusnya orang usia 35–55 tahun merencanakan hidup:

  • membeli rumah kedua,
  • menabung emas,
  • investasi reksadana,
  • menyiapkan dana pendidikan,
  • mengikuti pelatihan bisnis,
  • bahkan memikirkan pensiun dini.

Tetapi yang paling pasti—kematian—justru paling jarang dipikirkan.

Seolah-olah kita sedang membangun rumah megah, tetapi lupa membangun pintu keluarnya.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Mereka yang sedang di puncak karier justru yang paling tepat diberikan nasihat ini.
Karena mereka memiliki kontrol, kemampuan finansial, dan akses informasi untuk merencanakan pemakaman dengan layak, syar’i, dan terhormat.


Sibuk Membangun Karier, Masa Depan Anak, Tetapi Abaikan Ketenangan Mereka di Hari Duka

Ada satu beban yang sering tidak disadari:

Semakin sukses seseorang, semakin besar beban yang ditinggalkan saat ia tiada.

Karena:

  • asetnya banyak,
  • administrasinya lebih rumit,
  • keluarganya lebih panik,
  • lingkungannya menuntut lebih,
  • dan waktu kepergian tidak pernah bisa diprediksi.

Ketika seorang kepala keluarga wafat di usia 40 atau 50 tahun, anak-anak masih kecil atau remaja.
Mereka bingung, terpukul, dan membutuhkan waktu untuk pulih.
Jangan biarkan mereka juga harus memikul beban mencari lahan makam di saat tangisan belum kering.

Bukankah kita ingin anak-anak kita nanti berkata:

“Ayah/ibu sudah menyiapkan semuanya. Kami hanya tinggal berdoa.”

Itu adalah bentuk kasih sayang yang tidak kalah penting dari menyiapkan pendidikan atau warisan.


Menghindari Sengketa: Bab Terakhir Jangan Jadi Awal Keretakan

Pada usia 35–55 tahun, aset mulai menumpuk: tanah, rumah, kendaraan, tabungan, bisnis.

Makin banyak aset, makin besar potensi sengketa.
Dan banyak keluarga besar retak bukan karena rumah atau tanah—tetapi karena hal-hal kecil yang tidak pernah dipersiapkan:
termasuk soal pemakaman.

Jika tempatnya tidak jelas, siapa yang bayar tidak jelas, siapa yang memilih tidak jelas,
maka konflik kecil bisa menjadi besar.

Dengan menyiapkan sejak awal, kita sedang menutup celah konflik
dan memastikan keluarga tetap utuh setelah kita pergi.


Mereka yang Membangun Karier, Merencanakan Hidup, Harus Merencanakan Akhirnya

Orang usia 35–55 adalah generasi paling rasional.
Mereka merencanakan semuanya dengan angka, pola, risiko, dan keuntungan.

Logikanya sangat sederhana:

✅ harga makam tidak mungkin turun
✅ kebutuhan pasti
✅ lokasi makin sempit
✅ administrasi makin sulit
✅ keputusan lebih bijak dibuat saat tenang
✅ persiapan di masa hidup jauh lebih murah
✅ keluarga jauh lebih tenang

Ini bukan soal kemewahan.
Bukan gengsi.
Ini soal adab, kejelasan, dan ketenangan keluarga.


Akhirnya, Ini Bukan Tentang Mati—Ini Tentang Cinta

Menyiapkan makam bukan untuk mempercepat kematian.
Bukan pertanda pesimis.
Justru bentuk optimisme, karena kita ingin anak-anak hidup lebih ringan setelah kita tiada.

Ini adalah bentuk cinta
yang hanya dipahami oleh orang-orang yang dewasa, matang, dan bertanggung jawab.

Usia 35–55 adalah masa emas.
Dan di masa emas inilah seseorang harus memikirkan satu hal:

“Bagaimana saya ingin dikenang di akhir hidup?”

Dengan kepanikan?
Atau dengan kehormatan dan adab yang dijaga?

Jawabannya ada dalam keputusan hari ini.

Mengapa Merencanakannya Sekarang Justru Tanda Kebijaksanaan?

Anda tidak sedang memanggil kematian.
Anda sedang memberi hadiah kepada keluarga:

  • ketenangan
  • keringanan beban
  • kemudahan ziarah
  • penataan akhir hidup yang penuh kehormatan

Dan Anda menyiapkannya dalam keadaan sehat, lapang, dan bahagia.

Itu jauh lebih mulia daripada disiapkan dalam keadaan keluarga panik dan berduka.

Al Azhar Memorial Garden adalah tempat peristirahatan terakhir yang menjaga:

✔ syariah,
✔ kehormatan,
✔ ketenangan,
✔ dan kemudahan keluarga untuk berziarah selamanya.

Silakan pilih tipe yang paling sesuai untuk keluarga Anda.
Untuk cek ketersediaan kavling terbaik, saya siap membantu kapan saja. Hubungi Agen Resmi Al Azhar Memorial Garden


🌼 Hadiah Terakhir yang Paling Dirindukan Anak

Ketika hari itu tiba, anak-anak akan berkata:
“Alhamdulillah Ayah/Ibu sudah menyiapkan semuanya.
Kami tinggal mengurus dengan tenang, tanpa terburu-buru, tanpa panik.”

Mereka akan mengingat kebaikan itu sepanjang hidup mereka.

Baca Artikel Lainnya

Adab dan Hukum Menyiapkan Lahan Makam dalam Islam

Keputusan Penuh Cinta: Bersama di Dunia, Berdampingan di Alam Barzakh, dan Berkumpul Kembali di Surga

Sebanyak Apa pun Asetmu, Rumah Terakhirmu Tetap Satu — Siapkanlah yang Layak untuk Cinta Terakhirmu.

“Jalan Menuju Makam yang Jelek” — Sebuah Renungan Tentang Arah Hidup yang Kita Pilih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *