
Ada sebuah jalan yang setiap orang pasti akan lewati, hanya saja… tak banyak yang memikirkannya.
Bukan jalan menuju kantor, bukan jalan menuju rumah impian, tapi jalan menuju makam.
Sebagian orang mungkin berpikir, “Ah, yang penting kan nanti dikubur, selesai.”
Padahal, seringkali jalan menuju makam menggambarkan bagaimana kita mempersiapkan akhir perjalanan hidup kita.
Ketika Jalan Itu Jelek dan Tidak Terurus
Pernahkah kita melewati jalan menuju makam yang becek, berlubang, sempit, bahkan harus menyingkirkan rumput liar di kiri-kanannya?
Itu bukan sekadar jalan fisik.
Itu adalah simbol dari jalan spiritual dan tanggung jawab yang sering kita abaikan.
Bagi sebagian keluarga, jalan yang jelek itu bukan hanya sulit dilalui kendaraan, tapi juga menjadi beban batin setiap kali ingin berziarah.
Anak-anak yang ingin mendoakan ayah ibunya, tapi berpikir dua kali karena jalannya sulit.
Cucu-cucu yang ingin mengenal kakek neneknya, tapi akhirnya tak pernah datang karena tak nyaman dan tak layak dikunjungi.
Maka… bukan hanya tanahnya yang tidak rapi, tapi kenangan dan doa pun perlahan memudar.
Makam Bukan Sekadar Tempat Dikubur
Banyak orang berpikir, “Yang penting murah.”
Padahal, yang penting bukan murah — tapi mulia.
Tempat di mana kita akan didoakan.
Tempat di mana anak-anak kita akan datang dengan khusyuk, bukan tergesa karena takut banjir, becek, atau macet.
Tempat di mana doa-doa mengalir dengan tenang, bukan dengan napas tersengal karena jalan rusak.
Makam bukan tempat akhir, tapi tempat awal dari kehidupan yang abadi.
Kalau untuk rumah dunia saja kita ingin yang rapi, aman, nyaman — kenapa untuk rumah abadi, kita pasrahkan begitu saja?
Jalan yang Indah Menuju Tempat yang Mulia
Ada orang yang saat hidupnya, semua jalannya bagus:
jalur kariernya, bisnisnya, rumahnya, bahkan liburannya.
Tapi jalan terakhir menuju dirinya — menuju makamnya — justru jelek dan menyedihkan.
Sedangkan ada orang yang sederhana, tapi mempersiapkan akhir hidupnya dengan penuh hormat:
memilih tempat pemakaman yang layak, indah, terawat, penuh doa, dan dekat dengan taman-taman surga.
Di situlah keluarga bisa datang bukan dengan kesedihan, tapi dengan ketenangan dan kebanggaan:
bahwa ayah, ibu, suami, istri, atau anak mereka dimuliakan hingga akhir.
Sebuah Pertanyaan untuk Kita Semua
Mungkin hari ini kita masih kuat melangkah di jalan dunia.
Tapi suatu hari nanti, orang lain yang akan menempuh jalan menuju kita.
Apakah jalan itu akan membuat mereka tenang, atau justru berat hati melangkah?
Renungkanlah…
Sebab jalan menuju makam bukan hanya urusan akses, tapi cermin bagaimana kita menghormati kehidupan dan kematian.
🌿 Penutup: Karena Cinta Tak Berhenti di Liang Lahat
Mempersiapkan tempat peristirahatan terakhir bukanlah soal gaya hidup, tapi tanda kasih yang tak terputus.
Jalan menuju makam yang indah adalah simbol cinta kita yang ingin terus mengalir, bahkan setelah dunia berhenti.
Maka jika hari ini Anda melihat jalan menuju makam yang jelek,
jangan hanya mengeluh — renungkanlah:
mungkin itu adalah panggilan dari Allah agar kita mulai memperbaiki “jalan terakhir” kita sendiri.
Dan dari sinilah banyak keluarga memilih
Al Azhar Memorial Garden.
Bukan sebagai “properti”,
tapi sebagai pemuliaan terakhir.

🌿 Keunggulan yang membuatnya berbeda:
✔ 100% muslim
✔ tidak tumpang
✔ tidak bercampur
✔ perawatan selamanya
✔ walkway rapi—tidak melangkahi kubur
✔ landscape bersih dan tenteram
✔ syariah dipegang kuat
✔ ziarah menjadi lembut di hati, bukan beban
Bukan mewah.
Bukan eksklusif.
Ini sekadar adab syariah yang ditata dengan baik.
Baca Artikel Lainnya
Mahal Banget Makam Al Azhar… ”Benarkah? Atau Kita Sedang Membandingkan Dua Hal yang Berbeda?”
Ketika Harga Makam Terlihat Mahal… Tapi Nilainya Menyelamatkan Banyak Hal
PERENCANAAN KEUANGAN SYARIAH: Pilar yang Sering Terlupakan—Perencanaan Makam
“Ingin Wafat di Tanah Suci…”. Sebuah Harapan Mulia, Namun Perencanaan Tetap Harus Kita Siapkan

