Apapun Profesi dan Posisi Kita

“Kalau Saya Meninggal, Buang ke Laut Saja…”. Sebuah Ucapan yang Perlu Diluruskan dengan Hati-hati

Kalau Saya Meninggal, Buang ke Laut Saja

alazharheritage.com Kalau Saya Meninggal, Buang ke Laut Saja. Ucapan yang Ringan, Namun Menyakiti Martabat Diri Sendiri

Di sebuah tongkrongan, seorang teman berkata sambil tertawa:

“Kalau gue mati, buang ke laut juga gapapa. Jasad mah udah ga penting.”

Lalu semua tertawa.
Tetapi yang tidak terlihat adalah: betapa jauhnya ucapan itu dari ajaran Islam, dan betapa merendahkannya manusia terhadap dirinya sendiri.

Yang lebih miris lagi:
orang yang berkata demikian biasanya hidupnya terhormat—
naik mobil bagus, makan yang layak, gaya hidup bersih dan rapi.

Tetapi saat bicara tentang dirinya setelah wafat,
ia justru berkata seakan-akan ia tidak layak dimuliakan.


🕌 1. Islam Tidak Pernah Menganggap Jasad Sebagai ‘Tidak Penting’

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Memecahkan tulang mayit sama seperti memecahkan tulang orang hidup.”
(HR. Abu Dawud)

Artinya:

  • tubuh kita tetap dihormati setelah mati
  • jasad tetap memiliki martabat
  • jenazah harus diperlakukan dengan lembut
  • tidak boleh disakiti, ditelantarkan, apalagi dibuang

Jika memecahkan tulangnya saja sama dosanya seperti memecahkan tulang orang hidup,
maka bagaimana mungkin kita menganggap:

“Buang saja ke laut”
“Kubur sembarang juga gapapa”
“Saya tidak penting lagi setelah mati”

Ini bukan sekadar salah.
Ini merendahkan kehormatan diri sendiri yang sudah Allah muliakan.


🌿 2. Allah Memerintahkan Pemakaman yang Benar dan Terhormat

Di dalam syariat, jenazah harus:

  • dimandikan,
  • dikafani,
  • dishalatkan,
  • dikuburkan dengan adab,
  • diarahkan ke kiblat,
  • ditutup tanah dengan layak.

Dan kuburnya:

  • tidak boleh diinjak-injak,
  • tidak boleh dirusak,
  • tidak boleh ditumpuk sembarangan,
  • tidak boleh di tempat najis atau hina.

Artinya, pemakaman bukan soal “jasad sudah tidak berguna”,
tapi tentang mengembalikan amanah tubuh kepada Allah dengan penuh adab.


🌸 3. Mengapa Seseorang Bisa Mengucapkan “Buang ke Laut Saja”?

Biasanya ada tiga alasan:

1️⃣ Karena tidak ingin merepotkan keluarga.

Padahal yang justru merepotkan adalah ketidaksiapan.

Jika makam sudah dipersiapkan sejak hidup,
keluarga justru dipermudah.

2️⃣ Karena merasa dirinya tidak layak dimuliakan.

Ini bentuk rendah diri spiritual, bukan tawadhu.

Tubuh ini adalah amanah.
Ia disucikan lima kali sehari dengan wudhu & shalat.
Mana mungkin setelah mati menjadi “tak penting”?

3️⃣ Karena tidak paham bahwa pemakaman = ibadah, bukan urusan dunia.

Pemakaman bukan gaya hidup.
Pemakaman adalah ibadah terakhir kita.


🕌 4. Jasad Kita Dititipkan Allah — Maka Dikembalikan dengan Mulia

Allah berfirman:

“Dari tanah Kami menciptakan kalian,
ke dalamnya Kami akan mengembalikan kalian,
dan darinya Kami akan membangkitkan kalian kembali.”

(QS. Taha: 55)

Ayat ini menunjukkan:

  • tubuh berasal dari tanah,
  • tubuh kembali ke tanah,
  • tubuh dibangkitkan dari tanah.

Maka tempat kembali jasad harus tanah, bukan laut, bukan tempat sampah, bukan sembarang lokasi.

Dan bukan hanya tanah
tapi tanah yang layak, terhormat, bersih, dan menjaga adab.


🌿 5. Ironi yang Sering Terjadi

Ada orang yang hidupnya penuh kehormatan:

  • rumah bertingkat,
  • mobil elegan,
  • pakaian rapi,
  • keluarganya bahagia.

Tetapi ketika bicara kematian, ia berkata:

“Buang ke laut aja…”

Seakan-akan:

  • hidupnya pantas dimuliakan,
  • tetapi matinya pantas diremehkan.

Padahal kematian adalah fase paling mulia dari perjalanan akhir seorang muslim.


🌙 6. Memilih Makam yang Layak Adalah Bentuk Cinta kepada Diri Sendiri dan Keluarga

Sebagian orang pikir persiapan makam itu berlebihan.

Padahal:

  • yang disiapkan bukan kemewahan, tapi kehormatan
  • bukan gaya hidup, tapi adab Islam
  • bukan demi diri sendiri saja, tapi demi keluarga yang ditinggalkan

Karena ketika kita wafat:

  • keluarga sedang syok,
  • pikiran tidak teratur,
  • hati sedang hancur,
  • dan mereka membutuhkan tempat terbaik untuk memakamkan orang yang paling mereka cintai.

Saat itulah mereka akan berkata:

“Alhamdulillah makamnya sudah siap. Ayah/Ibu memudahkan kita.”

Dan itulah hadiah terakhir Anda bagi keluarga.


🌿 7. Di Al Azhar Memorial Garden — Jasad Diurus dengan Adab, Keluarga Tenang Selamanya

DJI_0208

Bukan dibuang.
Bukan ditumpuk.
Bukan hilang.
Bukan dibiarkan di tempat kotor.

Tapi:

🌿 Dimakamkan sesuai syariah
🌿 Dirawat selamanya
🌿 Dijaga dari tumpang
🌿 Di lingkungan muslim
🌿 Di taman yang menenangkan ziarah
🌿 Di tempat yang membuat doa mudah mengalir

Karena rumah terakhir kita adalah simbol cinta terakhir kita.


🌸 Penutup: Hentikan Ucapan yang Merendahkan Diri Sendiri

Ucapan:

“Buang ke laut saja.”

Tidak hanya salah, tetapi menunjukkan bahwa seseorang belum memahami:

  • martabat jasad,
  • adab pemakaman,
  • dan tanggung jawab kepada keluarga.

Kita dimuliakan Allah sejak berada di rahim ibu,
hingga napas terakhir.

Dan kehormatan itu tidak boleh dihentikan oleh candaan kita sendiri.

🌿
Tubuh ini adalah amanah.
Dan amanah dikembalikan dengan adab,
bukan dengan kesembronoan.

Untuk Konsultasi Makam Syariah Al Azhar yang penuh adab, hubungi agen resmi kami : Agen Resmi Al Azhar Memorial Garden

Baca Artikel Lainnya :

Di Antara Dua Makam: Renungan Tentang Pilihan Hidup, Kehormatan, dan Rumah Terakhir Kita

Aset Meningkat, Tapi Persiapan Akhir Tidak Ada: Kesalahan yang Banyak Terjadi di Usia 40–60 Tahun

Perencanaan Makam Syariah: Ketika Kehidupan Mengajarkan Kita Bahwa Pulang Pun Perlu Dipersiapkan

Panduan Perencanaan Makam Syariah untuk Financial Planner & Keluarga Muslim Modern

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *