
alazharheritage.com – Ketika Air Menggenang di Liang Lahat, dan Allah Menunjukkan Tempat Kembali yang Lebih Tenang
Pagi itu, selepas shalat Subuh, saya masih duduk bersila.
Dzikir belum selesai sepenuhnya ketika ponsel saya berdering.
Sebuah panggilan dari seorang ibu alumni Jamaah Haji Maghfirah yang pada tahun 2015. Saya mengenal beliau bukan sekadar jamaah, tapi seperti keluarga dalam perjalanan spiritual yang panjang.
Entah mengapa, sebelum telepon itu saya angkat, ada rasa yang sulit dijelaskan. “Sepertinya ini tentang makam,” batin saya.
Dan ternyata benar.
Duka yang Datang Beruntun
Dengan suara bergetar, beliau bercerita.
Pukul dua dini hari, ayah dari sahabat dekatnya—seseorang yang sudah seperti saudara—telah berpulang ke rahmatullah. Usianya 82 tahun.
Namun duka itu belum lama berselang. Dua minggu sebelumnya, sang ibu lebih dahulu wafat dan dimakamkan di area pemakaman sekitar Ancol.
Di situlah luka itu bermula.
Ketika liang lahat digali, baru setengah meter tanah disingkap, air sudah menyembur deras. Seperti sumur yang terbuka. Area itu memang dekat laut, dan air tanahnya tak pernah benar-benar surut.
Jenazah sang ibu akhirnya dimakamkan dalam kondisi liang lahat yang tergenang air.
Dan pemandangan itulah yang terus terbayang di benak anak-anaknya.
Tangis yang tertahan, kesedihan yang dalam.
Mereka tidak ingin ayahnya dimakamkan dengan kondisi yang sama.
Ketika Pilihan TPU Tak Lagi Memungkinkan
Alternatif pun dicari.
TPU Tanah Kusir—seperti yang banyak kita tahu—sudah penuh.
Beberapa TPU lain tak memberi ketenangan hati.
Di tengah kebingungan itulah, ingatan sang ibu alumni jamaah Maghfir kembali pada obrolan kami enam bulan lalu, saat saya menjelaskan tentang Pemakaman Syariah Al-Azhar Memorial Garden.
Waktu itu belum dibeli.
Namun kini, situasinya berbeda.
Ini bukan lagi wacana. Ini kebutuhan.
Keputusan yang Datang dari Hati
Tanpa berlama-lama, keluarga memutuskan:
Ayah harus dimakamkan di tempat yang tenang, kering, terhormat, dan sesuai syariah.
Pilihan itu jatuh pada Al-Azhar Memorial Garden.
Pembelian at need diselesaikan dengan cepat.
Koordinasi langsung dilakukan.
Dan satu hal yang terasa sangat menenangkan:
semua sudah siap sebelum jenazah tiba.
Ketika Semua Telah Disiapkan dengan Amanah
Tenda telah berdiri rapi.
Kursi tertata.
Air mineral, bunga tabur, kain penutup, kipas angin, sound system, MC, hingga dua ustadz pendamping—semuanya standby.
Inilah yang sering luput dari perhatian kita:
ketenangan keluarga saat pemakaman sangat ditentukan oleh kesiapan sistem.
Tidak ada kepanikan.
Tidak ada kebingungan.
Tidak ada keluarga yang harus “berlari ke sana kemari” di saat duka.
Hujan yang Datang, Lalu Pergi

Saat ambulans terdeteksi mendekat di Google Maps, sesuatu yang tak direncanakan terjadi.
Hujan turun.
Bukan hujan lebat.
Bukan badai.
Hanya gerimis lembut, seolah sekadar lewat.
Udara yang sebelumnya panas berubah sejuk.
Angin berembus pelan.
Suasana menjadi adem, tenang, dan damai.
Gerimis itu menemani hingga prosesi pemakaman selesai.
Dan setelah semua selesai—seolah telah menunaikan tugasnya—hujan pun berhenti.
Panas kembali seperti semula.
MasyaAllah.
Belakangan kami tahu, almarhum adalah Ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) di wilayah tempat tinggalnya.
Tak ada yang berani menafsirkan berlebihan.
Namun hati ini diam-diam berbisik:
Allah Maha Lembut pada hamba-Nya yang mengabdikan hidup untuk rumah-Nya.
Menutup Duka dengan Ketenteraman

Usai pemakaman, keluarga tidak langsung pulang.
Mereka berkumpul di lounge Al-Azhar Memorial Garden.
Menikmati teh hangat.
Kopi.
Snack sederhana.
Bukan untuk bersenang-senang—
melainkan untuk menenangkan jiwa yang baru saja melepas orang tercinta.
Di situlah saya kembali merenung.
Pemakaman bukan hanya tentang liang lahat.
Ia adalah tentang adab, ketenangan, dan kemuliaan manusia di akhir perjalanannya.
Sebuah Pelajaran untuk Kita yang Masih Diberi Waktu
Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti.
Bukan pula untuk memaksa siapa pun.
Ini hanya pengingat lembut:
bahwa kematian sering datang tanpa janji,
dan ketenangan keluarga di hari itu
sangat ditentukan oleh keputusan yang kita siapkan hari ini.
Jika suatu saat nanti keluarga kita harus melepas,
biarlah mereka melepas dengan tenang.
Tanpa air di liang lahat.
Tanpa kepanikan.
Tanpa penyesalan.
Dan itulah makna sejati dari pemakaman syariah yang amanah, di Al Azhar Memorial Garden.

Baca Artikel Lainnya :
Manfaat Ziarah Kubur bagi Mayit dan Peziarah Menurut Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Apakah Menyiapkan Makam Lebih Awal Mengundang Kematian Lebih Cepat? Ini Penjelasan Lengkapnya
Benarkah Agen Makam Al Azhar Berbahagia di Atas Kedukaan Orang Lain?
Masalah “Preman” di TPU Saat Ziarah dan Solusi Khusyuk di Makam Al Azhar Memorial Garden

