
1️⃣ Kematian Bukan Akhir, Tapi Awal Kehidupan Baru
Dalam Islam, kematian bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang hakiki, yaitu alam barzakh dan kemudian akhirat.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
(QS. Āli ‘Imrān: 169)
Juga firman-Nya:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya di akhirat sajalah balasan yang sempurna.”
(QS. Āli ‘Imrān: 185)
Ayat-ayat ini menjadi bukti tegas bahwa kehidupan setelah mati adalah nyata dan kekal.
2️⃣ Istilah “Rumah Terakhir” dalam Bahasa dan Adab
Istilah seperti “rumah terakhir” atau “peristirahatan terakhir” sering muncul dalam budaya dan percakapan masyarakat. Dalam konteks Islam, sebenarnya istilah itu tidak salah secara mutlak, asal tidak dimaknai sebagai akhir kehidupan secara ontologis, melainkan sebagai akhir perjalanan duniawi seseorang.
Para ulama klasik menjelaskan bahwa kubur adalah “manzil pertama dari manzilah akhirat”.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari tempat-tempat di akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka setelahnya lebih mudah. Jika ia tidak selamat darinya, maka setelahnya lebih berat.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad – hadits hasan shahih)
Hadis ini menunjukkan bahwa kubur adalah awal dari perjalanan akhirat, bukan akhir dari segalanya. Maka menyebutnya “tempat peristirahatan terakhir” boleh saja jika maksudnya adalah tempat berhentinya jasad di dunia, bukan akhir kehidupan ruhani.
3️⃣ Penjelasan Ulama Tentang Kubur Sebagai “Manzil” (Tempat Singgah)
Imam al-Qurthubi dalam kitabnya at-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wal Akhirah menulis:
“Kubur adalah rumah pertama dari rumah-rumah akhirat, dan tempat singgah pertama menuju kehidupan kekal.”
Begitu pula disebut oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam ar-Ruh:
“Alam kubur adalah tempat tinggal pertama bagi ruh setelah berpisah dari jasad. Di sana ia merasakan nikmat atau azab, sampai hari kebangkitan.”
Dari penjelasan para ulama ini, dapat disimpulkan bahwa menyebut makam sebagai “rumah terakhir” dalam konteks duniawi tidak berarti menolak kehidupan setelah mati. Karena yang “terakhir” di sini adalah tempat jasad beristirahat di dunia, sementara ruh telah berpindah ke kehidupan barzakh.
4️⃣ Istilah “Peristirahatan Terakhir” Bukan Istilah Kafir, Tapi Konteks Bahasa
Memang benar, dalam sebagian budaya Barat sekuler, istilah “final resting place” muncul dari pandangan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Namun dalam konteks bahasa Indonesia dan komunikasi umat Islam, istilah itu tidak selalu mengandung makna teologis, melainkan ungkapan empati dan penghormatan terhadap jenazah.
Kita tentu tidak menyamakan penggunaan istilah dengan keyakinan orang kafir.
Yang penting adalah niat, keyakinan, dan konteks penggunaannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Jika niatnya untuk mengingatkan kematian, menghormati jenazah, dan mengingat akhirat, maka tidak ada dosa dan tidak perlu dihindari. Namun tetap baik jika disertai edukasi maknanya agar tidak salah tafsir.
5️⃣ Alternatif Istilah Islami
Untuk menjaga kejelasan makna dan nilai dakwah, kita bisa memilih istilah yang lebih lembut sekaligus bernilai tauhid:
- 🌿 Rumah peristirahatan dunia menuju akhirat
- 🌙 Rumah pertama menuju keabadian
- 🕊️ Tempat singgah menuju kehidupan kekal
- 🌸 Perjalanan menuju rahmat Allah
Atau tetap memakai istilah “rumah terakhir” dengan penjelasan edukatif bahwa maksudnya adalah tempat jasad terakhir di dunia, bukan akhir kehidupan hakiki.
6️⃣ Penutup: Meluruskan, Bukan Menyalahkan
Menjaga akidah adalah kewajiban, namun menjaga adab dalam berdakwah juga penting. Banyak masyarakat awam yang belum memahami kedalaman istilah teologis. Maka tugas kita bukan menghakimi kata, tapi meluruskan makna dengan kasih sayang dan ilmu.
Karena sejatinya, makam bukan akhir — tapi awal menuju keabadian.
Dan bagi yang beriman, ia bukan tempat takut, tapi tempat menanti janji Allah.
“Salam sejahtera bagi kalian, wahai penghuni kubur yang beriman. Sungguh kami, insyaAllah, akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi kami dan kalian.”
(HR. Muslim)
🕊️ Kesimpulan Singkat:
| Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|
| Apakah “rumah terakhir” salah? | Tidak salah jika dimaknai sebagai tempat jasad terakhir di dunia, bukan akhir kehidupan. |
| Adakah dalil bahwa kubur adalah tempat awal akhirat? | Ya, hadis riwayat Tirmidzi dan ulama seperti al-Qurthubi dan Ibnul Qayyim. |
| Apakah istilah itu berasal dari orang kafir? | Asalnya bisa dari Barat, tapi penggunaan di kalangan Muslim berbeda konteks — bukan keyakinan kufur. |
| Bagaimana sebaiknya? | Boleh digunakan dengan edukasi makna, atau diganti dengan istilah yang lebih islami tanpa menimbulkan kesalahpahaman. |

Al Azhar Memorial Garden adalah tempat peristirahatan terakhir yang menjaga:
✔ syariah,
✔ kehormatan,
✔ ketenangan,
✔ dan kemudahan keluarga untuk berziarah selamanya.
Silakan pilih tipe yang paling sesuai untuk keluarga Anda.
Untuk cek ketersediaan kavling terbaik, saya siap membantu kapan saja. Hubungi Agen Resmi Al Azhar Memorial Garden
Baca Artikel Lainnya :
Bersama Hingga Akhirat: Ketika Sahabat Iman Ingin Dimakamkan Berdampingan
Meneladani Umar dan Aisyah: Menyiapkan Rumah Terakhir dengan Adab dan Ihsan
Menyiapkan Rumah Terakhir: Antara Fardhu Kifayah dan Amanah Pribadi

