
alazharheritage.com – Ketika Kursi Roda Menyentuh Batu Nisan – Ada Kisah yang Tak Pernah Selesai di Depan Sebuah Nisan
Di Al Azhar Memorial Garden, ada momen-momen sunyi yang tak tertulis di brosur mana pun.
Tidak terdengar dalam presentasi marketing.
Tidak tampak dalam foto iklan.
Namun di antara ratusan ziarah yang berlangsung setiap pekan,
ada satu pemandangan yang selalu membuat hati basah:
Seorang ayah yang sepuh, didorong oleh anaknya dengan kursi roda, perlahan mendekati makam istrinya.
Tidak ada kata.
Hanya tarik napas panjang… dan detik-detik hening yang terasa seperti pulang.
🕊️ 1. Ketika Cinta Tidak Bisa Lagi Berjalan, Tapi Masih Bisa Dibawa Mendekat
Banyak pasangan yang sudah menua berharap satu hal:
“Siapa pun yang mendahului, jangan pisahkan kita terlalu jauh.”
Karena itulah banyak keluarga memilih dua kavling berdampingan.
Ada pasangan yang sudah 40 tahun bersama — namun ketika salah satunya dipanggil Allah, yang tersisa hanya kursi roda dan anak-anak yang setia mendorong.
Di TPU biasa, kursi roda sering:
- sulit masuk,
- melewati tanah becek,
- harus melangkahi makam lain,
- terperosok di antara rumput liar,
- atau bahkan tidak bisa menuju makam karena tidak ada jalan.
Banyak keluarga akhirnya hanya berhenti di pintu gerbang
dan berkata: “Ayah lihat dari sini saja ya.”
Itu bukan ziarah — itu kesedihan.
🌿 2. Di Walkway Itu, Ada Kehormatan untuk yang Rapuh
Walkway di Al Azhar bukan hanya “jalur” —
ia adalah adab untuk yang lemah,
kemuliaan bagi yang sepuh,
dan jalan pulang bagi cinta yang tertinggal di dunia.
Jalur ini dibuat rata, tidak melangkahi makam,
dipisahkan dengan jelas antara area tanam dan area pijakan.
Sehingga siapa pun yang menggunakan:
- kursi roda,
- walker,
- tongkat,
- atau memiliki kondisi kesehatan tertentu
tetap bisa mendekati orang yang mereka cintai dengan rasa hormat.
Karena ziarah bukan sekadar datang.
Ziarah adalah kedekatan batin.
Dan walkway adalah jembatannya.
🌸 3. Kisah Ibu Sepuh yang Menemui Anak Satu-Satunya
Suatu hari, ada seorang ibu sepuh yang datang dengan kursi roda.
Ia kehilangan anak laki-lakinya — satu-satunya yang ia punya — dalam sebuah musibah.
Saat sampai di depan makam, tangannya gemetar memegang nisan:
“Nak… Ibu datang… walau Ibu tidak kuat lagi berjalan.”
Anaknya yang lain mendorong kursi roda itu dengan lembut.
Tangisnya menetes, bukan hanya karena rindu,
tetapi karena ia bisa membawa ibunya sampai ke tanah tempat saudaranya beristirahat — tanpa terhalang, tanpa harus menginjak makam orang lain, tanpa rasa bersalah.
Itulah fungsi walkway:
memudahkan yang lemah untuk mencintai.
🕌 4. Islam Tidak Pernah Mengajarkan Ziarah dengan Menginjak Kemuliaan Orang Lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadapinya.”
(HR. Muslim)
Para ulama menafsirkan ini sebagai larangan:
- melangkahi makam,
- menginjak area kubur,
- menjadikan kubur orang lain sebagai pijakan,
- mengurangi kehormatan jenazah.
Inilah yang sering tidak kita sadari di TPU umum:
Orang tua ingin ziarah,
tapi anaknya harus menarik kursi roda dengan memijak nisan keluarga lain.
Di satu sisi berbakti,
di sisi lain tanpa sadar mengganggu kubur orang lain.
Di Al Azhar, walkway dibuat bukan untuk kenyamanan,
tetapi untuk adab.
Agar tidak ada satu pun makam yang diinjak karena terpaksa.
🌿 5. Kisah Suami Tua yang Tidak Bisa Melihat, Tapi Masih Ingin Mengusap Tanah Istrinya

Ada seorang kakek yang matanya tidak lagi melihat jelas.
Setiap bulan, ia meminta anaknya membawanya ke makam istrinya di Al Azhar.
Katanya:
“Ayah tidak bisa lihat wajah ibu lagi…
tapi Ayah masih ingin menyentuh tanah tempat Ibu tidur.”
Ia diturunkan dari kursi roda tepat di tepi makam —
tidak ada rumput liar, tidak ada gangguan, tidak ada batu tajam.
Ia membungkuk perlahan, dan mengusap tanah itu dengan jemarinya.
Di situlah cinta menemukan bentuk paling sunyi.
Di tempat yang tidak mudah dilalui,
mungkin ia tidak akan bisa menyentuh tanah itu lagi.
🌸 6. Renungan: Kita telah menyiapkan segalanya dalam hidup, mengapa rumah terakhir tidak kita pilih dengan lebih manusiawi?
Bagi keluarga yang sudah sepuh:
- berjalan sulit,
- menapak licin,
- naik turun tanah berbahaya,
- menyeberangi makam orang lain menyakitkan hati.
Ketika seseorang sudah tidak mampu berdiri tegak,
yang paling ia butuhkan adalah kemudahan untuk tetap mencintai.
Walkway bukan fasilitas.
Walkway adalah penghormatan.
Dan ketika kita memilih makam yang baik,
kita tidak hanya memuliakan diri setelah wafat —
kita juga memudahkan keluarga untuk tetap menyambung doa.
🌿 7. Penutup – Cinta yang Tidak Bisa Berjalan, Tetap Bisa Dibawa Pulang
Kita tidak tahu siapa yang akan pergi lebih dulu.
Suami atau istri.
Ayah atau ibu.
Kita atau anak kita.
Tapi kita bisa memilih satu hal:
Bahwa siapa pun yang ditinggalkan, mereka tetap bisa datang dengan hormat, tanpa kesulitan, tanpa melangkahi makam siapa pun.

Di Al Azhar Memorial Garden, walkway itu menjadi saksi:
- cinta yang dibawa dengan kursi roda,
- doa yang mengalir di antara dedaunan,
- air mata yang jatuh tanpa terhalang tanah becek.
Karena di sana, yang rapuh pun tetap dimuliakan.
Dan di sanalah, keluarga menemukan rumah terakhir
yang tidak hanya indah,
tetapi manusiawi, syar’i, dan penuh cinta.
🌿
Al Azhar Memorial Garden
Tempat di mana rindu bisa menemukan jalan pulang.
Ingin Konsultasi dan Pendampingan Survey Hubungi Agen Resmi Kami di sini.
Baca Artikel Lainnya :
Bekasi dalam Bayang Krisis Makam: Fakta, Risiko, dan Langkah Bijak Keluarga Muslim
Mengapa Makam Harus Lunas Sebelum Digunakan? Memahami Adab Syariah dan Hikmah Besarnya bagi Keluarga
“Kalau Saya Meninggal, Buang ke Laut Saja…”. Sebuah Ucapan yang Perlu Diluruskan dengan Hati-hati
Di Antara Dua Makam: Renungan Tentang Pilihan Hidup, Kehormatan, dan Rumah Terakhir Kita

