
alazharheritage.com – Ketika Tiga TPU Penuh dan Jenazah Harus Menunggu Sampai Esok Hari. Hari Ketika Semua Orang Menangis, Tapi Kaki Harus Tetap Melangkah
Tidak ada yang lebih berat daripada kehilangan orang yang kita cintai.
Namun ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri:
saat keluarga harus berkeliling mencari makam sambil membawa duka yang belum sempat mereda.
Inilah kisah nyata yang menimpa keluarga kami sendiri.
Sebuah pengalaman yang membuka mata — bahwa kematian memang pasti datang,
tetapi tempat yang layak tidak selalu tersedia.
🕊️ Kisah Itu Terjadi Begitu Cepat…
Hari itu, istri adik ipar saya menghembuskan napas terakhir saat melahirkan anaknya yang kedua.
Syok, haru, dan kesedihan bercampur menjadi satu.
Namun duka belum benar-benar turun ke hati,
sudah harus kami hadapi kenyataan pahit berikutnya:
Di mana beliau akan dimakamkan?
Dengan naik sepeda motor, saya dan adik ipar saya langsung bergerak.
Bukan untuk memburu waktu,
tetapi karena syariat meminta kita menyegerakan pemakaman.
Mencari Makam di Are Pancoran Jakarta Selatan:
TPU Rawajati Pancoran → TPU Menteng Pulo Tebet → TPU Cikoko Barat Pancoran
Satu per satu lokasi kami datangi: Satu Jawaban: “Penuh.”
Petugas menggeleng. Tidak ada lahan sama sekali.
Yang tersedia hanya tumpang atau penataan ulang. Bahkan sore itu area makam sudah ditutup, tidak bisa pemakaman 24 jam.
Setiap kata “penuh” adalah pukulan emosional bagi keluarga yang sedang berduka.
Jenazah menunggu di rumah duka,
sementara kami berkeliling dengan perasaan campur aduk:
lelah, sedih, bingung, dan takut
sampai malam hari itu berakhir tanpa kepastian.
🕯️ Akhirnya… Ada Tempat.
Setelah hampir menyerah, besok paginya kami mendapat informasi ada satu tempat kecil di pemakaman masjid. Tapi letaknya di antara jalur sempit di antara makam yang ada di area pemakaman sebuah masjid tersebut.
Kami menuju ke sana.
Betul ada tempat —
tetapi bukan lahan yang lapang.
Bukan tempat yang mudah dilalui, karena harus melangkahi makam yang berdempetan.
Tempat itu kecil…
diapit oleh makam-makam lain yang sangat rapat.
kami harus melangkahi makam-makam lain.
Tidak ada jalur, tidak ada walkway, karena sejatinya pemakaman itu karena sudah tidak ada pilihan lagi.
Dan jujur…
di momen itulah hati kami terasa diremas.
“Apakah ini tempat yang layak untuk orang sebaik beliau?”
“Apakah ini kehormatan terakhir yang ia dapatkan?”
Keluarga akhirnya pasrah.
Bukan karena itu pilihan terbaik,
tapi karena tidak ada pilihan lain. Jenazah harus menunggu dan prosesi pemakaman baru bisa dilakukan keesokan harinya setelah kepergiannya.
🕌 Renungan: Benar, Semua Orang Pasti Dimakamkan.

Tapi Tidak Semua Dimakamkan Dengan Layak.
Pengalaman ini membuat saya benar-benar paham:
Kita semua pasti dimakamkan.
Tapi kita tidak bisa menjamin di mana.
Kita tidak bisa menjamin bagaimana kondisi tempatnya.
Kita tidak bisa memastikan keluarga tidak panik.
Kita tidak bisa memastikan adab syariah terjaga.
Selama ini banyak orang berkata:
“Makam mah pasti ada.”
“Nanti juga dapat tempat.”
Ya, dapat.
Tapi dengan harga batin yang seperti apa?
Dan apakah layak bagi orang yang kita sayangi?
🕌 Syariah Mengajarkan Kehormatan Jenazah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Memecahkan tulang mayit sama seperti memecahkan tulang orang hidup.”
(HR. Abu Dawud)
Dan para ulama menegaskan:
- tidak boleh melangkahi makam
- tidak boleh duduk di atasnya
- tidak boleh bercampur
- tidak boleh di tempat najis atau sempit
- disegerakan pemakamannya
- dijaga kehormatannya sampai akhir
Tapi apa daya,
jika kota besar tidak menyediakan ruang yang layak?
🌿 Lalu Apa Solusinya?
Perencanaan.
Ya, perencanaan.
Bukan karena takut mati.
Bukan karena ingin tampil berbeda.
Tetapi karena:
- kita ingin menjaga adab syariah,
- kita ingin memuliakan orang yang kita cintai,
- kita ingin keluarga tenang saat duka datang,
- kita tidak ingin mencari-cari makam dalam keadaan bingung,
- kita ingin ziarah yang nyaman dan khusyuk.
Perencanaan itu tanda cinta.
Bukan untuk diri sendiri saja, tapi untuk keluarga.
🌿 Mengapa Banyak Keluarga Akhirnya Memilih Al Azhar Memorial Garden

Karena mereka sudah melihat sendiri:
- TPU penuh
- administrasi rumit
- tumpang 3–5 tahun
- tanah bergeser
- makam tidak terawat
- lokasi sempit
- dekat TPS
- tidak ada jalur ziarah
- keluarga tidak tenang
Sementara di Al Azhar Memorial Garden:
✔ tidak tumpang
✔ tidak bercampur
✔ ada walkway (tidak melangkahi makam)
✔ perawatan selamanya
✔ suasana tenang
✔ pemakaman sesuai syariah
✔ keluarga bisa langsung ziarah dengan khusyuk
✔ kehormatan terjaga sampai akhir
Ini bukan soal mewah.
Ini soal kemuliaan.

🌸 Penutup – Jangan Biarkan Keluarga Mengalami Apa yang Kami Alami
Kejadian itu sudah terjadi.
Dan tidak bisa diulang atau diperbaiki.
Tetapi pengalaman itu menjadi pelajaran:
Jangan tunggu sampai duka datang baru kita sibuk mencari makam.
Jangan biarkan keluarga panik seperti kami.
Jangan izinkan kehormatan terakhir menjadi pilihan terburuk.
Kita tidak bisa memilih kapan kita meninggal.
Tapi kita masih bisa memilih bagaimana kita dimuliakan.
🌿Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan kehormatan kita sampai akhir. Untuk Info agen resmi AL Azhar bisa langsung hubungi di link berikut : Agen Resmi Al Azhar Memorial Garden
“Toh Pasti Dapat Makam…” – Sebuah Renungan untuk yang Masih Merasa Tidak Perlu Merencanakan Makam
Adab Pemakaman Syariah & Realitas Makam Kota Besar: Mengapa Perencanaan Itu Penting Sejak Dini
Para Edukator Syariah, Ada Satu Bagian Penting dari Perencanaan yang Selama Ini Belum Kita Ajarkan…
Ketika Kursi Roda Menyentuh Batu Nisan: Kisah-Kisah Hening di Walkway Al Azhar Memorial Garden
