
alazharheritage.com- Lupa merencanakan makam karena sibuk merencanakan pensiun dan liburan?
Kita sering mendengar seseorang berkata:
“Nanti kalau saya pensiun, saya mau keliling luar negeri…”
“Saya mau bangun villa kecil untuk menikmati hari tua…”
“Saya ingin hidup tenang, menikmati hasil kerja keras…”
Semua rencana itu indah.
Semua keinginan itu manusiawi.
Namun kehidupan punya cara sendiri untuk menjawab mimpi manusia.
Banyak orang yang sepanjang hidupnya menabung,
mengumpulkan aset, merancang pensiun…
tetapi meninggal sebelum semua mimpi itu terwujud. Sering kali kita terlalu fokus pada rencana pensiun dan Lupa Merencanakan Makam. Mengingat pentingnya mempersiapkan segala hal, termasuk persiapan akhir hidup, sebaiknya kita tidak hanya terfokus pada rencana pensiun saja. Untuk itu, Anda perlu menyusun rencana yang mencakup segala aspek hidup, termasuk Lupa Merencanakan Makam.
Dan yang lebih menyedihkan:
Mereka telah merencanakan banyak hal,
kecuali satu hal yang pasti terjadi—
rumah terakhir mereka.
1. Kita Merencanakan yang Belum Tentu Terjadi…
Tapi Mengabaikan yang Pasti Terjadi**
Hidup setelah pensiun?
Belum tentu kita mencapainya.
Liburan ke Jepang?
Belum tentu sempat pergi.
Bangun villa impian?
Belum tentu sempat melihat pondasinya.
Tetapi kematian?
Ia tidak pernah menunggu rencana,
tidak menunda sampai biaya terkumpul,
dan tidak peduli apakah kita siap atau tidak.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian
dan paling baik mempersiapkan diri untuk menghadapinya.”
(HR. Tirmidzi)
Betapa banyak orang yang menyiapkan hari tua,
tetapi tidak menyiapkan hari wafatnya.
2. Ketika Tidak Merencanakan Makam, Keluarga yang Menanggung Semua Beban
Saat seseorang wafat tanpa persiapan makam, biasanya terjadi:
- keluarga panik,
- saling menyalahkan,
- saling berebut keputusan lokasi,
- jenazah menunggu lama,
- harus keliling ke 2–5 TPU,
- akhirnya dapat di tempat sempit atau kurang layak,
- bahkan terkadang dekat TPS atau tempat becek.
Di saat seharusnya keluarga fokus berdoa,
mereka justru sibuk mencari lahan.
Seorang ayah berkata:
“Saya sudah bekerja keras seumur hidup untuk menenangkan anak-anak…
jangan sampai setelah saya meninggal,
justru saya yang membuat mereka kerepotan.”
Kematian adalah soal kehormatan,
bukan seberapa luas tanahnya.
3. Fakta yang Tidak Bisa Ditolak: Jakarta, Depok, Bekasi Sudah Krisis Makam
Bukan menakut-nakuti.
Ini data pemerintah:
- 90% TPU besar sudah penuh
- sisanya hanya menerima tumpang
- beberapa area terendam
- hampir tidak ada pembukaan lahan baru
- proyeksi 3–5 tahun lagi Jakarta krisis makam total
Artinya:
Orang kaya pun bisa kehabisan tempat.
Orang berpengaruh pun bisa tidak kebagian lahan.
Orang yang punya banyak aset sekalipun
tidak bisa membeli ruang jika memang ruang itu tidak ada.
Inilah kenyataan yang harus dihadapi hari ini.
4. Syariah Mengajarkan Kita untuk Menjaga Kehormatan di Rumah Terakhir
Islam tidak meminta makam mewah.
Namun Islam meminta makam yang terhormat.
- tidak tumpang
- tidak dilangkahi
- tidak bercampur non-muslim
- tidak di tempat najis
- tidak membuat ziarah sulit
- tidak menyusahkan keluarga
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Segerakanlah pemakaman jenazah.” (HR. Bukhari)
Bagaimana bisa disegerakan
jika keluarga masih mencari makam?
Bagaimana bisa memuliakan jenazah
jika lahan yang tersedia tidak layak?
Karena itu, menyiapkan makam lebih dini
bukan pesimis—
tetapi tanda kecerdasan iman.
5. Ketika Kita Menyiapkan Makam Lebih Dulu, Kita Telah Menjaga Keluarga dari Kepedihan Tambahan
Ketika seseorang menyiapkan makamnya:
- proses pemakaman cepat
- keluarga tidak panik
- semua berjalan tenang
- tidak ada konflik
- tidak ada pencarian lahan hingga malam
- orang tua dimuliakan
- anak-cucu lebih mudah berziarah
- adab syariah terjaga
Itu bukan kemewahan.
Itu hadiah terakhir untuk keluarga.
Dan hadiah itu tak ternilai harganya.
6. Inilah Mengapa Banyak Keluarga Memilih Al Azhar Memorial Garden

Mereka bukan mencari tempat “prestise”,
tetapi mencari:
✔ tempat 100% muslim
✔ tidak tumpang
✔ ada walkway – tidak melangkahi kubur
✔ perawatan selamanya
✔ lingkungan tenang & bersih
✔ adab syariah terjaga
✔ kepastian jangka panjang
✔ ziarah jadi ibadah yang khusyuk
Bukan mewah.
Bukan berlebihan.
Hanya layak, terhormat, dan sesuai syariah.
Dan di zaman ketika hidup penuh ketidakpastian,
menyiapkan satu hal yang pasti
adalah tanda kebijaksanaan.
🌸 Penutup —Jangan Sampai Kita Menyiapkan Masa Pensiun dengan Sempurna,
Tapi Lupa Menyiapkan Kepulangan Kita kepada Allah
Villa bisa dibangun nanti.
Liburan bisa direncanakan ulang.
Mobil bisa diganti.
Tapi rumah terakhir?
Ia tidak bisa ditunda.
Tidak bisa diulang.
Tidak bisa dinegosiasi.
Dan memilih tempat yang terhormat untuk kembali kepada Allah
adalah bentuk syukur,
bentuk cinta,
bentuk amanah,
bentuk kecerdasan iman.
Sebelum merencana perjalanan jauh…
siapkan dulu perjalanan pulang. Hubungi Agen Resmi Al Azhar untuk membantu anda merencakan Rumah Abadi Anda
Baca Artikel Lainnya:
Hidup di Jakarta Sulit… dan Mati pun Sulit: Karena Tidak Ada Lagi Makam
Makam Bukan Properti: Ia Adalah Adab Syariah, Tanggung Jawab, dan Bahasa Cinta Terakhir
Ini Bukan Makam Eksklusif: Ini Tentang Adab, Kehormatan, dan Tanggung Jawab Keluarga
Mengapa Banyak Orang Tidak Percaya Diri Membahas Pemakaman? Penjelasan Syariah, Nalar, dan Nurani

