
alazharheritage.com – Meneladani Umar dan Aisyah– Ada satu kisah yang lembut namun mengguncang hati dari sejarah para sahabat Rasulullah ﷺ — tentang bagaimana mereka menyiapkan rumah terakhirnya, dengan penuh adab, kesederhanaan, dan keimanan.
🕊️ Kisah Umar bin Khattab dan Permintaan yang Penuh Adab
Ketika Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ditikam oleh Abu Lu’lu’ah, dan luka beliau semakin parah, beliau tahu bahwa ajalnya sudah dekat.
Namun di tengah sakit yang berat itu, beliau tidak memikirkan warisan, bukan pula kedudukan, melainkan tempat di mana tubuhnya akan dikembalikan ke tanah.
Beliau berkata kepada putranya, Abdullah bin Umar:
“Wahai putraku, pergilah kepada Aisyah, Ummul Mukminin, dan sampaikan salam dariku. Mintalah izin kepadanya agar aku dimakamkan di samping dua sahabatku (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar).”
Maka Abdullah pun datang kepada Sayyidah Aisyah dan menyampaikan pesan itu.
Aisyah menjawab dengan penuh adab dan kelembutan:
“Dulu aku telah menyiapkan tempat itu untuk diriku sendiri, tetapi hari ini, aku akan mengutamakannya untuk Umar.”
Dan Umar pun menangis mendengar kabar itu, seraya berkata:
“Alhamdulillah, tidak ada yang lebih penting bagiku di dunia ini daripada dikuburkan bersama sahabat-sahabatku.”
Subhanallah.
Begitulah Umar — seorang amirul mukminin, pemimpin agung, tetapi tetap meminta izin dengan adab, tidak memaksakan kehendak, dan tetap menjaga etika bahkan untuk urusan setelah wafat.
🌸 Hikmah Agung: Merencanakan Kematian Bukan Tanda Lemah Iman
Kisah ini mengajarkan banyak hal.
Pertama, bahwa menyiapkan tempat pemakaman bukanlah tanda pesimis atau takut mati, melainkan bentuk kesadaran tinggi akan kepastian takdir.
Umar bin Khattab bukan hanya siap mati, tapi siap kembali kepada Allah dengan terhormat dan beradab.
Beliau tahu, sebagaimana hidup harus dijalani dengan ihsan, maka kematian pun harus diakhiri dengan ihsan — termasuk tempat peristirahatan terakhirnya.
Sayyidah Aisyah pun mencontohkan kemuliaan hati: beliau telah menyiapkan tempat itu untuk dirinya, tetapi mengikhlaskan bagi orang yang lebih utama.
Inilah teladan tentang ikhlas, tawadhu’, dan tanggung jawab sosial dalam urusan kematian.
🌿 Menyiapkan Makam dalam Perspektif Fiqih dan Adab Islam
Dalam pandangan fiqih, menyiapkan lahan makam termasuk bagian dari fardhu kifayah umat Islam, karena setiap komunitas Muslim wajib memiliki tempat penguburan.
Namun dalam konteks pribadi, menyiapkan rumah terakhir sejak hidup adalah bentuk tanggung jawab moral dan finansial yang sejalan dengan semangat syariah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Segerakanlah penguburan jenazah…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, ketika seorang Muslim wafat, pemakaman harus segera dilakukan tanpa menunda-nunda.
Bagaimana mungkin bisa disegerakan bila lahan belum ada, lokasi belum jelas, dan keluarga masih bingung mencari tempat?
Maka, menyiapkan lahan makam sejak dini bukanlah berlebihan.
Sebaliknya, ia adalah bentuk ihsan dalam perencanaan akhir hayat — agar ketika ajal datang, urusan pemakaman bisa berjalan dengan tertib, penuh kehormatan, dan sesuai tuntunan syariat.
💭 Pelajaran untuk Umat Modern: Dari Adab Menuju Amanah
Hari ini, banyak orang merencanakan hampir semua hal untuk hidupnya:
- Tabungan pendidikan anak,
- Dana pensiun,
- Asuransi kesehatan,
- Investasi rumah dan aset dunia.
Namun sedikit yang merencanakan rumah terakhirnya.
Padahal, inilah satu-satunya “rumah” yang benar-benar pasti akan ditempati.
Bahkan sebagian orang menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada keluarga.
Padahal keluarga sedang dalam duka, harus mencari lahan pemakaman, mengurus surat, membayar biaya, dan mengatur logistik dalam waktu yang sangat sempit.
Bukankah itu beban yang bisa kita ringankan sejak sekarang?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan sesuatu, maka ia menyempurnakannya (ihsan).”
(HR. Thabrani)
Menyiapkan rumah terakhir dengan ihsan berarti menyempurnakan amal hidup.
Karena kematian bukan penutup tanggung jawab, tapi bagian dari tanggung jawab itu sendiri.
🌺 Al Azhar Memorial Garden: Meneladani Spirit Umar dan Aisyah
Di zaman modern, semangat adab dan ihsan itu bisa kita lihat dalam bentuk nyata melalui perencanaan pemakaman syariah seperti di Al Azhar Memorial Garden.
Mengapa? Karena konsepnya bukan sekadar menjual lahan makam, tapi menghidupkan nilai adab Islam dalam pengurusan jenazah dan perawatan makam.
Beberapa nilai kesamaan yang sejalan dengan kisah Umar dan Aisyah:
| Nilai Islami | Praktik di Al Azhar |
|---|---|
| Menghadap kiblat & tata syar’i | ✅ Setiap makam mengikuti arah kiblat |
| Pemisahan Muslim & non-Muslim | ✅ Area eksklusif Muslim |
| Menjaga kehormatan kubur | ✅ Tidak terinjak, tidak diduduki |
| Perawatan berkelanjutan | ✅ Dikelola profesional dan abadi |
| Adab & ketenangan | ✅ Suasana tenang untuk doa dan ziarah |
Dengan demikian, memilih makam seperti Al Azhar bukan soal kemewahan, tapi soal kepastian adab, ketaatan syariah, dan tanggung jawab sosial.
Umar memohon izin agar dimakamkan di tempat yang baik, bukan karena ambisi, tapi karena ingin bersama orang saleh.
Kita pun hari ini bisa memohon dengan cara modern — bukan untuk “tempat di samping Nabi”, tapi untuk tempat yang menjaga kehormatan dan doa kita.

🕯️ Penutup: Siapkan Rumah Terakhir dengan Adab, Ihsan, dan Cinta
Dari Umar kita belajar tentang adab dan kesadaran diri.
Dari Aisyah kita belajar tentang keikhlasan dan pengorbanan.
Dari Islam kita belajar bahwa kematian pun harus disiapkan dengan cinta dan ihsan.
Menyiapkan rumah terakhir bukan tanda takut mati, tapi tanda siap kembali.
Bukan tanda lemah iman, tapi tanda iman yang matang.
“Hidup yang baik ditutup dengan kematian yang terhormat,
dan kematian yang terhormat dimulai dari tempat peristirahatan yang dijaga dengan cinta.”
🌿 Maka, segerakanlah amal kebaikan, termasuk menyiapkan rumah terakhir dengan ihsan —
sebagaimana Umar menyiapkan tempatnya dengan adab,
dan Aisyah mengikhlaskannya dengan cinta.
Baca Artikel Lainnya :
Menyiapkan Rumah Terakhir: Antara Fardhu Kifayah dan Amanah Pribadi

