Copy of AMG Aerial Belakang 3

Mengapa Banyak Orang Tabu Membahas Pemakaman? Penjelasan Syariah, Nalar, dan Nurani

Mengapa Banyak Orang Tabu Membahas Pemakaman
Makam Muslim Al Azhar Memorial Garden menghadirkan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar tempat beristirahat, tetapi taman penuh adab dan ketenangan spiritual, tempat di mana doa-doa terucap dalam kedamaian.

alazharheritage.com – Banyak Orang Tabu Membahas Pemakaman. Sebuah Topik yang Selalu Dihindari untuk dibahas

Ada satu hal yang hampir semua orang rasakan sama:

Tidak percaya diri ketika harus membicarakan pemakaman.

Bukan karena tidak penting,
tetapi karena topik ini sering dianggap tabu, menakutkan, atau terlalu “dewasa”.

Bahkan mereka yang sangat berpengalaman, mapan, berilmu, dan terhormat sekalipun
sering terdiam ketika pembicaraan mengarah ke kematian.

Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini bukan ancaman,
tetapi pengingat lembut
bahwa kematian bukan untuk ditakuti—
melainkan untuk dipersiapkan dengan tenang dan bermartabat.

Namun mengapa banyak orang tetap tidak percaya diri membahasnya?

Mari kita telusuri.


🕌 1. Kematian Itu Dekat di Hati, Tapi Jauh dari Pembicaraan

Di banyak budaya, kematian dibungkus sunyi.
Kita hanya berbicara ketika sudah terpaksa.
Sementara di sisi lain, kita menyaksikan:

  • keluarga mencari makam ke 3–5 TPU,
  • jenazah menunggu di rumah duka,
  • lahan pemakaman penuh,
  • area yang tersisa sempit, becek, atau dekat TPS,
  • syariah sulit diterapkan karena keterbatasan ruang.

Semua ini terjadi karena pembicaraan tentang pemakaman
selalu ditunda,
sampai akhirnya menyesal.

Padahal Islam mengajarkan adab pemakaman dengan sangat mulia:

  • jenazah harus segera dimakamkan,
  • kehormatan jasad dijaga,
  • tidak dilangkahi,
  • tidak bercampur non-Muslim,
  • tidak dibiarkan terbengkalai,
  • dimakamkan di tempat layak.

Ketika pembicaraan tentang kematian dihindari,
adab-adab ini justru paling sering dilanggar.


🕌 2. Tidak Percaya Diri Karena Takut Menyakiti Hati Orang Lain

Membahas pemakaman terasa sensitif.
Seakan kita sedang berkata:

“Kalau nanti Anda meninggal…”

Padahal bukan itu tujuan pembicaraannya.

Tujuannya adalah:

  • melindungi keluarga,
  • mencegah kebingungan di hari duka,
  • menyiapkan kehormatan terakhir,
  • memastikan syariah dapat ditegakkan.

Sama seperti kita merencanakan:

  • pendidikan anak,
  • kesehatan,
  • warisan,
  • dan masa depan keluarga,

perencanaan pemakaman juga bagian dari cinta.

Namun karena kita tidak terbiasa membahasnya,
kita merasa “tidak pantas” untuk memulai.

Padahal justru pembahasan itu
bisa menyelamatkan keluarga dari cemas dan panik.


🕌 3. Tidak Percaya Diri Karena Tidak Menguasai Dalil dan Pengetahuan Syariah

Banyak orang takut salah bicara.
Takut ditanya dalil.
Takut dianggap sok tahu.

Padahal pengetahuan dasar adab pemakaman syariah itu sederhana:

✔ Menyegerakan pemakaman

✔ Menghadap kiblat

✔ Tidak bercampur dengan non-Muslim

✔ Tidak melangkahi makam

✔ Tidak menunda pemakaman tanpa alasan syar’i

✔ Menjaga kehormatan jenazah

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh, memecahkan tulang orang yang telah meninggal
sama seperti memecahkan tulang orang yang hidup.”

(HR. Abu Dawud)

Artinya, kehormatan selepas wafat sama pentingnya dengan kehormatan saat hidup.

Pembicaraan tentang pemakaman
seharusnya masuk dalam lingkup adab, bukan tabu.


🕌 4. Tidak Percaya Diri Karena Kita Tidak Melihat Kebutuhan yang Mendesak

Di Jakarta, Depok, Bekasi:

  • banyak TPU sudah penuh,
  • beberapa hanya menerima tumpang,
  • tanah rawan longsor atau banjir,
  • makam hilang atau bergeser,
  • banyak area dekat TPS atau pinggir selokan,
  • ziarah menjadi sulit karena tidak ada walkway.

Fakta-fakta ini tidak bisa dibantah.
Ketika kita tahu kenyataan ini,
baru kita sadar bahwa pembicaraan tentang pemakaman
bukan pilihan — tapi kebutuhan keluarga.


🌿 5. Inilah Mengapa Membicarakan Pemakaman Adalah Bentuk Perhatian, Bukan Kesuraman

Mungkin kita ragu berbicara,
tapi keluarga membutuhkan seseorang yang berani menjaga kehormatannya.

Pembicaraan tentang pemakaman adalah:

  • usaha mencegah keluarga panik,
  • usaha memastikan syariah ditegakkan,
  • usaha melindungi anak-cucu dari kebingungan,
  • usaha agar ziarah kelak nyaman dan khusyuk.

Membicarakan kematian bukan menebar ketakutan,
tetapi menyiapkan ketenangan.


🌿 6. Bagaimana Al Azhar Memorial Garden Membantu Kita Berbicara dengan Lebih Tenang

Mengapa Banyak Orang Tabu Membahas Pemakaman

Al Azhar Memorial Garden lahir dari kebutuhan zaman:

  • semua muslim,
  • tidak bercampur,
  • tidak tumpang,
  • tidak dilangkahi,
  • ada walkway,
  • perawatan selamanya,
  • tata ruang rapi,
  • syariah dipegang teguh,
  • lokasi tenang & terhormat.

Ketika tempatnya jelas, adabnya terjaga, dan perawatannya pasti,
pembicaraan tentang pemakaman menjadi jauh lebih mudah.

Karena kita tidak berbicara tentang kematian—
kita sedang berbicara tentang ketenangan keluarga.


🌸 Penutup – Berbicaralah dengan Hati, Bukan Dengan Rasa Takut

Tidak percaya diri itu wajar.
Tetapi setelah memahami:

  • dalil,
  • realitas lapangan,
  • dan pentingnya adab syariah,

kita akan melihat bahwa pembahasan pemakaman bukanlah beban,
tetapi ibadah dan kasih sayang.

Dan keluarga akan berterima kasih
karena kita memulai pembicaraan yang sering mereka tunda,
tetapi sangat mereka perlukan.

🌿
Semoga Allah memudahkan setiap keluarga muslim
untuk memuliakan perjalanan terakhir menuju-Nya.

Baca Artikel Lainnya :

Ketika Tiga TPU Penuh dan Jenazah Harus Menunggu Sampai Esok Hari: Renungan dari Sebuah Peristiwa Nyata

“Toh Pasti Dapat Makam…” – Sebuah Renungan untuk yang Masih Merasa Tidak Perlu Merencanakan Makam

Adab Pemakaman Syariah & Realitas Makam Kota Besar: Mengapa Perencanaan Itu Penting Sejak Dini

Ketika Kursi Roda Menyentuh Batu Nisan: Kisah-Kisah Hening di Walkway Al Azhar Memorial Garden

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *