Pagi Selepas Subuh, Telepon Itu Datang
Sebuah kisah nyata tentang seorang anak yang kehilangan ibu dan ayahnya dalam jarak sekitar dua pekan—dan pengalaman pemakaman yang mengubah cara keluarganya memandang persiapan makam.
“Ustaz, Saya Mau Minta Bantuan…”
Pagi itu, tidak lama setelah shalat Subuh, telepon saya berdering.
Yang menghubungi adalah salah seorang jamaah haji yang dahulu pernah saya bimbing. Dengan hati-hati ia berkata, “Ustaz, izin pagi-pagi mengganggu. Saya mau minta bantuan.”
Tadi malam, jam 2 dini hari, ayah dari salah seorang temannya meninggal dunia. Pagi itu keluarga harus segera mencari tempat pemakaman. Tetapi sang anak mempunyai satu permintaan yang tegas: ia tidak ingin ayahnya dimakamkan di dekat makam ibunya.
Saya bertanya, mengapa?
Ternyata baru sekitar dua pekan sebelumnya, ibunya meninggal dunia dan dimakamkan di salah satu TPU di sekitar Ancol. Hari pemakaman itu meninggalkan pengalaman yang sangat membekas bagi keluarga.
Berdasarkan cerita keluarga, air dicoba dikeluarkan dengan ember. Setelah dibuang, air muncul kembali. Sementara jenazah sang ibu sudah menunggu untuk dimakamkan.
Dalam situasi yang penuh tekanan itu, proses pemakaman akhirnya tetap dilanjutkan. Kain kafan putih yang membungkus tubuh sang ibu terkena air dan tanah.
Sang anak melihat semuanya.
Ia menangis. Di tengah duka kehilangan seorang ibu, pengalaman tersebut menjadi kenangan yang sulit dilepaskan.
Dua Pekan Kemudian, Ayahnya Berpulang
Luka kehilangan ibu mungkin belum sempat pulih. Kini ayahnya menyusul. Dan satu keinginan segera muncul dalam hati sang anak: “Saya tidak ingin Bapak mengalami seperti Ibu.”
Dalam Duka, Keluarga Tidak Punya Banyak Waktu
Melalui jamaah yang menghubungi saya selepas Subuh, keluarga kemudian meminta bantuan agar sang ayah dapat dimakamkan di Al Azhar Memorial Garden.
Bayangkan keadaan sang anak. Baru sekitar dua pekan kehilangan ibu. Sekarang ayahnya berpulang. Dalam keadaan seperti itu ia kembali harus memikirkan tempat pemakaman, kavling, administrasi, biaya prosesi, dan berbagai keputusan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat.
Alhamdulillah, proses dapat dibantu. Keluarga memilih kavling makam dan menyelesaikan proses yang diperlukan untuk pemakaman.
Ketika saya tanyakan kapan jenazah akan dibawa, jawabannya kurang lebih, “Insya Allah setelah Zuhur, sekitar jam dua.”
Siang itu keluarga datang ke Al Azhar Memorial Garden. Sang ayah kemudian dimakamkan dengan tertib dan tenang. Di tengah kesedihan yang belum hilang, setidaknya keluarga dapat memusatkan perhatian pada doa dan penghormatan terakhir kepada ayah mereka.
“Ustaz, yang di Sebelah Makam Bapak Ini Masih Kosong?”
Setelah prosesi selesai, sang anak melihat kavling di sebelah makam ayahnya.
Ia bertanya kepada saya, “Ustaz, yang di sebelah Bapak ini masih kosong?”
Saya jawab, “Iya, masih kosong.”
Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat kisah hari itu terasa semakin dalam.
Kavling di sebelah ayahnya kemudian dipersiapkan untuk sang ibu. Ia menyampaikan niat bahwa kelak, setelah waktu dan prosedurnya memungkinkan, makam ibunya akan direlokasi ke sana.
Agar Ayah dan Ibu kelak berada di tempat yang telah dipersiapkan keluarga.
Dalam waktu sekitar dua pekan, seorang anak kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Tetapi dari pengalaman yang berat itu lahir sebuah keputusan: ia tidak ingin kembali menghadapi urusan pemakaman orang tuanya tanpa persiapan.
Ada Hal yang Lebih Penting daripada Sekadar Harga Makam
Waktu Tidak Banyak
Ketika seseorang wafat, keluarga biasanya harus mengambil keputusan dalam waktu singkat. Ruang untuk mencari, membandingkan, dan berpikir tenang menjadi sangat terbatas.
Hati Sedang Berduka
Keputusan penting justru harus dibuat ketika keluarga sedang kehilangan seseorang yang dicintai dan kondisi emosional belum sepenuhnya tenang.
Persiapan Mengurangi Kebingungan
Mengetahui lokasi, proses, pilihan kavling, dan perkiraan kebutuhan sejak awal dapat mengurangi sejumlah keputusan mendadak pada hari duka.
Kisah Ini Bukan Gambaran Semua TPU
Kondisi tanah, drainase, air, fasilitas, dan pengelolaan pemakaman tentu berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.
Pengalaman di atas adalah kisah satu keluarga sebagaimana diceritakan kepada saya, bukan pernyataan bahwa seluruh TPU mempunyai kondisi yang sama.
Namun ada pelajaran yang layak direnungkan: beberapa hal baru terasa sangat penting setelah sebuah keluarga mengalaminya sendiri.
Jika Suatu Hari Ayah atau Ibu Berpulang, Apakah Kita Sudah Tahu Harus ke Mana?
Apakah tempatnya sudah diketahui? Apakah keluarga pernah melihat lokasinya? Apakah proses dan kebutuhannya sudah dipahami? Ataukah semua pertanyaan itu baru akan kita jawab pada pagi ketika kabar duka datang?
Tidak ada seorang anak yang ingin kehilangan orang tuanya. Kita semua berharap Allah memberikan Ayah dan Ibu umur panjang dalam kesehatan, ketaatan, dan keberkahan.
Tetapi mempersiapkan bukan berarti mengharapkan kematian.
Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang jarang dibicarakan: menyiapkan sesuatu ketika kita masih tenang, agar orang-orang yang kita cintai tidak harus memikirkannya dalam kepanikan pada hari duka.
Satu Renungan Membawa Kita ke Renungan Berikutnya
Tidak Harus Langsung Membeli. Mulailah dengan Memahami Pilihannya.
Lihat gambaran pembayaran sesuai informasi yang berlaku.
Lihat simulasi →Pelajari simulasi pelunasan lebih cepat.
Lihat simulasi →Bandingkan alternatif pembayaran tunai.
Lihat simulasi →Mungkin Hari Ini Belum Saatnya Membeli. Tetapi Mungkin Sudah Saatnya Bertanya.
Jika ingin memahami kondisi kawasan, pilihan kavling, proses pemakaman, relokasi, atau skema pembayaran, hubungi Memorial Partner yang membagikan artikel ini melalui tombol WhatsApp hijau di kanan bawah.
Konsultasi dan survei dapat dimulai tanpa harus langsung mengambil keputusan.

