Mengapa Saya Memilih Bergabung di Al Azhar Memorial Garden
Bukan karena saya ingin sekadar menjual makam. Saya memilih berada di sini karena melihat sebuah amanah besar: membantu keluarga Muslim mempersiapkan kepulangan dengan lebih tenang, bermartabat, dan sesuai syariat.
Ada keputusan dalam hidup yang tidak lahir hanya dari perhitungan keuntungan. Ia tumbuh dari perenungan panjang tentang manfaat apa yang ingin kita tinggalkan, siapa yang ingin kita bantu, dan untuk apa Allah memberikan kepada kita ilmu, pengalaman, jaringan, serta kepercayaan dari banyak orang.
Ketika pertama kali mengenal Al Azhar Memorial Garden, saya pun memahami bahwa bidang ini tidak selalu mudah diterima. Kata “makam” sering dianggap terlalu dekat dengan kesedihan. Pekerjaan di dalamnya terkadang dipandang hanya sebagai kegiatan menjual lahan pemakaman. Bahkan bagi seseorang yang telah dikenal sebagai ustadz, pembimbing jamaah haji umrah Maghfirah Travel, trainer, motivator, profesional, leader asuransi syariah Allianz Life Syariah, tokoh masyarakat, alumni Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, bisa muncul kekhawatiran: apakah bergabung di sini akan menurunkan citra dan kredibilitas?
Saya tidak mengabaikan kegelisahan itu. Saya justru pernah memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Namun semakin saya merenung, semakin saya menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada pekerjaan ini. Persoalannya terletak pada cara kita memandangnya.
Bukan Sekadar Menjual Makam
Apabila aktivitas ini hanya sebatas menawarkan sebidang tanah, mungkin saya pun tidak akan memilih berada di dalamnya. Namun yang saya temukan jauh lebih besar daripada sebuah transaksi.
Di balik setiap kavling terdapat seorang ayah, ibu, suami, istri, atau anak yang sangat dicintai. Di balik setiap keputusan terdapat keluarga yang ingin menjaga kehormatan orang yang mereka sayangi. Di balik setiap persiapan terdapat keinginan agar ketika musibah datang, keluarga tidak lagi menghadapi kepanikan, kebingungan, perdebatan, ataupun beban biaya yang tidak pernah direncanakan.
Kematian bukanlah produk yang kita ciptakan. Kematian adalah ketetapan Allah yang pasti datang. Yang dapat kita bantu adalah bagaimana sebuah keluarga menghadapinya dengan persiapan yang lebih baik, tempat yang terjaga, prosesi yang sesuai syariat, serta pendampingan yang penuh empati.
Ketika Dakwah Tidak Berhenti di Mimbar
Lebih dari dua puluh tahun saya berada dalam dunia dakwah, pendidikan, pembimbingan haji dan umrah, kegiatan sosial, serta gerakan wakaf. Saya terbiasa berbicara tentang kehidupan, amal, keluarga, kematian, dan bekal akhirat.
Tetapi saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: apakah cukup apabila nasihat tentang kematian hanya berhenti menjadi materi ceramah?
Bukankah dakwah juga berarti menghadirkan jalan keluar? Bukankah melayani umat tidak hanya dilakukan ketika berdiri di hadapan jamaah, tetapi juga ketika membersamai keluarga pada salah satu masa paling rapuh dalam kehidupan mereka?
Di titik itulah saya melihat Al Azhar Memorial Garden bukan semata-mata sebagai tempat pemakaman. Saya melihatnya sebagai ruang pengabdian. Di sini, nasihat tentang persiapan kematian dapat diterjemahkan menjadi edukasi, konsultasi, perencanaan, serta pendampingan yang nyata.
Apakah Bergabung Berarti Turun Level?
Saya memahami bahwa sebagian orang memiliki posisi, nama, dan personal branding yang telah dibangun bertahun-tahun. Ada yang dikenal sebagai ustadz, motivator, trainer, pengusaha, eksekutif, dokter, konsultan, maupun tokoh komunitas. Mereka khawatir ketika masuk ke bidang ini akan disebut sebagai “sales makam”.
Menurut saya, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh sebutan yang diberikan orang lain. Kemuliaan terlihat dari niat, akhlak, cara bekerja, serta manfaat yang dihadirkan.
Seorang dokter menerima imbalan karena membantu pasien. Seorang guru menerima penghasilan karena membagikan ilmu. Seorang konsultan mendapatkan honor karena memberikan solusi. Maka seseorang yang membantu keluarga Muslim mempersiapkan pemakaman secara amanah juga tidak sedang melakukan pekerjaan yang rendah.
Ia sedang menjadi penghubung antara kebutuhan yang sering dihindari dengan solusi yang sebenarnya sangat dibutuhkan.
Bahkan saya percaya, orang-orang yang telah memiliki pengaruh, reputasi, jaringan, dan kepercayaan masyarakat justru penting berada di sini. Sebab bidang yang menyentuh kedukaan dan kehormatan keluarga tidak boleh hanya dijalankan oleh mereka yang pandai menjual. Ia perlu diisi oleh orang-orang yang mampu mendengar, menjaga adab, memberikan edukasi, dan mendampingi dengan hati.
“Ketika orang-orang baik mundur hanya karena gengsi, ruang pelayanan itu dapat diisi oleh mereka yang hanya melihat keuntungan.”
Sebuah Perenungan tentang Amanah Pengaruh
Amanah di Balik Pengaruh
Semakin luas jamaah seseorang, semakin banyak muridnya, semakin besar komunitasnya, dan semakin tinggi kepercayaan orang kepadanya, semakin besar pula tanggung jawab untuk menghadirkan solusi yang benar.
Bayangkan suatu hari seorang jamaah, sahabat, murid, atau relasi kehilangan orang yang dicintainya. Dalam keadaan berduka, mereka mencari tempat pemakaman yang khusus Muslim, tidak bercampur dengan pemakaman non-Muslim, tidak menggunakan sistem tumpang, menghadap kiblat, dirawat secara berkelanjutan, mudah diziarahi, dan prosesi pemakamannya dijalankan secara terhormat.
Apabila kita mengetahui solusi tersebut, tetapi memilih diam hanya karena takut dipandang sebagai penjual, barangkali ada pintu manfaat yang kita biarkan tertutup.
Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan: pengaruh bukan hanya tentang berapa banyak orang yang mendengarkan kita. Pengaruh adalah tentang berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Pengaruh adalah amanah
Kepercayaan masyarakat seharusnya membawa kita lebih dekat kepada pelayanan yang dibutuhkan, bukan menjauh hanya karena takut terhadap penilaian.
Penghasilan tidak harus kehilangan nilai
Seseorang dapat membangun penghasilan yang baik sekaligus menghadirkan edukasi, ketenangan, dan solusi yang bermanfaat bagi keluarga Muslim.
Legacy bukan hanya apa yang dikenal
Legacy juga tentang keluarga-keluarga yang pernah kita bantu, orang-orang yang kita kuatkan, dan generasi yang meneruskan budaya pelayanan.
Antara Penghasilan dan Kebermanfaatan
Saya tidak menutup mata bahwa Al Azhar Memorial Garden juga menyediakan peluang usaha dan jenjang penghasilan yang baik. Menurut saya, tidak ada pertentangan antara mencari rezeki yang halal dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Kita semua memiliki kebutuhan keluarga, pendidikan anak, tanggung jawab sosial, serta cita-cita untuk memperluas kebaikan. Penghasilan dapat menjadi sarana untuk menguatkan semua itu. Yang perlu dijaga adalah agar rezeki tidak menjadi satu-satunya tujuan.
Saya tidak ingin membangun bisnis yang hanya selesai ketika transaksi selesai. Saya ingin membangun pelayanan yang meninggalkan ketenangan bagi keluarga, kesempatan bertumbuh bagi tim, serta nilai yang dapat terus dibawa sebagai amal.
Di sini saya bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya mungkin tidak percaya diri, kemudian belajar berbicara. Ada yang awalnya tidak memiliki arah, kemudian bertumbuh menjadi pemimpin. Ada yang memulai hanya dengan keinginan belajar, lalu mampu membantu banyak keluarga dan memiliki penghasilan yang lebih baik.
Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika sebuah kavling terjual. Keberhasilan adalah ketika satu keluarga merasa lebih tenang, satu orang menemukan jalan rezekinya, dan satu tim bertumbuh menjadi lebih berilmu, berakhlak, serta bermanfaat.
Saya Tidak Meninggalkan Jalan Dakwah
Bergabung di Al Azhar Memorial Garden tidak membuat saya meninggalkan identitas sebagai seorang da’i. Saya tetap mengajar, membimbing, menulis, menggerakkan kegiatan sosial, dan membersamai umat.
Yang berubah hanyalah ruang pengabdian saya menjadi lebih luas.
Dahulu saya banyak mengajak orang mempersiapkan perjalanan menuju Baitullah. Hari ini saya juga mengajak keluarga mempersiapkan perjalanan pulang kepada Allah. Dahulu saya menggerakkan wakaf agar manusia memiliki amal yang terus mengalir. Hari ini saya membantu keluarga meninggalkan warisan terakhir berupa ketenangan, kepastian, dan keputusan yang tidak membebani ahli waris.
Karena itu, saya tidak merasa sedang berpindah dari jalan dakwah menuju dunia penjualan. Saya merasa sedang menemukan satu bentuk lain dari dakwah: dakwah melalui pelayanan, edukasi, keteladanan, dan solusi.
Karena saya percaya, ini bukan langkah turun. Ini adalah langkah menuju pengabdian yang lebih nyata.
Saya memilih berada di Al Azhar Memorial Garden karena ingin membantu semakin banyak keluarga Muslim mempersiapkan kepulangan dengan cara yang baik. Saya ingin ikut membangun budaya bahwa merencanakan makam bukanlah mendahului takdir, melainkan bentuk tanggung jawab kepada keluarga.
Saya juga ingin mengajak lebih banyak orang baik, para ustadz, trainer, profesional, pengusaha, pemimpin komunitas, dan siapa pun yang memiliki pengaruh, agar tidak takut berada di bidang ini. Branding mereka tidak harus hilang. Justru ilmu, pengalaman, dan reputasi mereka dapat membuat pelayanan pemakaman menjadi lebih berkelas, manusiawi, dan bermartabat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Apakah pekerjaan ini akan menurunkan citra saya?” Pertanyaannya adalah, “Untuk apa Allah memberikan saya ilmu, pengaruh, pengalaman, dan kepercayaan dari banyak orang?”
Memorial Director — Al Azhar Memorial Garden
Official Marketing ID AZHR-07146
Setiap keluarga memiliki cerita dan kebutuhan yang berbeda.
Saya membuka ruang konsultasi untuk keluarga yang ingin memahami perencanaan makam syariah maupun bagi siapa pun yang ingin menjadikan pelayanan ini sebagai jalan pengabdian dan pertumbuhan.
