Disambut Azan Zuhur, Diantar Azan Asar: Sebuah Keluarga Menyiapkan Royal Family A untuk 14 Anggota Keluarga
Kisah ini tidak dimulai dari transaksi, bahkan bukan dari pertemuan dengan keluarga yang akhirnya datang. Jejaknya bermula sekitar 16 bulan sebelumnya, dari sebuah buku tamu kajian di Depok, edukasi yang dijaga secara berkala, lalu sebuah pesan sederhana: “Kakak saya ingin survei makam keluarga di Al Azhar.”
Ada keputusan keluarga yang tidak lahir dari satu kali percakapan. Ada yang tumbuh perlahan: dari sebuah pertemuan singkat, informasi yang disimpan, edukasi yang datang berkala, lalu pada waktunya berubah menjadi keputusan besar bagi sebuah keluarga.
Kisah pada 10 September 2026 ini adalah salah satunya. Menariknya, orang yang selama kurang lebih 16 bulan berkomunikasi dengan saya bukanlah Bapak H. Hento dan Ibu Hj. Ellya yang akhirnya datang ke Al Azhar Memorial Garden. Jembatan menuju pertemuan hari itu justru bermula dari adik beliau, Ibu Ineke.
Kadang sebuah edukasi tidak langsung menghasilkan keputusan. Tetapi informasi yang baik dapat tinggal dalam ingatan, berpindah di dalam keluarga, lalu hadir kembali ketika waktunya memang dibutuhkan.
Berawal dari Sebuah Kajian di Depok
Sekitar Mei 2025, Ibu Ineke menghadiri kajian Ustadz Bassam Oemar Mita, Lc. di Masjid Baitusyakirin, Depok. Kajian tersebut mengangkat tema “Melepasmu untuk yang Terakhir Kali”, tentang bagaimana mengantar dengan baik ketika orang yang kita sayangi mendahului kita. Pada kegiatan tersebut saya bersama istri membuka meja informasi Al Azhar Memorial Garden.
Beberapa jamaah yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai persiapan pemakaman dan Al Azhar Memorial Garden datang ke meja kami. Mereka mengisi data pada buku tamu agar dapat memperoleh informasi lanjutan. Salah satunya adalah Ibu Ineke.
Dari data sederhana itulah komunikasi bermula. Saya tidak mengetahui kapan informasi itu akan benar-benar dibutuhkan. Yang saya lakukan adalah menjaga komunikasi: mengirimkan informasi, artikel, edukasi, renungan keluarga, serta perkembangan Al Azhar Memorial Garden secara berkala.
Tidak setiap pesan harus dibalas. Tidak setiap orang yang membaca harus segera mengambil keputusan. Bagi saya, persoalan makam memang bukan sesuatu yang selayaknya didorong dengan tergesa-gesa. Keluarga perlu memahami, berdiskusi, mempertimbangkan kebutuhan, dan mengambil keputusan ketika hati serta pikiran berada dalam keadaan tenang.
Enam Belas Bulan Menjaga Komunikasi
Kurang lebih 16 bulan komunikasi dengan Ibu Ineke berjalan seperti itu. Ada saat informasi dibaca, ada saat percakapan berlanjut, dan ada pula masa ketika tidak ada respons khusus. Namun edukasi tetap saya berikan ketika ada materi yang menurut saya relevan.
Belakangan, saya membagikan kembali sebuah artikel yang mengambil pelajaran keluarga dari kisah Baby Udon. Tulisan tersebut berbicara tentang kehilangan, keluarga, dan pentingnya mempersiapkan hal-hal yang sering baru dipikirkan ketika keadaan sudah mendesak.
Setelah menerima informasi tersebut, Ibu Ineke menghubungi saya. Kali ini bukan untuk dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa kakaknya ingin melakukan survei ke Al Azhar Memorial Garden dan sedang mencari kavling makam untuk keluarga.
Di sinilah saya kembali belajar: orang yang kita edukasi hari ini bisa menjadi jalan bagi keluarganya untuk memperoleh informasi yang mereka perlukan di kemudian hari.
Pagi 10 September: Kabar Itu Datang
Pada Kamis pagi, 10 September 2026, sekitar pukul 09.00, saya menerima kabar bahwa kakak Ibu Ineke akan menuju Al Azhar Memorial Garden pada hari itu.
Saya menyampaikan bahwa insyaallah saya siap mendampingi. Saya kemudian bersiap dan berangkat dari kawasan Kemang, Bogor. Perjalanan menuju Al Azhar Memorial Garden memerlukan waktu kurang lebih satu jam empat puluh lima menit.
Sekitar pukul 11.45 saya sudah tiba di lokasi. Beberapa menit kemudian Bapak H. Hento dan Ibu Hj. Ellya tiba. Inilah pertemuan langsung pertama saya dengan beliau berdua.
Ibu Ineke mengisi buku tamu di meja informasi Al Azhar Memorial Garden pada kajian di Depok.
Komunikasi dijaga melalui edukasi, artikel, informasi, dan renungan secara berkala.
Ibu Ineke mengabarkan kakaknya akan datang untuk survei makam keluarga.
Pertemuan pertama dengan Bapak H. Hento dan Ibu Hj. Ellya di lokasi.
Sebelum survei, kami menunaikan salat berjamaah di fasilitas musala Al Azhar Memorial Garden.
Survei beberapa tipe kavling keluarga, berdiskusi, membandingkan, dan berziarah.
Kebutuhan dihitung ulang dan pilihan mengerucut pada Royal Family A berkapasitas 14 makam.
Setelah salat berjamaah kembali, keluarga berpamitan pulang.
Pertemuan Itu Dimulai dengan Salat Zuhur
Waktu sudah mendekati Zuhur. Alih-alih langsung membicarakan pilihan kavling, saya mengajak beliau berdua menunaikan salat terlebih dahulu. Kami salat berjamaah di fasilitas musala ber-AC yang berada dekat lounge utama.
Perjalanan hari itu seakan mempunyai bingkai tersendiri: pertemuan kami dimulai menjelang azan Zuhur, dan beberapa jam kemudian ditutup menjelang azan Asar.
Survei Dulu, Keputusan Kemudian
Setelah salat, barulah kami memulai survei. Dengan kendaraan buggy atau golf cart, saya mengajak Bapak Hento dan Ibu Ellya melihat langsung beberapa pilihan kavling keluarga.
Bagi saya, survei langsung penting. Site plan dan foto dapat memberi gambaran, tetapi ketika seseorang berdiri langsung di kawasan yang akan dipilih untuk keluarganya, pertimbangannya menjadi jauh lebih nyata: posisi, akses, suasana, penataan kawasan, serta kebutuhan keluarga di masa mendatang.
Pada awalnya kebutuhan keluarga diperkirakan sekitar 12 orang. Karena itu kami melihat beberapa tipe dan zona sebagai bahan perbandingan.
Membandingkan Beberapa Pilihan Royal Family
Kami melihat area Royal Family dan beberapa contoh kavling keluarga yang telah tertata. Ada pilihan yang dilengkapi penataan landscape, gerbang, serta elemen pendukung yang membuat keluarga lebih mudah membayangkan bagaimana sebuah kavling keluarga nantinya digunakan.
Di Zona IDILWIIS, kami kembali melihat pilihan Royal Family. Bapak Hento dan Ibu Ellya mempertimbangkan beberapa alternatif, termasuk Royal Family C dan Royal Family D. Kami juga menuju Zona Miimauzaa untuk melihat Super Family B sebagai pembanding.
Kemudian kami melihat alternatif lain di area dekat fasilitas musala, termasuk kemungkinan mengambil dua unit yang secara total dapat memenuhi kebutuhan sekitar 12 anggota keluarga.
Saya tidak ingin keputusan dibuat hanya karena satu pilihan terlihat menarik. Saya justru ingin keluarga melihat perbandingannya, memahami kapasitasnya, dan memastikan bahwa unit yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan keluarga besar.
Di Tengah Survei, Kami Berhenti untuk Berziarah
Di sela perjalanan survei, kami berhenti di salah satu makam yang memiliki keterkaitan dengan kisah yang sebelumnya kami bicarakan. Kami berziarah dan mendoakan almarhum Hajime Kondoh.
Momen itu membuat perjalanan hari tersebut terasa berbeda. Beberapa hari sebelumnya sebuah kisah melalui layar menjadi bahan renungan tentang keluarga dan kehilangan. Hari itu, kami berdiri langsung di hadapan makam seseorang yang perjalanan hidupnya telah selesai.
Kami tidak datang untuk menjadikan makam sebagai tontonan. Kami berhenti untuk mendoakan, sekaligus mengingat bahwa pembicaraan tentang persiapan bukanlah pembicaraan yang jauh dari kehidupan.
Pada Akhirnya, Setiap Keluarga Akan Menghadapi Perpisahan
Kita tidak mengetahui siapa yang akan pergi lebih dahulu. Kita juga tidak menentukan kapan waktunya.
Tetapi ketika masih diberi kelapangan, kita dapat memilih apakah urusan penting keluarga akan dipersiapkan dalam keadaan tenang atau kelak diputuskan ketika keluarga sedang berduka.
Kembali ke Meja Konsultasi
Setelah seluruh pilihan dilihat, kami kembali ke ruang pelayanan. Di meja konsultasi itulah pembicaraan menjadi lebih rinci.
Foto-foto terakhir yang kami abadikan di meja tersebut bukanlah awal kunjungan, melainkan tahap setelah survei, ketika seluruh pertimbangan lapangan sudah dibawa ke dalam pembicaraan keluarga.
Kami kembali menghitung kebutuhan. Semula perkiraannya 12 anggota keluarga. Setelah Bapak Hento menghitung lagi satu per satu, ternyata jumlah yang perlu dipersiapkan bukan 12, melainkan 13 orang.
“Ternyata kami 13.”
Perubahan angka itu sederhana, tetapi sangat menentukan pilihan. Kapasitas 12 menjadi kurang. Sistem kemudian kembali dibuka untuk melihat unit yang masih tersedia dan paling sesuai.
Dari proses itulah pilihan mengerucut pada Royal Family A dengan kapasitas 14 makam di Zona IDILWIIS, RFA-01. Satu kapasitas tambahan memberi ruang yang lebih sesuai dibanding memaksakan kebutuhan keluarga ke dalam unit yang lebih kecil.
Bukan Sekadar Membeli 14 Makam
Bagian paling bermakna dari percakapan hari itu justru bukan mengenai angka, tipe, atau lokasi. Saya bertanya kepada Bapak Hento mengenai alasan beliau mengambil keputusan sebesar ini untuk keluarganya.
Inti jawaban beliau sederhana: ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai orang tua dan kepala keluarga. Selagi masih memiliki kesempatan, beliau ingin menyiapkan sesuatu yang kelak dapat memberikan ketenangan kepada keluarga.
Apakah kelak semua anak memilih dimakamkan di tempat yang telah disiapkan itu, tentu menjadi pilihan masing-masing. Tetapi sebagai seorang ayah, beliau ingin melakukan bagian yang dapat beliau lakukan hari ini: menyediakan tempat bagi keluarga besarnya.
Seorang ayah tidak dapat menentukan seluruh pilihan anak-anaknya. Tetapi ia dapat menyiapkan sesuatu agar ketika suatu hari keluarga menghadapi kehilangan, mereka tidak harus memulai semuanya dari kepanikan.
Sebuah Keinginan Lama Sang Istri Akhirnya Terwujud
Kemudian muncul sisi lain dari keputusan itu. Ternyata bagi Ibu Ellya, memiliki tempat pemakaman keluarga di Al Azhar Memorial Garden bukanlah gagasan yang baru muncul pada hari tersebut. Keinginan itu sudah lama ada.
Karena itu, ketika keputusan akhirnya diambil, suasananya menjadi emosional. Ibu Ellya memeluk suaminya dan menyampaikan rasa terima kasih karena sebuah keinginan yang telah lama tersimpan akhirnya diwujudkan.
Yang mereka siapkan bukan hanya tempat bagi suami dan istri. Mereka sedang membayangkan sebuah tempat di mana, jika Allah menakdirkan dan keluarga memilihnya, orang tua, anak, dan generasi keluarga dapat berada dalam satu kawasan.
Persiapan Juga Dapat Menjadi Bahasa Kasih Sayang
Mempersiapkan makam tidak selalu identik dengan ketakutan terhadap kematian. Pada sebagian keluarga, ia justru menjadi bahasa tanggung jawab dan kasih sayang: menyelesaikan satu urusan besar ketika keputusan masih dapat dibicarakan bersama.
Keputusan Diambil dalam Keadaan Tenang
Proses kemudian dilanjutkan dengan pemesanan dan administrasi. Bapak Hento dan Ibu Ellya dapat kembali memastikan data, pilihan unit, serta proses yang diperlukan sebelum keputusan diselesaikan.
Tidak ada suasana panik. Tidak ada keluarga yang sedang menunggu jenazah. Tidak ada keputusan yang harus dibuat dalam hitungan jam karena keadaan darurat.
Mereka datang dalam keadaan sehat, melihat langsung lokasi, membandingkan pilihan, berdiskusi, menghitung kebutuhan keluarga, lalu mengambil keputusan bersama.
Inilah salah satu nilai terbesar dari perencanaan lebih awal: keputusan penting dapat dibuat ketika keluarga masih dapat duduk bersama, bertanya, membandingkan, dan saling mendengar.
Kisah Pak H. Hento dan Ibu Hj. Ellya Menyiapkan Makam Keluarga di Al Azhar Memorial Garden
Dengarkan langsung alasan Bapak H. Hento dan Ibu Hj. Ellya mempersiapkan kavling makam keluarga ketika keputusan masih dapat dibicarakan bersama dalam keadaan tenang.
Disambut Zuhur, Diantar Asar
Percakapan dan penyelesaian proses berlangsung hingga sore. Ketika azan Asar terdengar, kami kembali menghentikan aktivitas untuk menunaikan salat.
Sesudah salat, Bapak Hento dan Ibu Ellya bersiap pulang. Saya kemudian teringat perjalanan beberapa jam sebelumnya. Ketika mereka tiba, waktunya menjelang Zuhur dan kami memulai pertemuan dengan salat. Ketika urusan selesai dan mereka hendak pulang, azan Asar kembali mengiringi.
Disambut Azan Zuhur, Diantar Azan Asar
Hari itu mereka datang untuk melihat sebidang lahan. Tetapi yang mereka bawa pulang bukan semata dokumen pemesanan.
Ada satu urusan besar keluarga yang telah mulai dipersiapkan ketika ayah dan ibu masih dapat duduk berdampingan, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama.
Mempersiapkan Bukan Berarti Mengharapkan Kematian
Membicarakan makam memang tidak selalu mudah. Ada orang yang memilih menundanya karena merasa pembicaraan itu terlalu dekat dengan kematian.
Padahal mempersiapkan tidak berarti berharap kematian segera datang. Sama seperti seseorang menyiapkan wasiat, dokumen penting, atau rencana bagi keluarga, persiapan dilakukan karena kita memahami bahwa ada tanggung jawab yang sebaiknya tidak diwariskan dalam bentuk kebingungan.
Kematian tetap menjadi ketetapan Allah. Yang berada dalam wilayah ikhtiar manusia adalah bagaimana kita mempersiapkan keluarga menghadapi hal-hal yang pasti menjadi bagian dari perjalanan kehidupan.
Renungan serupa juga pernah hadir dalam kisah keluarga lain. Dalam cerita Pak Yurod Saleh: Jangan Bebani Anak, Persiapkan Makam Selagi Masih Ada Waktu, terlihat bagaimana persiapan lebih awal dapat dimaknai sebagai bagian dari tanggung jawab orang tua agar urusan penting tidak sepenuhnya diwariskan kepada anak-anak pada saat keluarga sedang menghadapi kehilangan.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan dan telah mempertimbangkannya, mempersiapkan tempat pemakaman sejak dini dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar anak-anak tidak harus mencari, membandingkan, dan mengambil keputusan besar ketika hati sedang berada dalam suasana kehilangan.
Pelajaran dari Sebuah Perjalanan 16 Bulan
Bagi saya pribadi, kisah ini juga mempunyai pelajaran tersendiri. Sekitar 16 bulan sebelumnya saya hanya bertemu Ibu Ineke di sebuah meja informasi pada acara kajian. Beliau mengisi buku tamu. Tidak ada yang mengetahui bahwa lebih dari setahun kemudian data itu akan menjadi jalan bagi kakaknya untuk datang ke Al Azhar Memorial Garden.
Saya bahkan baru bertemu Bapak Hento dan Ibu Ellya pada hari ketika mereka melakukan survei.
Inilah mengapa edukasi tidak seharusnya selalu diukur dari respons hari ini. Informasi yang benar mungkin belum dibutuhkan sekarang. Tetapi ketika waktunya tiba, orang akan mengingat siapa yang pernah menjelaskan dengan baik dan siapa yang tetap bersedia mendampingi.
Kisah ini menjadi salah satu bagian dari Jejak Pendampingan Zulhamdi, yang menghimpun dokumentasi nyata proses edukasi, survei, konsultasi, pemilihan kavling, hingga pendampingan keluarga di Al Azhar Memorial Garden. Bagi saya, pendampingan bukan sekadar hadir ketika transaksi dilakukan, tetapi menjaga komunikasi dan membantu keluarga memahami pilihannya sejak jauh sebelum keputusan diambil.
Menjaga silaturahmi, memberi edukasi, dan menyediakan informasi yang bermanfaat tidak pernah benar-benar sia-sia. Kita tidak selalu mengetahui melalui pintu mana manfaat itu akan kembali.
Untuk Keluarga yang Masih Memiliki Waktu
Kisah Bapak H. Hento dan Ibu Hj. Ellya tidak harus membuat setiap keluarga mengambil keputusan yang sama. Setiap keluarga mempunyai keadaan, kebutuhan, kemampuan, dan pertimbangannya sendiri.
Tetapi ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: jika suatu urusan dapat dipelajari dan dibicarakan ketika seluruh anggota keluarga masih tenang, mengapa harus menunggu sampai keadaan memaksa?
Survei juga tidak berarti harus langsung membeli. Datang ke lokasi dapat menjadi langkah awal untuk memahami pilihan, melihat kondisi sebenarnya, mengetahui tipe kavling, fasilitas, akses, serta memperkirakan kebutuhan keluarga.
Keputusan terbaik adalah keputusan yang dipahami, dipertimbangkan, dan diambil tanpa tekanan.
Anda Tidak Harus Memutuskan Hari Ini
Tetapi Anda dapat memulainya dengan melihat, bertanya, dan memahami pilihan yang tersedia.
Bagi keluarga yang ingin mengetahui secara langsung suasana Al Azhar Memorial Garden, pilihan kavling keluarga, fasilitas, akses, dan lokasi yang masih tersedia, survei dapat menjadi langkah awal sebelum mengambil keputusan.
Konsultan Resmi Al Azhar Memorial Garden • Syariah Family Legacy Advisor • ID AZHR-07146
