“Kita Hanya Berdua…” — Kisah Pak Agus & Ibu Dwi Menyiapkan Makam Bersama
Sebuah Sabtu pagi di Al Azhar Memorial Garden. Datang untuk melihat-lihat, pulang dengan satu urusan besar yang telah mereka putuskan bersama.
Sabtu pagi, 19 September 2026, saya berangkat menuju Al Azhar Memorial Garden, Karawang, lebih awal dari jadwal. Hari itu saya mendampingi salah seorang Memorial Partner dalam tim saya. Kami memiliki janji pukul 10.00 dengan sepasang suami istri yang ingin melakukan survei lokasi.
Mereka adalah Pak Agus Dwianto dan Ibu Dwi.
Saya tiba sebelum pukul sembilan pagi. Karena masih ada waktu, saya sempat membeli beberapa snack untuk kami nikmati setelah survei. Biasanya setelah berkeliling lokasi, kami duduk bersama di area Customer Service untuk berdiskusi lebih lanjut dengan suasana yang lebih santai.
Sekitar pukul 10.00, Pak Agus dan Ibu Dwi tiba. Kami pun memulai perjalanan.
Pendampingan pagi itu menjadi bagian dari jejak pendampingan Zulhamdi M. Sa’ad, Lc. bersama keluarga-keluarga yang datang untuk melihat langsung kawasan, memahami pilihan kavling, dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan mereka sendiri.
Memulai Survei dengan Sebuah Doa
Kami naik mobil buggy dan mulai berkeliling kawasan Al Azhar Memorial Garden. Ada satu hal yang selalu menarik untuk direnungkan ketika memasuki kawasan pemakaman: doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika berziarah ke kubur.
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni negeri ini dari kalangan orang-orang beriman dan kaum Muslimin. Sesungguhnya kami, insyaAllah, akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian.”
Doa ini selalu mengingatkan saya pada satu hal: di pemakaman, kita tidak hanya melihat makam. Kita sedang melihat masa depan kita sendiri.
Hari ini kita datang sebagai orang yang berziarah. Suatu saat, orang lainlah yang akan datang menziarahi kita. Dan indahnya doa tersebut, salam dan permohonan keselamatan ditujukan kepada para penghuni kubur dari kalangan kaum Mukminin dan Muslimin.
Melihat Langsung, Bukan Hanya dari Brosur
Buggy terus berjalan melewati beberapa zona. Kami melewati Wardah, Sahliyah, Kamiiliyaa. Kebetulan hari itu juga sedang berlangsung prosesi pemakaman di kawasan Kamiiliyaa.
Pak Agus dan Ibu Dwi dapat melihat sendiri bagaimana kawasan tersebut digunakan ketika sebuah keluarga benar-benar sedang menghadapi kedukaan.
Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju Khuzaamaa. Di sana saya menunjukkan beberapa pilihan untuk dua orang, termasuk tipe Double dan Super Double. Setelah itu kami menuju Saakuuraa untuk melihat Super Double dengan area yang lebih lapang.
Ada salah satu posisi yang menurut saya cukup menarik: berada di bagian depan dan dekat akses sehingga akan memudahkan keluarga ketika berziarah. Saya pun menjelaskan kelebihannya.
Namun kemudian muncul sebuah kalimat yang membuat saya terdiam sejenak.
Bagi mereka, tidak perlu memilih area yang terlalu luas. Mereka hanya ingin menyiapkan tempat untuk mereka berdua.
Kalimatnya sederhana. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang sangat dalam di baliknya.
Sepasang suami istri yang selama ini menjalani kehidupan bersama, pada suatu Sabtu pagi datang bersama-sama untuk membicarakan sesuatu yang sering kali justru kita hindari: di manakah kelak kami akan dimakamkan?
Bukan karena mereka mengharapkan kematian. Bukan pula karena mereka sedang menyerah terhadap kehidupan. Justru karena saat ini mereka masih sehat, masih dapat berjalan bersama, berdiskusi bersama, melihat pilihan bersama, dan mengambil keputusan bersama.
Ada ketenangan tersendiri ketika persoalan sebesar ini dapat dibicarakan saat pikiran masih jernih.
Sampailah Kami di Sawsan
Dari Saakuuraa, perjalanan kami lanjutkan menuju zona Sawsan.
Kebetulan ada satu kavling Double yang kembali tersedia. Sebelumnya kavling tersebut sudah pernah dipilih konsumen, tetapi pemiliknya kemudian melakukan upgrade ke tipe yang lebih besar. Karena belum pernah digunakan untuk pemakaman, unit tersebut kembali dapat dialokasikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kami berhenti dan melihat lokasinya. Pak Agus dan Ibu Dwi memperhatikan area tersebut.
Tidak berlangsung diskusi panjang. Tidak ada perdebatan.
Pak Agus menoleh kepada istrinya. Kurang lebih pertanyaannya sederhana: “Bagaimana, Bu? Yang ini saja?”
Dan Ibu Dwi pun mantap: “Yang ini saja.”
Saya tersenyum. Kadang sebuah keputusan besar tidak selalu membutuhkan percakapan yang panjang. Ketika suami dan istri sudah memahami apa yang mereka butuhkan, keputusan justru bisa terasa sangat sederhana.
Makam Bukan Sekadar Membeli Sebidang Tanah
Dalam perjalanan kembali menuju Customer Service, saya mencoba menyampaikan satu hal yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar ukuran kavling atau harga: apa sebenarnya makna menyiapkan makam sebelum meninggal dunia?
Dalam Islam, mengurus jenazah dan pemakamannya merupakan bagian dari kewajiban fardu kifayah. Ketika seseorang telah mempersiapkan tempat pemakamannya, setidaknya ia telah membantu mengurangi satu persoalan besar yang kelak harus diselesaikan keluarga atau orang-orang yang mengurus jenazahnya.
Karena itu bagi saya, mempersiapkan makam bukan sekadar transaksi. Ada unsur tanggung jawab, ada ikhtiar menjaga kehormatan, ada upaya memudahkan pelaksanaan fardu kifayah, dan ada usaha untuk tidak meninggalkan kerepotan yang sebenarnya dapat kita selesaikan sendiri ketika masih hidup.
Sedang mempertimbangkan kavling untuk pasangan?
Kenali dahulu tipe Double, bandingkan harga yang berlaku, lalu lihat kawasan secara langsung sebelum menentukan pilihan.
Dari Survei Menjadi Keputusan
Sesampainya di Customer Service, kami duduk bersama. Snack yang tadi pagi saya siapkan mulai kami nikmati. Ada teh, makanan ringan, dan percakapan santai.
Pak Agus dan Ibu Dwi kemudian menyerahkan identitas untuk proses administrasi. Kavling Double yang baru saja kami lihat pun dibooking. Booking Fee sebesar Rp5 juta dibayarkan pada hari itu sebagai bagian dari proses pemesanan.
Tidak ada tekanan. Tidak ada keputusan yang dibuat terburu-buru. Mereka sudah melihat sendiri kawasannya, membandingkan beberapa pilihan, berdiskusi berdua, kemudian menentukan apa yang menurut mereka paling sesuai.
Kisah Pak Agus dan Ibu Dwi merupakan salah satu dokumentasi pendampingan survei dan pemilihan kavling yang dihimpun sebagai catatan pengalaman langsung bersama keluarga.
Dan mungkin justru itulah salah satu manfaat terbesar dari survei lokasi Al Azhar Memorial Garden.
Foto dan video dapat memberikan gambaran. Brosur dapat menjelaskan ukuran. Price list dapat menunjukkan angka. Tetapi berada langsung di lokasi membuat sebuah keluarga bisa merasakan dan memutuskan dengan cara yang berbeda.
Azan Zuhur Menutup Perjalanan Kami
Tidak terasa, waktu sudah mendekati siang. Azan Zuhur berkumandang. Pak Agus dan Ibu Dwi kemudian menunaikan shalat. Kami pun melaksanakan shalat berjamaah.
Bagi saya, itu menjadi penutup yang indah dari perjalanan pagi itu.
Kami memulai perjalanan dengan berbicara tentang kematian. Tetapi justru berakhir dengan sebuah ibadah yang mengingatkan kita tentang kehidupan.
Sebab mempersiapkan kematian bukan berarti berhenti menikmati kehidupan. Sebaliknya, kesadaran bahwa hidup ini terbatas semestinya membuat kita menjalani sisa umur dengan lebih baik.
Pak Agus dan Ibu Dwi pulang hari itu dengan satu urusan yang telah mereka selesaikan bersama.
Entah siapa yang akan dipanggil Allah lebih dahulu. Tidak seorang pun mengetahuinya. Semoga Allah memberikan kepada keduanya umur yang panjang dalam kesehatan, keberkahan, ketaatan dan kebahagiaan.
Namun jika suatu hari ketetapan Allah itu datang, ada satu hal yang insyaAllah tidak lagi perlu membuat orang-orang di sekitar mereka kebingungan: tempat itu sudah mereka persiapkan sendiri.
Bersama. Ketika keduanya masih sehat. Ketika masih bisa berjalan berdampingan. Dan ketika masih bisa berkata kepada satu sama lain: “Yang ini saja.”
Catatan: kisah ini merekam kunjungan pada 19 September 2026. Harga, promo, Booking Fee, zona dan ketersediaan unit dapat berubah. Gunakan halaman harga terbaru dan konfirmasi unit sebelum transaksi.
