5 Tahun Ingin Punya Makam di Al Azhar, Akhirnya Pak Edy dan Ibu Parida Mewujudkannya
Sebuah perjalanan survei yang bermula dari keinginan seorang suami agar kelak tetap berdekatan dengan istrinya, berakhir dengan keputusan menyiapkan dua kavling Family A untuk delapan anggota keluarga.
Sabtu pagi, 26 September 2026, sekitar pukul 08.00, Pak Edy dan Ibu Parida tiba di Al Azhar Memorial Garden. Mereka datang bukan karena sedang menghadapi kedukaan. Mereka datang ketika masih sehat, dapat berdiskusi dengan tenang, dan memiliki waktu untuk melihat sendiri tempat yang mungkin suatu hari menjadi bagian dari perjalanan terakhir keluarga mereka.
Mereka datang bersama Pak Ahmad Jayadi, Memorial Partner yang mereferensikan dan memperkenalkan Al Azhar Memorial Garden kepada keluarga. Saya kemudian mendampingi proses survei tersebut secara langsung.
Sebelum berkeliling, saya menawarkan dua pilihan: menggunakan kendaraan sendiri atau menaiki buggy untuk melihat kawasan. Mereka memilih buggy. Dari sanalah perjalanan pagi itu dimulai.
Ketika melewati bagian depan kawasan pemakaman, kami membaca doa ketika memasuki pemakaman. Saya menjelaskan bahwa salah satu hal yang indah dari ziarah adalah hadirnya doa dari kaum Muslimin untuk saudara-saudara mereka yang telah lebih dahulu berpulang.
Awalnya Mencari Tempat untuk Sekitar 8 Orang
Ketika saya bertanya berapa anggota keluarga yang ingin dipersiapkan, Pak Edy menyampaikan kebutuhan sekitar delapan orang. Namun mereka juga terbuka melihat kemungkinan yang lebih besar apabila menemukan pilihan yang cocok.
Karena itu, survei hari itu tidak langsung menuju satu unit. Kami melihat dan membandingkan beberapa alternatif agar keputusan benar-benar sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Perjalanan Dimulai dari Zona Miimauzaa
Pilihan pertama yang kami lihat berada di Zona Miimauzaa. Di sini keluarga melihat tipe Super Family B sebagai salah satu alternatif untuk kebutuhan makam keluarga.
Kami melihat posisi kavling, suasana lingkungan, akses menuju area makam, serta membicarakan bagaimana kebutuhan keluarga dapat disesuaikan dengan kapasitas kavling yang tersedia.
Pilihan tersebut menarik perhatian mereka. Namun Pak Edy dan Ibu Parida ingin melihat beberapa kemungkinan lain sebelum menentukan keputusan.
Melihat Royal Family di Zona Idilwiis
Perjalanan dilanjutkan menuju Zona Idilwiis. Di area ini kami melihat Royal Family sebagai alternatif apabila keluarga ingin menyiapkan kapasitas yang lebih besar.
Kami cukup lama berada di sana. Pertanyaan mulai semakin detail: tentang tipe kavling, kapasitas, harga, pilihan pembayaran, hingga perbedaan apabila pembayaran dilakukan secara tunai.
Sempat Berziarah ke Makam Hajime Kondo
Di tengah perjalanan, Pak Edy dan Ibu Parida juga ingin melihat salah satu makam yang belakangan dikenal banyak masyarakat: makam almarhum Hajime Kondo.
Kami singgah sejenak. Bukan sekadar melihat tipe dan penataan makam, tetapi juga mendoakan almarhum. Momen ini membuat perjalanan survei terasa berbeda. Di kawasan pemakaman, pembicaraan tentang perencanaan keluarga selalu bersinggungan dengan kenyataan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.
Mencari sampai Menemukan yang Benar-Benar Cocok
Perjalanan belum selesai. Kami melanjutkan survei ke beberapa zona lainnya. Inilah salah satu manfaat melihat lokasi secara langsung: pilihan yang terlihat cocok di atas kertas belum tentu menjadi pilihan yang paling nyaman setelah keluarga melihat sendiri suasana dan posisinya.
Qoronful
Kami melihat kemungkinan Super Family A. Pilihan di area tersebut sangat terbatas, sehingga sulit mendapatkan konfigurasi unit berdampingan sesuai kebutuhan keluarga.
Zanbaqoh
Kami kemudian melihat alternatif untuk kapasitas sekitar delapan orang. Pilihan ini sempat menarik perhatian karena lokasinya relatif dekat dengan area yang sebelumnya mereka sukai.
Wardah
Alternatif berikutnya adalah beberapa kavling Single yang dapat disusun untuk kebutuhan keluarga. Setelah melihat langsung kondisi area dan walkway, keluarga merasa pilihan tersebut belum menjadi yang paling sesuai.
Zahratun
Dari sinilah muncul alternatif lain: menggunakan kavling Family A yang masing-masing memiliki kapasitas empat makam. Beberapa unit yang berdekatan masih dapat dipertimbangkan, sehingga keluarga bisa memilih antara kapasitas delapan atau mempersiapkan lebih banyak sekaligus.
Setelah melihat berbagai alternatif, kami kembali berdiskusi. Pada akhirnya Pak Edy dan Ibu Parida memilih dua kavling Family A di Zona Zahratun, dengan total kapasitas untuk delapan makam.
Ternyata Keinginan Itu Sudah Ada Sekitar Lima Tahun
Justru setelah proses pemilihan hampir selesai, cerita yang paling menarik mulai terungkap.
Dalam percakapan kami, Ibu Parida bercerita bahwa keinginan memiliki makam di Al Azhar bukanlah keputusan yang baru muncul pagi itu. Keinginan tersebut sudah lama berada dalam pikiran suaminya.
Sekitar lima tahun, setiap kali keluarga membicarakan atau memiliki aset baru, Pak Edy kembali mengingat satu hal yang menurutnya belum dipersiapkan: tempat pemakaman keluarga.
Bahkan ketika melintas di sekitar Al Azhar Memorial Garden, keinginan untuk mampir, melihat, dan suatu hari memiliki kavling di sana sudah beberapa kali muncul.
Ada hubungan lain yang membuat cerita itu terasa lebih personal. Anak-anak Pak Edy dan Ibu Parida juga bersekolah di lingkungan Al Azhar. Dalam percakapan santai saat survei, kami sempat tersenyum membicarakan bagaimana nama Al Azhar ternyata telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga mereka.
“Saya Tidak Ingin Nanti Berjauhan dengan Istri”
Ada alasan lain yang jauh lebih personal.
Pak Edy berasal dari Makassar, sedangkan Ibu Parida memiliki latar keluarga dari Palembang. Ketika membicarakan kematian, muncul pertanyaan sederhana tetapi penting: jika suatu hari salah seorang berpulang, di mana akan dimakamkan?
Apakah kembali ke kampung halaman masing-masing? Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka kelak mudah datang berziarah? Dan apakah suami dan istri akhirnya harus dimakamkan berjauhan?
Pak Edy memiliki keinginan yang sederhana: ia ingin kelak dapat dimakamkan berdekatan dengan istrinya.
Pertimbangan itu kemudian berkembang. Mereka memiliki anak-anak, dan ada pula orang tua yang menjadi bagian dari rencana keluarga. Dari situlah kebutuhan delapan makam menjadi semakin masuk akal: mereka ingin memiliki satu tempat yang dapat menjadi titik ziarah keluarga.
Bukan karena berharap tempat itu segera digunakan. Justru sebaliknya, mereka berharap Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang. Tetapi ketika waktunya tiba, keluarga tidak lagi harus menentukan semuanya dalam keadaan panik dan berduka.
Setelah Punya Makam, Mengapa Justru Tersenyum?
Ada satu momen yang sangat berkesan ketika saya meminta Ibu Parida menceritakan perasaannya setelah keputusan itu dibuat.
Ia menjawab dengan ekspresi yang mungkin tidak dibayangkan banyak orang ketika berbicara tentang makam: ia tersenyum, tertawa, dan terlihat bahagia.
Bukan karena membicarakan kematian adalah sesuatu yang menyenangkan. Rasa lega itu muncul karena satu keinginan lama suaminya akhirnya dapat diwujudkan. Allah memberikan kemampuan, dan sebuah urusan penting keluarga akhirnya telah dipersiapkan.
Mempersiapkan Makam Tidak Selalu Berakhir dengan Ketakutan
Pengalaman Pak Edy dan Ibu Parida menunjukkan sisi lain dari perencanaan pemakaman. Ketika dibicarakan saat masih sehat, persiapan itu justru dapat menghadirkan rasa lega.
Tidak ada keputusan yang harus dibuat dalam hitungan jam. Tidak ada kepanikan mencari tempat. Suami dan istri dapat melihat bersama, bertanya, membandingkan, lalu menentukan pilihan dengan pikiran yang jernih.
Dengarkan Langsung Cerita Pak Edy dan Ibu Parida
Cerita ini tidak hanya terdokumentasi melalui foto. Setelah proses survei dan pemilihan kavling, kami juga merekam percakapan bersama Pak Edy dan Ibu Parida mengenai alasan mereka mempersiapkan makam keluarga dan bagaimana perasaan mereka setelah keputusan dibuat.
5 Tahun Ingin Punya Makam di Al Azhar, Akhirnya Terwujud
Dengarkan langsung kisah dan pengalaman Pak Edy dan Ibu Parida setelah memilih kavling makam keluarga di Al Azhar Memorial Garden.
Dari Survei Menjadi Sebuah Keputusan Keluarga
Setelah perjalanan panjang melihat beberapa zona dan membandingkan berbagai alternatif, kami kembali ke area layanan untuk menyelesaikan proses administrasi.
Pak Edy dan Ibu Parida akhirnya menetapkan pilihan pada dua kavling Family A di Zona Zahratun. Masing-masing Family A memiliki kapasitas empat makam sehingga dua kavling tersebut dipersiapkan untuk total delapan anggota keluarga.
Bukan Sekadar Dua Kavling
Hari itu yang diputuskan bukan sekadar pembelian dua kavling Family A.
Sebuah keluarga sedang menentukan satu tempat yang kelak dapat menjadi titik pulang bersama—tempat suami dan istri dapat beristirahat berdekatan dan anak-anak mengetahui ke mana mereka datang ketika ingin berziarah dan mendoakan orang tuanya.
Semoga Allah memberikan Pak Edy, Ibu Parida, dan seluruh keluarga kesehatan, umur yang panjang dan berkah, serta kesempatan memperbanyak amal sebelum waktu kepulangan itu tiba.
Sebuah Pelajaran dari Perjalanan Pagi Itu
Pendampingan keluarga seperti ini kembali mengingatkan saya bahwa orang datang ke Al Azhar Memorial Garden dengan cerita yang berbeda-beda.
Ada yang mempersiapkan makam untuk orang tua. Ada pasangan yang ingin kelak tetap berada dalam satu area. Ada keluarga yang ingin anak-anaknya memiliki satu titik ziarah. Ada pula yang datang karena tidak ingin urusan pemakaman menjadi beban keluarga pada hari ketika mereka sedang kehilangan.
Karena itu, bagi saya pendampingan bukan sekadar menunjukkan nomor kavling atau menjelaskan harga.
Kita perlu mendengar kebutuhan keluarga, mengajak mereka melihat berbagai alternatif, menjelaskan perbedaannya, dan memberi ruang agar keputusan lahir dari pertimbangan yang tenang.
Itulah mengapa pengalaman Pak Edy dan Ibu Parida saya dokumentasikan sebagai bagian dari Jejak Pendampingan Zulhamdi. Bukan untuk sekadar mencatat sebuah transaksi, tetapi untuk merekam bagaimana sebuah keluarga mengambil keputusan penting tentang masa depan dengan sadar dan tenang.
Ingin Memahami Sebelum Memutuskan?
Setiap keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda. Sebelum menentukan pilihan, pelajari tipe kavling, proses survei, harga, dan pengalaman pendampingan keluarga lainnya.
Tidak Harus Langsung Membeli.
Datang dan Lihat Dahulu.
Seperti perjalanan Pak Edy dan Ibu Parida, survei memberi kesempatan kepada keluarga untuk melihat beberapa pilihan, bertanya, membandingkan zona dan tipe, kemudian mendiskusikannya dengan tenang sebelum mengambil keputusan.
