Jangan Sampai Orang yang Mengantar Kita Kesulitan Menjaga Adab Kubur
Pelajaran dari pemakaman Ustaz Jefri Al Buchori tentang besarnya cinta jamaah, kehormatan makam, dan pentingnya mempersiapkan tempat peristirahatan terakhir dengan baik.
Pada Jumat, 26 April 2013, Indonesia berduka. Ustaz Jefri Al Buchori, yang dikenal luas dengan panggilan Uje, wafat dan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya oleh ribuan orang.
Besarnya kecintaan masyarakat kepada beliau terlihat dari padatnya pelayat. ANTARA melaporkan ribuan orang memenuhi area pemakaman. Republika juga melaporkan mobil jenazah sempat sulit masuk karena jalan menuju lokasi dipadati pelayat.
Sumber berita: ANTARA — “Jenazah Ustad Jeffry disambut ribuan orang” dan Republika — laporan kepadatan pelayat di lokasi pemakaman.
Di tengah besarnya gelombang manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir itu, muncul sebuah keadaan yang patut menjadi pelajaran.
Republika melaporkan bahwa ramainya pelayat membuat makam-makam di sekitar pusara Uje rusak karena terinjak. Pihak pengelola TPU saat itu menyatakan akan memperbaiki makam-makam yang terdampak.
Baca sumber langsung: Republika — “Kuburan di Sekitar Makam Uje Rusak”, 26 April 2013.
Tidak ada yang datang dengan niat merusak. Mereka datang karena cinta. Mereka ingin mengantar. Mereka ingin mendoakan.
Namun ketika ribuan orang berkumpul di area pemakaman yang padat, ruang untuk bergerak menjadi terbatas. Orang yang datang dengan niat baik dapat berada dalam keadaan yang membuatnya sulit menghindari makam-makam di sekelilingnya.
Di sinilah kita belajar: mencintai almarhum juga berarti menjaga kehormatan makam orang lain.
Cinta kepada Almarhum Harus Berjalan Bersama Adab
Islam mengajarkan penghormatan kepada manusia bukan hanya ketika ia hidup. Kuburan seorang Muslim memiliki kehormatan yang harus dijaga.
“Sekiranya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan.”
HR. MuslimPesannya sangat kuat. Ziarah bukan hanya tentang datang dan membaca doa. Ada adab yang harus dijaga: tidak duduk di atas makam, tidak merusaknya, dan sebisa mungkin tidak menjadikan area makam orang lain sebagai jalur untuk berjalan.
Persoalannya kemudian menjadi sangat praktis: bagaimana jika puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang datang sekaligus, sementara akses menuju makam sangat terbatas?
Semakin Banyak Orang yang Mengenal Kita, Semakin Penting Memikirkan Akses Pemakaman
Pelajaran ini relevan bagi ulama, tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha, dokter, profesional, pemimpin organisasi, public figure, pemilik perusahaan, leader komunitas, maupun siapa pun yang memiliki keluarga besar dan jaringan sosial yang luas.
Jika suatu hari Allah memanggil, mungkin akan ada banyak orang yang ingin datang untuk mengantar dan mendoakan.
Apakah tempat yang kita pilih membantu keluarga dan para pelayat mengantar kita dengan tertib tanpa harus mengganggu makam yang lain?
Walkway Bukan Sekadar Fasilitas
Jalan setapak atau walkway mungkin tampak seperti bagian kecil dari sebuah kawasan pemakaman. Tetapi bila dilihat dari sudut pandang adab, nilainya jauh lebih besar.
Walkway menyediakan jalur yang jelas untuk keluarga dan peziarah. Mereka tidak perlu mencari pijakan di antara pusara, melangkahi makam, atau menggunakan area makam orang lain sebagai jalan menuju pusara keluarga.
Karena itu, ketika memilih tempat peristirahatan terakhir, pertanyaannya sebaiknya tidak berhenti pada: “Di mana saya akan dimakamkan?”
Kita juga perlu bertanya: bagaimana pasangan, anak-anak, cucu, sahabat, jamaah, dan orang-orang yang mengenal kita kelak akan datang berziarah?
Persiapan Makam adalah Bagian dari Ikhtiar Menjaga Syariah
Kematian berada dalam ketetapan Allah. Tetapi mempersiapkan kebutuhan yang pasti akan muncul adalah bagian dari ikhtiar manusia.
Persiapan makam memberi kesempatan kepada keluarga untuk memahami lokasi, akses, tata kawasan, proses pemakaman, dan pengelolaannya ketika pikiran masih jernih dan keadaan masih tenang.
Ketika waktunya tiba, keluarga dapat lebih fokus menjalankan kewajiban terhadap jenazah dan mengantarkannya dengan baik, tanpa harus memulai semua keputusan dari nol dalam waktu yang sangat sempit.
Al Azhar Memorial Garden dan Nilai Tata Pemakaman yang Terencana
Salah satu nilai yang dapat dipertimbangkan dari Al Azhar Memorial Garden di Karawang adalah tata kawasan pemakamannya.
Area makam ditata dengan akses dan walkway sehingga keluarga serta peziarah memiliki jalur berjalan yang jelas. Hal ini membantu orang datang berziarah dengan lebih tertib sekaligus membantu menjaga kehormatan makam lainnya.

Manfaat tersebut tidak hanya terasa pada hari pemakaman. Anak-anak akan datang. Cucu-cucu mungkin datang. Sahabat dan jamaah dapat berziarah bertahun-tahun kemudian.
Maka memilih tempat peristirahatan terakhir juga berarti memikirkan adab orang-orang yang kelak datang mendoakan kita.
Pelajaran dari Pemakaman Uje
Kisah pemakaman Uje tidak perlu kita gunakan untuk menyalahkan siapa pun. Justru peristiwa itu memperlihatkan betapa besar cinta umat kepada seorang tokoh dan betapa rumitnya keadaan ketika ribuan manusia berkumpul di area pemakaman dalam waktu bersamaan.
Liputan6 pada hari yang sama juga melaporkan bahwa ribuan orang berkerumun di sekitar pusara dan sempat terjadi aksi saling dorong ketika jenazah dibawa menuju liang lahat.
Sumber tambahan: Liputan6 — “Gema Tahlil Lepas Uje ke Peristirahatan Terakhir”.
Dari peristiwa itu kita mendapatkan satu pelajaran sederhana: persiapan makam tidak hanya berkaitan dengan diri kita.
Ia juga berkaitan dengan pasangan, anak, keluarga, jamaah, sahabat, dan siapa pun yang kelak ingin datang mendoakan.
Jangan sampai orang-orang datang dengan niat baik, tetapi keadaan membuat mereka kesulitan menjaga adab terhadap makam orang lain.
Persiapkan ketika keadaan masih tenang. Pelajari tempatnya. Lihat aksesnya. Perhatikan tata kawasannya. Diskusikan bersama keluarga.
Karena perencanaan makam bukan sekadar memilih tempat untuk dikuburkan.
Ia juga bagian dari ikhtiar menjaga syariah, menjaga kehormatan sesama Muslim, dan memudahkan keluarga mengantarkan serta mendoakan kita dengan cara yang baik.
Pastikan Tempat Peristirahatan Terakhir Juga Memudahkan Keluarga Menjaga Adab
Pelajari tata kawasan, walkway, pilihan kavling, proses pemakaman, dan survei Al Azhar Memorial Garden sebelum mengambil keputusan bersama keluarga.

