ziarah-bawa-payung

Ketika Liang Lahat Tergenang Air: Pelajaran tentang Memilih Tempat Pemakaman

Suasana prosesi pemakaman keluarga
Pada hari duka, keluarga membutuhkan ketenangan untuk mengantarkan orang yang dicintai.
Serial Kisah Keluarga • 7 dari 12

Pagi Selepas Subuh, Telepon Itu Datang

Sebuah kisah nyata tentang seorang anak yang kehilangan ibu dan ayahnya dalam jarak sekitar dua pekan—dan sebuah pengalaman pemakaman yang mengubah cara keluarganya memandang persiapan makam.

Sebuah Kisah Nyata Keluarga

“Ustaz, Saya Mau Minta Bantuan…”

Pagi itu, tidak lama setelah shalat Subuh, telepon saya berdering.

Yang menghubungi adalah salah seorang jamaah haji yang dahulu pernah saya bimbing. Dengan hati-hati ia berkata, “Ustaz, izin pagi-pagi mengganggu. Saya mau minta bantuan.”

Malam sebelumnya, ayah dari salah seorang temannya meninggal dunia. Pagi itu keluarga harus segera mencari tempat pemakaman. Tetapi sang anak mempunyai satu permintaan yang tegas: ia tidak ingin ayahnya dimakamkan di dekat makam ibunya.

Saya bertanya, mengapa?

Ternyata baru sekitar dua pekan sebelumnya, ibunya meninggal dunia dan dimakamkan di salah satu TPU di sekitar Ancol. Hari pemakaman itu meninggalkan pengalaman yang sangat membekas.

Ketika liang lahat digali, air mulai keluar dari dalam tanah. Penggalian dilanjutkan, tetapi air terus muncul dan menggenangi liang.

Air dicoba dikeluarkan dengan ember. Dibuang, lalu keluar lagi. Sementara jenazah sang ibu sudah menunggu untuk dimakamkan. Akhirnya proses pemakaman tetap dilanjutkan ketika liang masih dalam kondisi berair.

Kain kafan putih yang membungkus tubuh sang ibu terkena air dan tanah. Sang anak melihat semuanya.

Ia menangis. Di tengah duka kehilangan seorang ibu, pemandangan itu menjadi kenangan yang sulit dilepaskan.

Dua Pekan Kemudian, Ayahnya Berpulang

Luka kehilangan ibu mungkin belum sempat pulih. Kini ayahnya menyusul. Dan satu keinginan segera muncul dalam hati sang anak: “Saya tidak ingin Bapak mengalami seperti Ibu.”

Keputusan Harus Diambil Hari Itu

Dalam Duka, Keluarga Tidak Punya Banyak Waktu

Melalui jamaah yang menghubungi saya selepas Subuh, keluarga kemudian meminta bantuan agar sang ayah dapat dimakamkan di Al Azhar Memorial Garden.

Bayangkan keadaan sang anak. Baru dua pekan kehilangan ibu. Sekarang ayahnya berpulang. Dalam keadaan seperti itu ia kembali harus memikirkan tempat pemakaman, kavling, administrasi, biaya prosesi, dan berbagai keputusan yang harus selesai dalam waktu singkat.

Alhamdulillah, proses dapat dibantu. Keluarga memilih dan melunasi kavling makam serta menyelesaikan biaya prosesi. Ketika saya tanyakan kapan jenazah akan dibawa, jawabannya kurang lebih, “Insya Allah setelah Zuhur, sekitar jam dua.”

Siang itu keluarga datang ke Al Azhar Memorial Garden. Sang ayah kemudian dimakamkan dengan tertib dan tenang. Di tengah kesedihan yang belum hilang, setidaknya keluarga dapat memusatkan perhatian pada doa dan penghormatan terakhir kepada ayah mereka.

Cerita Itu Belum Selesai

“Ustaz, yang di Sebelah Makam Bapak Ini Masih Kosong?”

Setelah prosesi selesai, sang anak melihat kavling di sebelah makam ayahnya.

Ia bertanya kepada saya, “Ustaz, yang di sebelah Bapak ini masih kosong?”

Saya jawab, “Iya, masih kosong.”

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat kisah hari itu terasa semakin dalam.

“Saya ambil yang ini juga untuk Ibu saya.”

Kavling di sebelah ayahnya kemudian disiapkan untuk sang ibu. Ia menyampaikan niat bahwa kelak, setelah waktu dan prosesnya memungkinkan, makam ibunya akan direlokasi ke sana.

Agar Ayah dan Ibu kelak berada di tempat yang telah dipersiapkan keluarga.

Dalam waktu sekitar dua pekan, seorang anak kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Tetapi dari pengalaman yang berat itu lahir sebuah keputusan: ia tidak ingin kembali menghadapi pemakaman orang tuanya tanpa persiapan.

Renungan untuk Kita

Ada Hal yang Lebih Penting daripada Sekadar Harga Makam

01

Waktu Tidak Banyak

Ketika seseorang wafat, keluarga tidak mempunyai waktu berhari-hari untuk mencari dan membandingkan tempat pemakaman.

02

Hati Sedang Berduka

Keputusan besar justru harus dibuat ketika pikiran keluarga sedang tidak berada dalam keadaan paling tenang.

03

Persiapan Mengurangi Kepanikan

Mengetahui lokasi, proses, pilihan kavling, dan perkiraan biaya sejak awal dapat membuat keluarga lebih siap.

Bukan untuk Menakut-nakuti

Kisah Ini Bukan Gambaran Semua TPU

Kondisi tanah, air, fasilitas, dan lingkungan pemakaman tentu berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Pengalaman di atas adalah kisah nyata satu keluarga, bukan pernyataan bahwa semua TPU mempunyai kondisi yang sama.

Namun ada pelajaran yang layak direnungkan: beberapa hal terasa sangat penting justru setelah keluarga mengalaminya sendiri.

Jika Suatu Hari Ayah atau Ibu Berpulang, Apakah Kita Sudah Tahu Harus ke Mana?

Apakah tempatnya sudah diketahui? Apakah keluarga pernah melihat lokasinya? Apakah proses dan biayanya sudah dipahami? Ataukah semua pertanyaan itu baru akan kita jawab pada pagi ketika telepon duka datang?

Tidak ada seorang anak yang ingin kehilangan orang tuanya. Kita semua berharap Allah memberikan Ayah dan Ibu umur panjang dalam kesehatan, ketaatan, dan keberkahan.

Tetapi mempersiapkan bukan berarti mengharapkan kematian.

Mempersiapkan berarti berusaha agar ketika ketetapan Allah itu akhirnya datang, keluarga tidak harus menghadapi kesedihan sekaligus kebingungan.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang jarang dibicarakan: menyiapkan sesuatu ketika kita masih tenang, agar orang-orang yang kita cintai tidak harus memikirkannya dalam kepanikan pada hari duka.

Bila Ingin Mulai Menghitung

Tidak Harus Langsung Membeli. Mulailah dengan Memahami Pilihannya.

Cicilan 12X

Lihat gambaran pembayaran sesuai informasi yang berlaku.

Lihat simulasi →
Cash Keras 7 Hari

Pelajari simulasi pelunasan lebih cepat.

Lihat simulasi →
Tunai 14 Hari

Bandingkan alternatif pembayaran tunai.

Lihat simulasi →

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *