“Ah… Terserah Nanti yang Hidup Saja Ngurusin Kalau Saya Mati” — Benarkah Sesederhana Itu?
Bukan untuk menakut-nakuti tentang kematian, tetapi untuk mengajak keluarga berpikir: adakah urusan yang dapat kita rapikan hari ini agar orang-orang yang kita cintai kelak lebih tenang?
“Ah… kalau saya meninggal nanti, terserah anak-anak saja. Yang hidup kan mereka. Biar mereka yang mengurus.”
Kalimat seperti ini terdengar sederhana. Bahkan sekilas terdengar masuk akal.
Bukankah ketika seseorang meninggal dunia, memang keluarga yang masih hiduplah yang akan memandikan, mengafani, menyalatkan, mencari tempat pemakaman, mengurus administrasi, mengantar jenazah, dan menyelesaikan segala sesuatu?
Benar.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita renungkan:
Kalau sebagian urusan itu bisa kita persiapkan ketika masih sehat, mengapa semuanya harus kita tinggalkan menjadi keputusan orang-orang yang sedang berduka?
Inilah yang perlu kita bicarakan dengan tenang. Bukan untuk menakut-nakuti. Bukan pula karena seseorang berharap kematian segera datang. Justru karena kita mencintai keluarga yang suatu hari akan kita tinggalkan.
Kita Mempersiapkan Hampir Semua Hal dalam Kehidupan
Coba perhatikan perjalanan hidup kita. Ketika anak akan masuk sekolah, kita mencari sekolah jauh-jauh hari. Ketika akan menikah, persiapannya bisa berbulan-bulan. Ketika membeli rumah, kita mempertimbangkan lokasi, legalitas, lingkungan, harga, akses jalan, dan kenyamanannya.
Ketika hendak berangkat haji atau umrah, paspor, visa, tiket, hotel, koper, obat-obatan hingga pakaian ihram dipersiapkan. Bahkan untuk perjalanan beberapa hari saja, kita membuat begitu banyak persiapan.
Namun ada satu perjalanan yang pasti akan ditempuh setiap manusia, tetapi sering kali justru tidak ingin dibicarakan: kematian.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
QS. Ali ‘Imran: 185“Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”
QS. Luqman: 34Karena kita tidak mengetahui waktunya, bukan berarti kita tidak boleh melakukan persiapan. Justru ketidakpastian itulah yang seharusnya membuat seorang Muslim hidup dengan kesiapan.
Persiapan Bukan Berarti Mengharapkan Kematian
Di sinilah sering terjadi kekeliruan cara berpikir. Ada orang yang merasa: “Jangan ngomongin makam dulu. Seperti mendoakan cepat meninggal saja.”
Padahal mempersiapkan sesuatu bukan berarti berharap sesuatu itu segera terjadi. Membuat surat wasiat bukan berarti ingin segera meninggal. Membayar utang bukan berarti merasa besok akan meninggal. Mengajarkan kepada keluarga bagaimana menyelesaikan kewajiban kita bukan berarti pesimis terhadap kehidupan.
Demikian pula memikirkan bagaimana kelak pemakaman kita ditangani. Itu adalah bagian dari ikhtiar dan tanggung jawab, bukan menentukan kapan kematian datang. Kematian tetap berada sepenuhnya dalam ketetapan Allah.
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
HR. Tirmidzi dan lainnyaMengingat kematian dalam Islam bukan ajaran untuk menjadi murung. Sebaliknya, kesadaran tentang kematian seharusnya membuat kehidupan menjadi lebih tertata, lebih bermakna, dan lebih bertanggung jawab.
“Bukankah Nanti Anak-anak yang Mengurus?”
Ya. Secara praktik, keluarga yang hidup memang akan mengurus jenazah. Namun persoalannya bukan sekadar siapa yang mengurus. Pertanyaannya adalah: dalam kondisi seperti apa mereka harus mengurusnya?
Bayangkan sebuah keluarga baru saja kehilangan ayahnya. Beberapa jam sebelumnya mereka mungkin masih berbicara dengannya. Tiba-tiba ayah meninggal. Ibu menangis. Anak-anak terpukul. Saudara mulai berdatangan. Telepon tidak berhenti berbunyi.
Di tengah suasana itu, mereka harus mengambil berbagai keputusan: di mana akan dimakamkan, apakah tersedia lahannya, bagaimana administrasinya, siapa yang harus dihubungi, berapa biaya yang harus disiapkan, bagaimana transportasi jenazah, dan bagaimana jika keluarga berbeda pendapat mengenai lokasi.
Semua keputusan tersebut mungkin harus diselesaikan hanya dalam hitungan jam—ketika hati sedang berduka.
Maka pertanyaannya berubah: bukan lagi “Nanti siapa yang mengurus saya?”, tetapi “Apa yang bisa saya persiapkan sekarang agar ketika waktunya tiba, keluarga saya tidak harus memikul semua keputusan itu dalam keadaan kehilangan?”
Untuk memahami apa saja yang akan dihadapi keluarga ketika kematian terjadi, baca panduan Proses Pemakaman A–Z.
Jangan Wariskan Kebingungan Jika Kita Bisa Mewariskan Ketenangan
Orang tua bekerja puluhan tahun untuk anak-anaknya. Membelikan rumah, menyediakan pendidikan, menyiapkan tabungan, mewariskan aset, membangun usaha. Bahkan sebagian orang menyiapkan pembagian warisan dengan sangat rapi agar kelak anak-anak tidak bertengkar.
Semua itu dilakukan karena satu alasan: kita ingin anak-anak baik-baik saja setelah kita tiada.
Lalu mengapa urusan yang hampir pasti menjadi urusan pertama mereka setelah kita meninggal justru tidak pernah dibicarakan?
Ini bukan semata persoalan uang. Ini tentang mengurangi beban keputusan.
Kadang-kadang bentuk kasih sayang terbesar bukanlah apa yang kita tinggalkan untuk keluarga, tetapi beban apa yang tidak perlu kita tinggalkan kepada mereka.
Kisah-kisah keluarga yang mengambil keputusan ketika masih sehat dapat dibaca pada halaman Jejak Pendampingan Zulhamdi. Halaman tersebut mendokumentasikan proses survei, edukasi, pertimbangan, hingga pendampingan keluarga secara nyata.
Islam Mengajarkan Kesiapan, Bukan Kelalaian
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”
QS. Al-Hasyr: 18Konteks utama ayat ini tentu jauh lebih besar daripada persoalan pemakaman. Ia berbicara tentang bekal seorang hamba untuk akhirat. Namun prinsip besarnya sangat kuat: seorang mukmin bukanlah orang yang hidup tanpa persiapan.
Bekal terpenting untuk kematian tetaplah iman, tauhid, amal saleh, taubat, penyelesaian utang, hak manusia, dan hubungan yang baik dengan Allah. Itulah prioritasnya.
Persiapan teknis pemakaman tidak pernah menggantikan bekal tersebut. Tetapi keteraturan dalam urusan dunia yang akan dihadapi keluarga juga bukan sesuatu yang bertentangan dengan tawakal.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Agar Urusan Penting Tidak Dibiarkan Menggantung
“Tidak selayaknya seorang Muslim yang mempunyai sesuatu yang hendak diwasiatkan melewati dua malam kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya.”
HR. Bukhari dan MuslimHadis ini bukan dalil bahwa setiap Muslim wajib membeli tempat pemakaman sebelumnya. Bukan itu maksudnya.
Namun hadis tersebut menunjukkan sebuah karakter penting dalam kehidupan seorang Muslim: urusan penting jangan sengaja dibiarkan menjadi kekacauan setelah kita meninggal.
Utang dicatat. Amanah dijelaskan. Wasiat yang dibenarkan syariat dituliskan. Dokumen penting diberitahukan kepada keluarga. Hak orang lain diselesaikan. Dan jika seseorang merasa perlu, rencana pemakaman pun dapat dibicarakan bersama keluarga.
Lalu, Apakah Membeli Kavling Makam Sebelum Meninggal Itu Wajib?
Tidak.
Ini penting ditegaskan. Jangan sampai edukasi mengenai persiapan pemakaman berubah menjadi kesan bahwa setiap Muslim diwajibkan memiliki kavling makam sejak hidup.
Syariat tidak menetapkan kewajiban seperti itu. Banyak keluarga memilih mengurus pemakaman ketika anggota keluarganya wafat, dan itu tetap dapat dilakukan dengan baik.
Karena itu, memiliki atau menyiapkan tempat pemakaman sebelumnya harus ditempatkan secara proporsional: sebagai pilihan ikhtiar dan perencanaan keluarga, bukan sebagai ukuran keimanan seseorang.
Jika seseorang mempunyai kemampuan, mempunyai preferensi tertentu mengenai tempat pemakaman, menginginkan keluarganya kelak berada dalam satu kawasan, atau ingin mengurangi keputusan mendadak yang harus dihadapi anak-anaknya, hal itu dapat dipertimbangkan selama sesuai syariat, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan mudarat.
Untuk pembahasan yang lebih khusus mengenai nilai di balik keputusan tersebut, baca Membeli Kavling Makam Bukan Sekadar Transaksi.
Tawakal Bukan Berarti Tidak Merencanakan
Ada pula ungkapan: “Sudahlah, tawakal saja kepada Allah. Nanti pasti ada jalannya.” Benar, kita harus bertawakal. Tetapi tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar.
Kita mengunci rumah, lalu bertawakal. Kita berobat ketika sakit, lalu bertawakal. Kita menabung untuk pendidikan anak, lalu bertawakal. Kita mempersiapkan perjalanan haji, lalu bertawakal.
Demikian pula dalam urusan akhir kehidupan. Merencanakan tidak mengurangi tawakal. Selama hati tetap bergantung kepada Allah, perencanaan justru dapat menjadi bagian dari tanggung jawab.
Ada yang Jauh Lebih Penting daripada Menyiapkan Makam
Jangan sampai seseorang mempunyai tempat pemakaman yang sudah dipersiapkan dengan sangat baik, tetapi justru melupakan persiapan yang jauh lebih penting.
Sebab ketika jenazah telah diletakkan di dalam kubur, bukan harga tanah yang menjadi bekalnya. Bukan nama kawasan. Bukan indahnya pemandangan. Bukan pula status sosialnya ketika hidup. Yang menyertainya adalah amal.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tiga perkara mengikuti jenazah: keluarga, harta, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap menyertainya.
HR. Bukhari dan MuslimKarena itu, persiapan kematian harus dimulai dari hal-hal yang paling mendasar: taubat, salat, penyelesaian utang, amanah, meminta maaf atas kezaliman, menyambung silaturahmi, wasiat yang sesuai syariat, kehalalan harta, serta pendidikan iman bagi anak-anak.
Setelah itu, jika kita mempunyai kemampuan, tidak ada salahnya pula menata urusan praktis yang kelak akan mereka hadapi.
Persiapan Pemakaman Bukan Tentang Kematian Saja
Sesungguhnya pembicaraan tentang pemakaman justru banyak berbicara tentang kehidupan orang yang kita tinggalkan.
Tentang seorang istri yang tidak perlu mencari tempat makam suaminya sambil menangis. Tentang anak-anak yang tidak harus berdebat menentukan lokasi. Tentang keluarga yang sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Tentang keputusan penting yang telah dibicarakan ketika semua orang masih sehat dan tenang.
Maka persiapan seperti ini bukan sekadar: “Saya mau dimakamkan di mana?” Pertanyaannya jauh lebih dalam: “Bagaimana saya ingin meninggalkan keluarga ketika saat itu datang?”
Dari “Terserah Nanti” Menjadi “Sudah Saya Persiapkan”
Bayangkan perbedaan dua kalimat.
Bandingkan dengan:
Keduanya sama-sama berbicara tentang kematian. Tetapi nuansanya sangat berbeda. Yang satu meninggalkan keputusan. Yang satu meninggalkan ketenangan.
Dan mungkin suatu hari, ketika kita benar-benar sudah tidak bisa berbicara lagi, persiapan kecil yang pernah kita lakukan itulah yang terasa seperti pesan terakhir: “Ayah dan Ibu masih memikirkan kalian, bahkan untuk hari ketika kami sudah tidak bersama kalian.”
Lalu, Apa yang Sebaiknya Dipersiapkan?
Tidak harus dimulai dengan membeli sesuatu. Mulailah dengan percakapan keluarga.
Bicarakan dengan pasangan dan anak-anak mengenai keinginan jika suatu hari Allah memanggil. Pastikan keluarga mengetahui dokumen penting. Catat utang dan piutang. Selesaikan amanah. Tuliskan wasiat yang diperlukan sesuai ketentuan syariat. Pastikan keluarga mengetahui siapa yang perlu dihubungi. Pelajari tata cara pengurusan jenazah.
Jika keluarga memang ingin mempersiapkan tempat pemakaman sebelumnya, pelajari dengan tenang: pengelolaannya, ketentuan syariatnya, mekanisme penggunaannya, akses keluarga untuk berziarah, proses pemakaman, dan keseluruhan biaya yang perlu diketahui.
Jangan membeli karena takut. Jangan memutuskan karena tekanan. Pelajari, tanyakan, survei lokasi, musyawarahkan bersama keluarga, lalu putuskan dengan tenang.
Al Azhar Memorial Garden sebagai Salah Satu Pilihan Persiapan Keluarga
Bagi keluarga Muslim yang ingin mempersiapkan pemakaman sejak dini, Al Azhar Memorial Garden di Karawang merupakan salah satu pilihan yang dapat dipelajari dan disurvei terlebih dahulu.
Kawasan ini menyediakan beberapa pilihan kavling untuk kebutuhan individu maupun keluarga. Calon konsumen tidak perlu mengambil keputusan hanya berdasarkan brosur atau percakapan melalui WhatsApp.
Langkah yang lebih baik adalah datang dan melihat sendiri: perhatikan kawasannya, pelajari pilihan kavlingnya, tanyakan proses pemakamannya, pelajari informasi harga dan biaya, diskusikan bersama pasangan dan anak, kemudian ambil keputusan tanpa tergesa-gesa.
Karena keputusan mengenai persiapan akhir kehidupan seharusnya lahir dari ilmu, musyawarah, kemampuan, dan ketenangan.
Jangan Mempersiapkan Makam karena Takut Mati
Ini mungkin pesan terpenting dari seluruh pembahasan ini.
Jangan mempersiapkan makam karena takut mati. Persiapkan diri karena sadar bahwa kita akan kembali kepada Allah.
Dan jika mempersiapkan tempat pemakaman dapat membantu keluarga, lakukan sebagai bentuk tanggung jawab dan kasih sayang.
Kematian tidak menjadi lebih dekat karena kita membicarakannya. Dan kematian tidak menjadi lebih jauh karena kita menghindari pembicaraan tentangnya.
Waktunya telah berada dalam ilmu dan ketetapan Allah. Yang berada dalam pilihan kita hanyalah bagaimana kita menjalani kehidupan sebelum waktu itu tiba.
Mungkin Bukan “Terserah Nanti”
Suatu hari nanti, semua yang hari ini kita miliki akan berpindah tangan. Rumah akan ditempati orang lain. Mobil akan dikendarai orang lain. Rekening akan diwariskan. Jabatan akan digantikan. Nama kita perlahan hanya tinggal dalam ingatan keluarga.
Dan tubuh yang selama puluhan tahun kita rawat akhirnya akan dibaringkan di dalam tanah.
Kita tidak mengetahui kapan hari itu tiba. Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita umur panjang, kesehatan, keberkahan, dan kesempatan memperbanyak amal saleh.
Tetapi umur panjang dan persiapan kematian bukanlah dua hal yang bertentangan. Kita boleh berharap hidup panjang dalam ketaatan, sekaligus hidup dengan kesiapan untuk kembali kepada-Nya.
Maka mungkin kalimatnya tidak lagi: “Ah… terserah nanti yang hidup saja yang ngurusin kalau saya mati.”
Tetapi: “Selama Allah masih memberi saya kesempatan hidup, apa yang bisa saya rapikan hari ini agar kelak keluarga saya lebih tenang?”
Karena pada akhirnya, persiapan terbaik bukanlah tentang di mana kita dimakamkan. Persiapan terbaik adalah tentang dalam keadaan bagaimana kita menghadap Allah.
Sedangkan menata urusan yang akan dihadapi keluarga setelah kepergian kita adalah bagian lain dari kasih sayang: kasih sayang yang tetap terasa, bahkan ketika kita sudah tidak lagi bisa mengucapkannya.
Artikel ini ditulis oleh Zulhamdi M. Sa’ad, Lc. berdasarkan pengalaman edukasi dan pendampingan keluarga. Dokumentasi pendampingan lainnya tersedia di Jejak Pendampingan Zulhamdi.
Baca Juga Panduan untuk Keluarga
Pembahasan persiapan pemakaman dalam artikel ini merupakan edukasi dan perencanaan keluarga. Menyiapkan atau membeli kavling makam sebelum wafat bukan kewajiban syariat dan bukan ukuran ketakwaan seseorang. Untuk persoalan fikih yang bersifat khusus sesuai kondisi keluarga, berkonsultasilah dengan ustadz atau ahli fikih yang dipercaya.
Pelajari dengan Tenang, Musyawarahkan bersama Keluarga
Jika ingin memahami pilihan kavling, proses pemakaman, biaya, atau menjadwalkan survei Al Azhar Memorial Garden, pelajari informasinya terlebih dahulu tanpa tergesa-gesa.
Jadwalkan Survei Lokasi
